Terlalu Membekas (Fiksi)

“Malam, De. Aku mau nanya nih, dulu kamu nikah pake cincin palladium ya? Pesen dimana?”

Hah. Siapa nih malam-malam nanya soal cincin kawin. Cek foto profilnya ah. Serius dia?

***

“Aku berharap banget sih dia nikah sama orang yang nggak kita kenal. Serius, nggak siap bapernya. Siapapun dia pasti beruntung banget jadi istrinya.” ceritaku malam itu ke Hana.

“Hust… siapapun itu pasti beruntung kalo menikah, ketemu jodoh, udah digariskan dari sana-Nya.” Hana bernasehat.

***

“Malam… Wah ini kamu ya, ku pikir siapa. Apa kabar nih? Iya, nikah kemarin pake palladium, pesen di Surabaya.” aku membalas chat malam itu.

“Alhamdulillah kabar baik. Surabaya mana ya? Lama nggak ya prosesnya?” dia masih bertanya-tanya. Udah cenat cenut aja. Kayaknya doi mau nikah. Duh sama siapa? Plis semoga aku ngga kenal.

“Lumayan sih. Kamu mau nikah ya? Sama siapa?” langsung todong aja lah, penasaran.

“Berapa lama?” hassh dia ngga jawab pertanyaan aku.

“Ya kalo aku sih ada 3 bulanan, soalnya bolak balik revisi gitu. Kapan nih? Pasti banyak cewe-cewe yang baper lho.” pancing lagiii…

“Hahaha… doakan ya. Surabaya mana ya?”

“Daerah Juanda. Sama siapa sih? Penasaran nih, banyak yang baper aslik nanti.”

“Sama perempuan sini-sini aja.”

“Oh… semoga lancar ya niat baiknya, sehat terus buat keluarga juga.”

“Makasih banyak, De.”

***

Mimpi apa sih tiba-tiba doi inget aku. Antara kaget sama seneng. Untung, Mas Bram sedang piket malam. Nggak kebayang kalo doi chat malam-malam dan ada Mas Bram, bakalan nggak dapet peluk berapa malam nih. Surya, sepertinya dia akan menikah. Ah, aku harus berbahagia atau bergulana?

Surya bukan siapa-siapa, mantan juga bukan, bahkan sejak wisuda, ya itu adalah pertemuan terakhir kami. Pertemuan terakhir bukan berarti komunikasi terakhir. Setelah wisuda, sedikit banyak aku memahami perjalanannya menempuh studi berikutnya untuk karir yang diimpikannya, sebagai seorang Advokat.

“Apa rencana kamu setelah ini?” Tanyaku waktu itu.

“Aku mau lanjut S2 di Surabaya, sambil cari tempat magang lagi.”

“Kan kemarin sudah dari Jakarta, sekarang Surabaya. Cari apa sih? Cari jodoh ya. Hahaha”

“Hmmm.. menyelam sambil minum air, nggak salah kan?” Dia ketawa.

Obrolan yang receh, meski tidak tiap hari tapi selalu kurindukan saat itu. Saat aku sedang putus dari Mas Bram, Surya adalah teman obrolan yang menyenangkan namun dingin.

“Kamu nggak pengen nyusul ke Surabaya?” Pertanyaan yang ambigu untuk seorang pengagum sepertiku.

“Untuk apa?” Masih jaga image.

“Disini masih banyak diperlukan konsultan keuangan. Kamu bisa kuliah lagi disini, tempatku magang sedang butuh profesi seperti itu.”

Oh iya, tentang karir dan masa depan, bukan tentang kerinduan kepadaku. Cih memangnya siapa aku.

“Kamu cantik banget sekarang” chat dia waktu itu, mengagetkan. Dan, ada Mas Bram. Mas Bram hanya diam, menaruh handphoneku kembali dan pergi begitu saja. Mas Bram marah. Sejak saat itu, aku diminta untuk menghapus kontak Surya. Mas Bram serius akan menikahiku. Tentu aku menyambutnya. Mas Bram lebih dulu hadir dalam hidupku daripada Surya. Lagipula, mengharap Surya juga tidak mungkin. Dia terlalu dingin untuk ku, tidak sehumoris Mas Bram. Mas Bram terlalu cemburu kepada Surya, jelas saja karena Surya lebih indah dipandang oleh perempuan. Dia tampan, berkulit bersih, berhidung mancung ditambah akhir-akhir ini kulihat badannya semakin bagus saja. Perempuan mana yang tak kagum padanya?

Surya memuji atas perubahan hidupku yang memutuskan berhijab, tentu ada rasa senang. Memang beginilah tipe perempuan yang diinginkan Surya, karena ia sendiri tipe lelaki yang taat beribadah. “Kamu menghapus kontakku ya?” Dia masih berusaha menghubungiku waktu itu, sementara hubungan ku dengan Mas Bram semakin membaik dan rencana pernikahan itu sudah diketahui keluarga.

Malam ketika akad, Surya menghubungiku. Kamu menikah? Kok nggak kabar-kabar?. Aku sedang berbahagia. Tak ku artikan apa-apa pesannya saat itu. Aku hanya menjawab, doakan aja ya, hanya pesta sederhana. Setelah itu, ku tunjukkan pesan itu ke Mas Bram. Kami sedang berbahagia, pesan itu hanya angin lalu bagi Mas Bram, karena baginya, kini dialah suamiku. Hingga kemudian pesan di malam itu.

“Serius baper banget dia tiba-tiba Whatsapp soal cincin. Kira-kira dia bakal nikah sama siapa ya?” Pertanyaan yang jadi curhatan ku ke Hana, entah berapa kali pertanyaan itu terlontar.

***

“Han, cek facebook deh. Seriusan Surya sudah nikah. Gila baper banget nih aku. Ya ampun, dia menikah. Aduh aduh…”

“Iya beneran?”

“Ya ampun, Han, dia nanya soal cincin itu bener-bener ngabarin aku ya. Mendadak sedih deh.”

“Iya tuh, berarti dia secara ngga langsung ngasih tau kamu, buktinya nggak ada nih anak kampus yang kasih kabar ato dapat undangan”

“Iya ya, duh nambah baper aja. Kayaknya istrinya muda banget, fresh graduate deh. Ampun jadi stalking kan? Duh Surya menikah.”

Ya, tanpa sengaja aku melihat foto pernikahan Surya ada di facebook, sudah sebulan yang lalu. Tiba-tiba aku merasa sedih, sulit sekali rasanya ikut berbahagia. Beruntung sekali perempuan yang dipilihnya. Berbagai komunikasi yang pernah ada diantara aku dan Surya seperti terbuka kembali, terngiang-ngiang dikepala. Bagaimana dulu kami menghabiskan malam dengan telepon, karena ia sedang menempuh pendidikan di Jakarta. Bagaimana kami bercanda dijalanan tengah malam saat  ia mengantarku pulang.

“Percaya ato engga, kamu satu-satunya perempuan yang pernah aku bawa kerumah. Ibuku tadi kaget.”

“Serius? Cupu banget. Ngga pernah pacaran ya?” Aku ngakak dengar ceritanya malam itu, sekaligus merasa geer. Wow. Surya belum pernah bawa perempuan kerumahnya, padahal ada berapa banyak perempuan yang antri diluar untuk jalan dengannya. Kini aku disampingnya menembus malam, hanya untuk mengantarku pulang.

“Hati-hati ya ntar pulang. Kasih kabar woy sampai rumah. Oke?” Pesanku malam itu. Sampai jam 2 malam, aku menunggu kabarnya. Dia mengabariku, melanjutkan obrolan sampai entah jam berapa.

Kini, dia telah berbahagia, begitupula  denganku. Baginya mungkin aku bukanlah siapa-siapa. Tapi bagiku, Surya terlalu membekas. Bukan karena cerita kami yang tak pernah mulai atau berakhir begitu saja. Tapi karena ia pernah ada.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *