Resume Kulwap Memilih Sekolah – Imelda Hutapea

Bersyukurnya kita para Ibu-Ibu yang hidup di jaman Millenials ini. Dimana semua informasi gampang banget diperoleh, bahkan bersedia mematahkan mitos dan gaya-gaya pengasuhan jaman dulu dengan acuan sumber yang gampang diperoleh juga. Iya kan?

Kemudian juga ada kuliah-kuliah online yang bisa diikuti, entah webinar atau semacam kuliah lewat Whatsapp (Kulwap) mulai dari gratis, berbayar dan berlangganan. Sungguh hidup kita dimudahkan ya? Sambil goleran, pegang hape, ilmu nambah. Alhamdulillah~

Salah satunya yang kemarin baru saya ikuti yaitu Kulwap tentang Memilih Sekolah dari penulis buku dengan judul yang sama, Imelda Hutapea. Moderatornya dari Kediri, Bunda Ainul Luthfiana.

Kuliah online gini memang membutuhkan keluangan waktu kita, makanya pandai-pandai baca ritme hidup dan bersiap sama kenyataan yang tidak sesuai. Kayak saya nih, kenapa sanggup ikut kuliah online? Karena Marwa setiap jam 7 malam udah siap tidur, jam setengah 8 biasanya dia udah terlelap. Jadwal ini rutin sekali. Lebih dari itu, dia rewel. Lha kemarin? Agak meleset. Jam 8 dia baru mulai tidur. Jadi ya, ikut kuliah online nggak bisa aktif, memantau aja.

Saya bakal coba resume dikit ya, tentunya saya sesuaikan dengan umur anak saya sekarang, 15 bulan. Rasanya masih dini banget, lari aja belum, eh kok mikir sekolah. Hahaha. Tapi nggak bisa gitu ya, sejak memutuskan punya anak, apa-apa itu butuh perencanaan dan persiapan. Nggak bisa apa-apa spontan kayak bujang.

Memilih sekolah bukan hal yang sederhana, ada banyak aspek pertimbangan seperti kebutuhan anak, kemudahan akses, kesesuaian prinsip kita sebagai orang tua dan yang paling sensitif lagi, finansial. Pusing ya? Memang. Memutuskan memilih sekolah adalah sebuah aksi yang berdampak besar karena menyangkut motivasi, minat dan masa depan anak.

Sementara disisi lain, kita juga menyaksikan zaman telah berubah. Tekhnologi dan inovasi berkembang pesat, banyak kepraktisan dan kemudahan. Belanja online, pesan angkutan online, telepon ke luar negeri tanpa roaming, pindah duit cukup pake aplikasi dan banyak lagi pekerjaan yang telah digantikan mesin. Juga munculnya pekerjaan baru seperti Youtuber atau Content Creator.

Pusing boleh, khawatir juga nggak apa-apa, justru karena itulah kita harus semakin termotivasi untuk mempersiapkan anak menghadapi tantangan masa depan yang berbeda dengan zaman kita. Beberapa poin dibawah ini yang berhasil saya garis bawahi, menyesuaikan kondisi anak saya.

Prioritas dan Prinsip Dasar Memilih Sekolah

Prioritas memilih sekolah dimulai dari faktor internal alias “dapur” orang tua. Mulai dari visi orang tua maunya seperti apa, kemampuan anak (termasuk jarak tempuh sekolah – rumah) dan pastinya ketersediaan dana. Karena repot juga kalo kita atau anak memilih sekolah bagus tapi nggak sanggup membiayai. Atau kita sanggup membiayai, visinya oke sesuai dengan kita tapi anak merasa nggak suka. Nanti yang ada si anak nggak punya motivasi sekolah atau stres, kita juga yang repot kan?

Berikutnya, kita bisa mulai membuat daftar sekolah. Acuan lain yang bisa digunakan adalah memilih sekolah yang menumbuhkan. Sekolah yang menumbuhkan adalah sekolah yang menganggap potensi anak berharga dan harus diasah. Hal ini bisa kita ketahui dengan melakukan kunjungan ke daftar sekolah yang telah kita buat tadi, mengamati tampilan sekolah, melihat interaksi di sekolah dan melakukan diskusi dengan pihak sekolah.

Poin ini menurut saya berlaku sejak kita memutuskan jika anak mau PAUD, PAUD pun perlu memilih.

Mempersiapkan Anak

Nggak hanya tentang menyusui, selama 2 tahun pertama anak juga masa yang penting untuk kepribadiannya. Salah satunya menyediakan rasa aman. Anak mampu belajar jika dirinya merasa aman. Rasa aman akan menanamkan rasa percaya pada dunia sekitarnya dan menumbuhkan rasa percaya kepada dirinya sendiri. Rasa percaya diri pada anak akan menyiapkan dia menjadi pribadi yang fleksibel dan mampu menyesuaikan diri.

Menurut Attachment Theory Bowlby, 2 tahun pertama ini memang masa krusial dimana anak butuh satu figur untuk menjadi sandaran utamanya agar dia merasa dirinya berharga. Biasanya terdapat pada sosok Ibu.

Dari sini saya jadi paham bahwa mempersiapkan anak untuk bersekolah bisa dimulai sejak 0 tahun, utamanya urusan mental seperti ini. Kita bisa mulai menumbuhkan rasa aman dan percaya diri ini melalui interaksi sehari-hari. Bagaimana menemani dia bermain, merespon tangisan dan komunikasi-komunikasi lain, yang tentunya dengan sepenuh hati, bukan sambil main hape. Huhuhu.

Konsep PAUD = Bermain adalah cara belajar

Kalo saya mengamati PAUD ini ada pro dan kontra, ya. Beberapa orang tua tidak setuju, alasannya nggak mau menyekolahkan anak terlalu dini, nanti dia bosan. Beberapa lagi setuju, karena mempersiapkan dia ke TK dan SD utamanya urusan sosialisasi. Saya adalah bagian dari orang tua yang kontra akan PAUD. Hahaha.

Tapi dari Kulwap saya jadi paham sih, nggak apa-apa kalo mau masuk PAUD, asal konsepnya bener. Yaitu bermain adalah cara belajar. Kegiatan belajarnya harus berwujud bermain. Bisa dengan mengeksplor benda, bermain dengan boneka, berinteraksi dengan anak yang lain. Intinya menggunakan bahan dan melibatkan pancaindera. Karena di usia dini, yang menjadi asupan bagi otak anak adalah komunikasi dan interaksi saat main.

*yang sebenarnya bisa diwujudkan dirumah kan? (TETEUP)*

Jadi, apa saya jadi kepikiran buat masukin Marwa ke PAUD? Iya, kalo nemu PAUD yang konsepnya benar-benar seperti itu. Dari kulwap ini saya jadi tahu bahwa saat ini saya bisa mempersiapkan mental dia dengan memberi rasa aman supaya kepercayaan dirinya tumbuh. Sangat berharap ketika nanti dia sudah mulai memasuki sekolah, ada sekolah-sekolah yang sesuai kriteria saya dan suami juga kebutuhan Marwa. Tentunya sambil mempersiapkan finansialnya.

Mengutip closing statement dari Ibu Imelda Hutapea :

Kalau saya boleh tandaskan sedikit, kita perlu lebih teliti dalam memilih sekolah karena ini menyangkut bekal apa yang akan dipunyai anak kita saat selesai sekolah nanti.

Jadi sudah sepantasnya kita mau terus bersikap terbuka dan belajar memahami yaitu dengan melihat fenomena jaman sekarang yang banyak sekali perubahan kemudian membayangkan bahwa di masa depan, akan berbeda lagi tantangannya. Yang jelas kita perlu kritis mencari sekolah yang mengasah keterampilan buat masa depan tersebut yaitu: komunikasi, kreativitas, keterampilan berpikir dan kolaborasi.

Sebenarnya pembahasan Kulwap lebih dari 3 poin itu. Jika ada waktu saya akan resume lagi untuk sekolah diatas PAUD. Saya merasa beruntung sekali bisa ikut Kulwap gratis ini, meskipun cuma lewat hape dan durasi 2 jam tapi materi sangat padat. Jadi ketagihan lho. Hehehe.

Semoga resume saya bermanfaat 💝

You may also like

4 Comments

  1. Sepakat bahwa sekolah untuk anak itu harus dipersiapkan benar dan anak mengikutinya dengan antusias. Sebab, mau PAUD, TK B langsung tanpa TK A, begitu anak ketemu dengan kegiatan sekolah yg membuatnya ‘kaget’ sebagus apapun persiapan orangtua di rumah, tetap saja ada imbasnya pada anak.

    Keren kulwapnya.

    1. Betul sekali, Mba. Hal itu juga yg bikin aku penasaran ttg memilih sekolah, krn perlu persiapan jauh-jauh hari, bukan hanya utk orang tua tp jg untuk anak.

  2. Walah, baru tau kalau kulwap itu kuliah WhatsApp.. besok bisa jadi kulgram. Hehee.. konsep paud ternyata bermain ya.. saya kira konsep paud itu menitipkan anak 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *