Pertama Kali Traveling : Family Gathering

Bagaimana rasanya pertama kali traveling dengan batita? Seru dan capek, pasti!

Mulai darimana ya? Hmm… Jadi, beberapa waktu yang lalu, suami sakit karena terlalu capek, ditengah-tengah sakitnya, doi bilang, awal bulan ada acara kantor ke Jogja, beresin kerjaanmu, kosongin agendamu, pesennya. Aku diajakin jalan-jalan? Udah kebayang-bayang pastinya, udah prepare bawa apa aja. Mommy well-planned banget. Hahaha.

Seminggu kemudian, suami sembuh, ganti si kecil demam. Aduh, rencana jalan-jalan di godog lagi, berangkat-enggak-berangkat-engga. Oke, ngga berangkat, takut sakitnya berkepanjangan. Sembuh pun masih harus recovery. Dikubur dalem-dalem tuh angan-angan jalan-jalan, demi anak.

Anak sembuh, ceria dan aktif seperti biasa. Kemudian minta pertimbangan orangtua, berangkat ke Jogja nggak baiknya? Mereka bilang, berangkat aja. Posisi sudah H-3 keberangkatan. Baiklah, membulatkan tekad berangkat.

“Feelingmu gimana?” tanya suami. Bismillah aman, jawabku mantap.

Gedubrak gedubruk packing-packing, wira wiri sana sini siapin obat-obatan sambil sounding ke anak kalo kita mau jalan-jalan naik bus, ke Jogja, sama temen-temennya Ayah. Sounding sesering mungkin, sehabis mandi, mau tidur dan lain-lain.

***

Bagi kami, ini adalah perjalanan kami yang pertama sejak sah menjadi suami istri, ditambah bonus seorang batita. Karena nggak mungkin juga nggak bawa Marwa, dia masih ngempeng, tiap malam masih bobo sama aku dan Ayahnya. Dan, susah juga untuk nggak ikut acara kali ini, tahun lalu suami pergi sendirian karena Marwa masih bayi. Begitupula teman-temannya yang punya anak seumuran, sekarang anak-anak mereka sudah bisa diajak.

Sebenarnya, aku menyimpan kekhawatiran tersendiri bawa batita bepergian. Khawatir dia rewel ditengah jalan, mabuk perjalanan, dan gimana kalo poop dijalan. Karena acara liburan ini kan acara kantor, yang ngga se-fleksibel liburan mandiri, ngga bisa seenaknya menentukan jam istirahat dan mau makan dimana. Tapi, yaudah lah, siapin aja mentalnya, daripada nggak liburan, ya kan? Jadi, intinya liburan ini ada andil keegoisan orangtua yang butuh piknik. Hahaha. Yhaaa… kapan lagi liburan tanpa bayar? 😛

Mentalku sudah siap, percaya diri oke, anak rewel siap hadapi. Naik bus, si bocah clingak-clinguk beradaptasi. Dia pernah naik kereta, tapi baru pertama naik bus. Saat bus mulai jalan, “kok ndak bunyi kreta e?”, celetuknya. Baiklah, saatnya Ibu mengoceh jelasin tentang bus, kita mau kemana, sama siapa aja, nanti Marwa harus gimana, dan ketegangan dia pun berangsur menurun, terselamatkan oleh bus rombongan kita yang bergambar Hello Kitty. Hahaha. Pelan-pelan dia paham kalo kita akan bepergian jalan-jalan.

Menyusu dan Tidur

Soal menyusu ini jadi problema orang rumah, karena mereka paham sekali kalo Marwa punya kebiasaan menyusu sambil tidur. Dirumah dia ngga pernah mau menyusu sambil dipangku. Kalo dijalan, dia bakal sabar menunggu sampai dirumah, asal menyusu sambil tidur.

Bagaimana selama perjalanan? Ibu bersyukur sekali, Marwa mudah diajak komunikasi. Setelah dijelasin pelan-pelan kalo masih dijalan dan di bus, nggak bisa menyusu sambil bobo, dimana coba mau bobo? Akhirnya, dia setuju sambil pangku. Si Batita tidur pulas dipangkuan Ibu, dan si Ayah pulas di senderan Ibu. Ah, memang 2 bayik suka bau keringat Ibu ya 😛

Masjid Agung Klaten

Masjid ini jadi tempat pemberhentian pertama untuk istirahat sejenak sekaligus sholat Subuh. Karena Marwa sudah mulai nyaman dengan bus, aku tawari, Marwa mau turun ngga? Ayah mau turun, sholat. Mau, jawabnya. Kupikir bakal dingin karena masih subuh, ternyata engga, hawanya sejuk, ubinnya pun sejuk. Kurebahin lah si Marwa biar bisa mengulat karena habis bangun tidur. Sehabis mengulat, dia malah pengen jalan-jalan. Baiklah. Ngga berasa hampir 6 jam perjalanan terlampaui dan dia happy, sangat menikmati perjalanan. Ibu tenang dan senang.

Di Masjid Agung ini kami sempat ngobrol dengan sepasang kakek-nenek yang baru saja sholat Subuh dan sedang jalan-jalan, sepertinya orang setempat. Manis sekali, melihat sejoli menua bersama :3

Mandi dan Makan Pagi

Tantangan berikutnya adalah mandi dan sarapan, dengan waktu dari panitia 2 jam saja. Solusinya, Marwa mandi bareng Ibu biar cepet, untuk pertama kali. Hahaha. Cranky, jelas. Karena kamar mandi sempit, ngga ada bak untuk berendam dan ngga ada air hangat. Oke, kita mandi bebek.

Untuk sarapan, aku sudah siapin wadah bekal makan kosong untuk diisi makanan yang bisa dimakan Marwa. Marwa tetap sarapan ikut piring Ibu, semaunya, tanpa paksaan sama sekali, meskipun cuma 2-3 kali suapan. Kan nanti bisa dilanjut 😛

Ketep Pass Magelang

Ketep Pass Magelang ini jadi destinasi tempat wisata yang pertama kali dikunjungi, lokasinya di pegunungan. Meskipun pegunungan, jalannya nggak begitu menanjak atau berliku curam, namun aku tetap jaga Marwa untuk selalu ngemil selama perjalanan kesini, supaya perutnya nggak kosong dan nggak mual.

Di Ketep Pass ini kita bisa menyaksikan 5 gunung sekaligus, yaitu Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing dan Slamet. Sayangnya, waktu kami kesana kabut masih cukup tebal dan cuaca mendung, jadi 5 gunung ini ngga kelihatan. Walaupun begitu pemandangan yang disuguhkan apik dengan suasana sejuk. Nggak cuma pemandangan alam, Ketep Pass juga memiliki wisata edukasi Gunung Merapi. Ada diorama bebatuan, replika gunung merapi lengkap dengan suara-suara menyerupai lahar alias wedus gembel. Disini, ngga bisa edukasi banyak-banyak ke Marwa, karena ya apa yang mau diceritakan dari bebatuan? Ibu belum paham 😀

Taman Kyai Langgeng

Sejak dapat itinerary, wisata ini sudah aku prediksi bakal jadi kesukaan Marwa. Jadi, aku siapin stroller buat jalan-jalan disini. Banyak wahana, ada kebun binatang dan bahan ocehan yang banyak sekali. Faktanya… dia tidur pas nyampe tempat ini. Mau bangunin kan sayang, akhirnya suami tetap pergi dan aku tinggal di bus nungguin Marwa bangun.

Setelah bangun, masih ada waktu buat jalan-jalan. Aku tawarin naik stroller ya? Nggak mau, jawabnya. Matih lah kau, siap-siap encok dah. Baiklah, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya traveling ini. Untung bawa carrier yang nyaman banget, encoknya tetep tapi bisa diminimalisir lah. Ganti-gantian sama suami, sama aja suami juga ngeluh encok. Hahaha. Emang enak?!

Taman Kyai Langgeng ini wisata edukasi anak-anak banget. Ada kolam renang, ada replika pesawat terbang, ada mini kebun binatang, ada prosotan dan ayunan. Surganya anak-anak banget lah. Dan lokasinya semacam bukit gitu, jadi jalanannya naik turun. Inilah yang bikin kaki dan punggung encok. Beruntungnya ada fasilitas mobil keliling, jadi begitu masuk, aku langsung ikut antrian mobil keliling. Lumayan, beberapa menit sudah bisa lihat sebagian besar Taman Kyai Langgeng ini.

Ada tingkahnya bocah yang bikin terharu disini, disaat aku benar-benar capek.

Marwa : Nda Mum, iki jalan-jalan nengndi Nda Mum? (Nda Mum, ini jalan-jalan kemana Nda Mum?)

Ibu : ……. (capek, nggak fokus)

Marwa : Nda Muuuum, iki jalan-jalan nengndi Nda Muuuum? *teriak gmz*

Ibu : Ha… Oh iya, Taman Kyai Langgeng, Nduk. Ini Taman Kyai Langgeng.

Aku mikirnya, eh anak sekecil ini kok kamu sudah berasa aja kalo ditempat wisata, sampe kamu pengen tau ini tempat namanya apa. Kemudian, aku mikir, apa aku tadi belum jelasin ya? Hahaha. Capek aku ngga ilang sih karena celotehan bocah, impressing aja gitu sama rasa ingin tahunya.

Menginap di Hotel

Ini yang paling kami tunggu-tunggu. Hahaha. Karena udah capek banget, makan sore sudah nggak nafsu, pengennya goleran aja. Marwa juga sudah banyak cemberut, nggak nangis, tapi keliatan juga kalo dia sudah capek. Syukurnya, dia pilih menyusu sampai tertidur selepas dari makan dan menuju hotel. Sesampai di hotel, digendong pun dia masih nyenyak sampai aku ganti diapersnya.

Saatnya Ibu oles-oles minyak ke kaki hingga punggung, dan himpun tenaga untuk esok harinya!

Monumen Jogja Kembali (Monjali)

Sebenarnya, setelah check-in hotel, panitia menawarkan jika ada yang berkenan ke Malioboro dipersilahkan. Tapi, Marwa sudah tidur pulas, sampe ganti diapers pun dia cuma mengulat males. Apalagi si Ayah, kondisinya agak drop karena terlalu capek jadi panitia (pret!), ketemu kasur dia menguasai selimut dan lelap dalam sekejap.

 

Di Monjali ini, Marwa mendingan mau jalan-jalan, ini surganya anak-anak setelah Taman Kyai Langgeng. Banyak miniatur kartun yang lucu banget kalo dilewatkan untuk nggak berfoto. Anak-anak bisa berlarian bebas.

Nggak banyak yang bisa dijelaskan disini gimana sejarahnya kenapa disebut Monumen Jogja Kembali, aku nggak tahu. Hahaha.

Sialnya, jam kesini ini adalah jam tidur pertama Marwa. Alhasil, adalah momen dimana dia cranky berat, antara sebel dan juga ngantuk. Aku sempet emosi dan biarin aja dia nangis, malah kusuruh ‘sudah kalo mau nangis, nangis aja yang kencang‘. Ibu duduk cuek aja saat ada orang yang tanya ‘kenapa nangis dek?‘, jawab aja, ‘ngantuk, tante‘. Judes mode : ON.

Setelah dari Monjali, kemana lagi tujuannya kalo bukan ke Pusat Oleh-Oleh buat ngabisin duit. Dan benar aja… Padahal sebelumnya aku rerasan sama suami, kita keren banget nih kalo sampe jalan-jalan, pulang-pulang uang saku masih banyak. Ternyata di Pusat Oleh-Oleh, beberapa lembar isi dompet melayang begitu saja berganti kardus isi makanan. -___-”

Tujuan terakhir di Ngawi, acara kantor suami. Disini ujian kesabaran benar-benar teruji oleh hawa Ngawi yang super-super-super-panas. Marwa rewel se-rewel-rewelnya, maunya gendong terus, antara ngantuk dan panas. Maunya naik bus aja, padahal bus lagi berhenti, mesin mati, ya mana mungkin dingin. Rasanya mau marah, tapi aku juga capek, akhirnya banyakin berdoa aja. Huhuhu…

Tips Travelling bersama Toddler :

Walaupun liburan ini terbilang pertama kali, tapi ku bangga dengan Marwa dan diriku sendiri. Hahaha. Dengan begini, aku lebih percaya diri kalo misal ada acara jalan-jalan lagi, lebih percaya diri untuk berperjalanan sama Marwa lagi.

Untuk itu, aku bagi sedikit tips yang mungkin bisa dipraktekkan :

  1. Sounding. Aku nggak tau sebenarnya seberapa besar efek dari sounding ini, tapi aku selalu percaya dengan memberi pengertian sejak awal sama anak ini bisa menciptakan komunikasi lebih lanjut, bisa mempersiapkan apa-apa yang jadi pertanyaan anak, kebingungan anak, bisa dibilang antisipasi gitu. Mempersiapkan dia lewat alam bawah sadar dengan sounding. Hihihi.
  2. Siapkan camilan, sebanyak mungkin. Tentu kondisi masing-masing anak berbeda ya. Karena Marwa masih menyusu, aku cuma siapin 4-5 kotak susu UHT. Camilan berat semacam roti dan nugget, yang ringan semacam biskuit. Air putih harus selalu stok bagus, jangan sampe kehabisan.
  3. Percaya diri aja kalo bisa handle anak. Anak rewel, ya tetap percaya diri, abaikan tatapan orang. Anak rewel dan nangis kan biasa, itu cara mereka komunikasi kan, tinggal kita lebih fokus sama apa yang disampaikan anak atau tatapan orang? :p
  4. Jaga fisik anak dan diri sendiri. Sudah ribet bawa anak, jangan tambah keribetan dengan sibuk sama hape dan instastories! Hahaha. Selama traveling ini, aku hapus Instagram dan Facebook, cuma ada Whatsapp untuk komunikasi sama orang rumah. Jadi, aku minim banget pegang hape, benar-benar fokus menemani anak. Waktunya tidur, ya tidur.
  5. Jaga fokus anak. Maksudnya, aku dan suami sempat khawatir gimana kalo Marwa pusing karena lihat jalanan dari jendela? Pohon-pohon yang berjalan cepat gitu? Akhirnya, aku selalu perhatiin fokus Marwa, jangan sampe dia terlalu lama memandang jalanan dengan cara ngobrol terus sepanjang jalan. Cerita-cerita terus sepanjang jalan, aku cerita soal jalan tol, jalan layang, rest area, gambar-gambar dijalan, dan apa aja diobrolin. Urusan paham engga, belakangan 😀

Hmm… segitu dulu ya, semoga suatu hari ada kesempatan buat jalan-jalan lagi bertiga, menguji kekompakan kami sebagai keluarga. Kalian ada cerita liburan apa 2018 ini? Jangan lupa ditulis, biar nggak hilang kenangannya 🙂

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *