Pentingkah Self Editing?

Hai, ketemu kolaborasi berikutnya. Kali ini tema datang dari Mbak Nana – Arhana, aku ditanya, penting nggak self editing? Nggak aku jawab. Jawabannya di postingan ini. Haha.

Please, kalo mau dibandingkan, jelas bidang editing ini doi expert, ya. Aku editing semampuku. Meski pernah beberapa kali nulis buku dalam antologi, untuk editing tentu dibantu editor. Sisanya, main feeling. Hihi.

Baca punya Mbak Arhana disini.

Tapi, kalo pertanyaannya pentingkah? Jawabannya, sangat penting!

Self editing atau swasunting artinya kita menyunting sendiri tulisan kita. Berdasar pengalaman, swasunting ini lebih enak dilakukan saat tulisan benar-benar selesai. Aku pernah sharing, sebaiknya menulis itu dilakukan sekali duduk. Jadi, saat duduk dan memutuskan menulis, selesaikan sampai ide tersebut habis. Baru setelahnya, koreksi dan sunting.

Karena, kalo menulis satu paragraf lalu sunting, satu paragraf lagi sunting lagi, dijamin tulisan nggak beres, nggak selesai. Dan, idenya menguap hilang.

Sangat pentingnya dimana? Kan ada editor.

Percaya nggak sih dengan ungkapan first love at first sight? Nggak cuma berlaku untuk cinta-cintaan, ungkapan ini berlaku juga untuk tulisan. Bayangkan kalo belum pernah kenal, belum dengar suaranya, tapi tampilan rapi, pasti menarik, kan? Nah, menurutku, sunting pertama yang harus diperhatikan adalah kerapian.

Kerapian ini bisa dimulai dengan rata kanan-kiri (justify), penggunaan huruf kapital, spasi antar paragraf dan kalimat, ukuran dan jenis font. Ini keahlian sunting pertama yang wajib dimiliki. Lucu aja kalo menulis tapi nggak tau caranya mengatur margin rapi kanan kiri.

Pandangan pertama inilah yang penting buat editor. Kalo dari segi kerapian aja sudah malas, editor apalagi. Bisa jadi, naskah nggak dibaca selesai. Jangankan dibukukan, lolos aja, nggak.

Keahlian sunting berikutnya adalah kesalahan ketik, banyak disingkat, penempatan tanda baca dan efektifitas kalimat. Nah, kalo sudah masuk keahlian kedua ini, aku percaya dibentuk karena kebiasaan. Hehe. Ini pengalaman sendiri, ya, karena terbiasa sunting sendiri, setiap ada kata disingkat, salah kapital, aku gemes sendiri lho.

Berlaku juga untuk efektifitas kalimat atau bisa dibilang pengulangan kalimat. Alah bisa karena terbiasa. Semua sunting sendiri nggak bisa lepas dari membaca ulang. Karena walaupun sekali duduk kita puas, pasti ada kalanya kita mengulang membaca. Dari baca ulang, akan bertemu dengan perbaikan-perbaikan, entah dari teknis maupun kreatif.

Well, sekalipun tulisan adalah karya, namun saat dibagikan dia akan jadi konsumsi banyak orang. Karya akan merepresentasikan siapa yang membuat, tentu kita nggak mau hanya karena malas sunting, kita akan mendapat cap malas juga. Mari belajar untuk berkarya dengan cinta, agar maksud dan tujuan tersampaikan.

Sampai ketemu dengan kolaborasi berikutnya ^,^

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *