Menyusui Butuh Tim Kerja

Kalo urusan kerja, yang namanya tim sudah pasti. Saya seruangan itu bertiga, kami adalah teamwork. Saya bagian ngurusi alur keuangan, seorang lagi bagian perpajakan dan seorang lagi bagian pembayaran unit. Kunci dasarnya adalah komunikasi. Apa-apa kita harus komunikasi, saling cross-check satu sama lain, satu sama lainnya juga saling back-up. Back-up dalam artian, jika salah satu ada yang nggak masuk, kita bisa handle. Tentu saja, bukan handle secara keseluruhan. Tapi masing-masing kita paham job-desc satu sama lain, jadi kalo ada keperluan apa kita masih bisa saling bantu. Kalo yang berat-berat, ya nunggu yang bertanggungjawab masuk. Nggak cuma urusan handle satu sama lain, tapi juga teman diskusi.

Disinilah kenapa harus paham job-desc satu sama lain. Kalo ada yang kesulitan, kita bisa diskusi dan kasih saran. Kalo urusan kemampuan jangan ditanya, kedua rekan kerja saya berpengalaman semua. Semua juga semakin mahir seiring berjalannya waktu.

Nggak cuma urusan kerja, menyusui pun butuh tim kerja. Jangan dipikir menyusui itu cuma antara ibu dan anak ya. Berdasar pengalaman, siapa saja yang perlu menjadi tim menyusui?

  • Ibu

Sudah pasti. Bukan hanya sebagai penghasil ASI, tapi ASI juga diproduksi di tubuh Ibu. Ibu harus punya keyakinan kuat untuk mau dan mampu menyusui. Ibu juga harus mencari informasi sebanyak mungkin tentang segala teori menyusui dan dunia per-ASI-an. Selanjutnya, Ibu harus benar-benar pandai mengontrol diri supaya tujuan menyusui berhasil.

ASI diproduksi oleh hormon prolaktin dan dikeluarkan oleh hormon oksitosin. Kapan produksi hormon prolaktin? Saat bayi menghisap, dia mengirimkan sinyal ke otak tentang permintaan ASI, disinilah hormon prolaktin bekerja untuk memproduksi dari tubuh Ibu. Kapan hormon oksitosin bekerja? Saat Ibu merasa bahagia dan nyaman dalam proses menyusuinya. Hormon oksitosin atau yang biasa disebut hormon cinta akan membantu mengeluarkan ASI, yang biasanya dikenal LDR (let down reflect), saat ASI kita mengucur deras dan saat bayi minum akan terdengar suara cleguk-cleguk.

Karena itu, Ibu harus banyak minum dan asupan makanan bergizi supaya bayi mendapat nutrisi terbaiknya. Ibu juga harus pandai mencari posisi menyusui yang nyaman, supaya bayi bisa menyusui dengan mudah. Dan yang paling penting bahagia.

  • Bayi

Sudah pasti, karena tujuan menyusui adalah untuk bayi. Tapi bayi saya anggap bagian dari tim, menurut pengalaman saya. Tentunya sudah nggak asing ya dengan kekuatan ‘sounding‘? Sejak bayi ada dalam rahim, kita pasti sering mendengar, ajak bayinya ngobrol, bacain buku bayinya, bacain Al-Qur’an bayinya. Ya sebenarnya bayi sudah bisa mendengar dan memahami sejak didalam rahim. Termasuk saat bayi terlilit pusar, bayi sungsang, mencari posisi melahirkan, semua pernah Ibu lakukan dengan sounding kan? Ayo dek, turun ke panggul ya. Ayo dek, putar posisi ya.

Begitupula dengan menyusui, saya selalu sounding anak saya sejak di dalam rahim untuk nanti bisa menyusu sama Ibu. Ketika lahir pun, saya sounding, menyusu sama Ibu ya. Saat mau saya tinggal kerja, setiap hari saya sounding, Ibu nanti kerja ya, dirumah minum ASI sama Uti, sepulang Ibu kerja menyusu sama Ibu lagi sampe puas, suka-sukanya Marwa. Marwa jangan bingung puting ya, Ibu pulang menyusu sama Ibu ya. Gitu terus setiap hari bahkan saat sudah masuk kerja. Apakah berhasil? Berhasil di saya. Marwa nggak bingung puting dan tetap menyusu selagi ada saya.

Bayi itu mengerti dan jangan pernah menyepelekan saat menaruh kepercayaan kepadanya. Dia bisa.

  • Suami

Nggak cuma partner pas ‘bikin’ tapi suami juga pegang kunci keberhasilan menyusui. Sewaktu hamil, belajar bareng teori menyusui dan ASI sama suami. Apalagi soal hormon cinta itu ya, suami banget. Soal per-ASIP-an juga, edukasi suami juga ya. Prakteknya, silahkan diskusi sama suami bahasa cintanya seperti apa.

Alhamdulillah, sejak hamil suami sudah saya edukasi soal menyusui bagi ibu bekerja. Dia saya edukasi soal pompa ASI, merk-nya, harganya. Pompa ASI pertama saya dia yang beliin, dia yang ajari saya untuk steril pompa, merawat printilan pompa, hasil dia di edukasi sama mbak SPG. Sewaktu pompa di kantor, saya selalu kirim foto dapet berapa. Dia selalu komen ‘alhamdulillah, terus disyukuri. Kamu istimewa, hebat!’, secara tidak langsung itu bikin saya bahagia, semakin percaya diri dan selalu bersyukur, jadi saya pun selalu semangat untuk pompa.

Hasil gambar untuk peran suami dalam menyusui

Kalo untuk hormon cinta, jika dirasa butuh waktu berdua, ya sampaikan. Pengen nonton, pengen makan ini, makan itu, sampaikan ke suami. Bahkan, kalo dirasa pengen ‘berhubungan’, jangan sungkan atau merasa tidak percaya diri untuk meminta. Percaya deh, hal-hal sepele seperti itu membantu kelancaran menyusui.

Susahnya adalah kalo pas lagi bertengkar. Kita pasti langsung judge ‘kamu nggak dukung aku menyusui ya, kok bikin aku emosi, bikin sedih terus’. Disitulah kekuatan Ibu harus dikerahkan sekuat mungkin dan kembali pada keyakinan Ibu bahwa Ibu harus tetap menyusui untuk anak. Apakah bertengkar dengan suami akan membuat Ibu menyerah berjuang untuk anak? Semoga tidak. Sampaikan pada suami bahwa Ibu sedang menyusui, Ibu harus pandai mengontrol emosi, bukan untuk Ibu, tapi untuk anak.

  • Keluarga (Orang tua, Mertua dan keluarga lain)

Kalo orang tua dulu berpikir bahwa menyusui hanya bisa dilakukan oleh Ibu yang tidak bekerja, maka inilah saatnya mengedukasi mereka bahwa ibu bekerja bisa menyusui dengan menyediakan ASIP. Ini juga yang saya lakukan ke orangtua, mertua dan keluarga lain. Saya bilang, saya memompa ASI saya, jadi nanti saat saya kerja Marwa akan tetap minum ASI. Disitu dalam hati saya bilang, saya akan siapkan ASI sebanyak-banyaknya, jadi jangan khawatir akan kurang, pasti cukup. Semacam sugesti positif ke diri sendiri kan? Sugesti positif saat menyusui ini sekarang terkenal dengan sebutan Hypno-Breastfeeding.

Hasilnya? Saya bisa memenuhi freezer kulkas dengan ASIP, tidak hanya penuh, juga tragedi sortir dan buang karena terlalu banyak. Jadi, cerita dan hasutan susu bubuk, sama sekali nggak ada. Terbungkam oleh ASIP. Hahaha. Maap sombong!

Photos and videos by Keluarga Kita (@KeluargaKitaID) | Twitter

Saya jelaskan ke orangtua dan mertua yang asuh Marwa tentang menyiapkan ASIP, pola pemberiannya, dan memperlakukan ASIP. Saya tempel dipintu kulkas rumus-rumusnya. Sekarang sih, mereka sudah hafal diluar kepala. Hahaha. Bahkan bisa edukasi ke tetangga lain soal pemberian ASIP. Alhamdulillah…

  • Lingkungan (Tempat tinggal dan tempat kerja jika bekerja)

Harus banyak bersyukur semakin ke poin ini, karena lingkungan tempat tinggal saya pro-ASI sekali. Tetangga ada yang tanam daun katuk, dan dengan rela nawarin bahkan kalo mau diambil tiap hari juga nggak apa supaya lancar ASI. Wow, terima kasih sekali.

Untuk mulut-mulut soal susu bubuk, saya nggak ada pengalaman, karena ya pro-ASI kan. Tapi menurutku kuncinya ada di poin-poin sebelum lingkungan ini, utamanya keyakinan Ibu. Kalo Ibu yakin, ilmu juga dapet, dapet omongan apa aja, bukannya nyerah justru mengedukasi akan membungkamnya sendiri.

Kalo tempat kerja, sesuaikan sama job-desc masing-masing. Karena saya bekerja dibalik meja, ya saya pompa di meja kerja. Sejauh ini atasan nggak pernah tau saya pompa ASI, karena kerjaan saya selalu beres on-time, selain itu blio jarang ngantor. Yang paham sih manager-manager lelaki, dan mereka fine-fine saja. Bahkan salah satunya saat istrinya melahirkan juga tanya-tanya pompa ASI ke saya. Yang satu lagi suka konyol, suka iseng nanyain “udah merah susu belom?”.

Untuk hal ini, jika memerlukan ijin, sebaiknya ijin apa adanya bahwa nanti jam segini akan pompa ASI sekian menit. Tentu imbal baliknya, kerjaan nggak boleh teledor. Untuk yang pompa di meja kerja, bisa beli apron untuk menutup dada. Sekarang juga tersedia handsfree, jadi tinggal duduk, tangan masih bisa ketik-ketik, pompa kerja sendiri tau-tau penuh. Seiring waktu, ritme akan terbentuk sendiri. Yang penting yakin dan jangan menyerah.

Bersyukurlah yang kantornya tersedia nursing room (ruang menyusui) seperti yang baru-baru ini ada dikantor suami saya. Disana tersedia tempat mencuci tangan, air minum dan juga bantal-bantal untuk ibu menyusui. Kantor dengan nursing room ini sudah menjadi standar nasional, jadi kantor suami saya punya karena ada surat edaran nasional untuk menyediakannya. Kalo atasan melarang, saya rasa bisa deh bawa UU tentang menyusui ini, karena menyusui ini adalah hak anak-anak dan hak-nya dilindungi juga diatur oleh negara.

Hasil gambar untuk undang-undang menyusui

Dari semua poin diatas berdasar pengalaman saya, menyusui menjadi tanggung jawab semua bagian masyarakat. Kalo merasa tidak berhasil memberi ASI anak pertama, persiapkan semua tim kerja diatas sejak awal jika berencana untuk anak kedua. Kalo tidak menyusui, jadilah bagian dari tim kerja menyusui untuk memenuhi hak anak. Caranya gampang, perbanyak edukasi soal menyusui dan cari tahu sebanyak-banyaknya kenapa ASI penting sekali untuk anak.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *