Marwa 2 tahun

Tanggal 2 selalu istimewa buat saya. Karena, tanggal kelahiran anak saya, Marwa, sekaligus dateline pekerjaan saya. Hm, berasa rempong tapi juga happy melihat milestones demi milestones yang dilampaui Marwa.

Tahun ini, dia genap berusia 2 tahun. Kerasa nggak kerasa sih ya, soalnya 2 tahun terakhir ini bekerja terasa begitu semangat, harus giat, hingga hari-hari berlalu begitu cepat. Huft! Kenapa harus giat bekerja, karena anak makin gede, kebutuhan makin banyak didepan mata. Sementara, sebagai orangtua nggak bisa begini-begini aja. Terdengar ambisius? Hm, masa depan itu pasti. Ini sebuah optimisme. Fiuh! Auk ah…

Memasuki usia terrible two ini, bener ya agak menyebalkan. Yang menyebalkan adalah anak sama bapak, setiap pagi selalu ribut, ada tangisan dibuat-buat, sementara si bapak usil minta ampun. Pagi-pagi sengaja mandi paling duluan, biar bersih badan lalu ngurusi mereka berdua. Belum dandan untuk kerja, keringat sudah bercucuran, ngos-ngosan kejar-kejaran waktu sama bapak yang mau kerja dan anak yang kalo pake baju harus guling-guling sambil nyanyi-nyanyi. Seru ya? Banget!

Ngomongin soal nyanyi-nyanyi, diusia 2 tahun ini Marwa sudah hafal banyak lagu, ngomongnya jelas. Bahkan, si Apo (kakek Marwa dari pihak saya) bilangnya, jangan teteh dulu, nanti nggak lucu lagi. Alhamdulillah…

Dari segi motorik, lari-larian biasalah ya, cuma harus perlu dibiasakan latihan naik-turun tangga untuk keseimbangannya juga. Selama ini, kami masih suka menggendongnya, terutama bapaknya. Kalo saya sih, kalo terlalu lama bisa encok dan tangan tiba-tiba uncontrollable. Bapaknya juga gitu sih, tangannya bisa nggreweli kalo kelamaan gendong. Antara faktor “U” atau berat badan anak yang berasa, alhamdulillahnya ideal kok. Hihihi. Biasalah ya problem mamak-mamak, BB anak mulu. Bhay ah!

Apalagi ya, kalo tantrum, hm sepertinya belum. Maksudnya, kami belum menemui dia menangis jerit-jeritan atau bahkan sampai gulung-gulung di mall-mall yang sering viral itu. Soalnya, kami juga nggak pernah nge-mall. Hahaha. Kalo menangis strategi, ya sering. Dia pura-pura nangis beneran, tapi nggak ada airmata. Hm anak kecil sungguh cerdik ya? Rata-rata kalo begini sih dia minta mainan sesuatu tapi nggak dibolehin, masih bisa ditoleransi lah. Kalo nggak bisa ditoleransi, ya saya bilang, nangis aja yang kenceng, biar didenger sama temennya. Digituin aja, lebih sering dia langsung diem. Hm apakah anakku sudah mulai mengenal gengsi? Hahaha.

Oh iya tentang menyusui, alhamdulillah, lulus 2 tahun ya. Horeeee~ saya bahagia sekali, syukur sekali bisa sampai pada tahap ini. Mengingat perjalanannya yang butuh perjuangan. Semua proses menyusui adalah perjuangan! Ingat itu ya, jangan diremehkan lah Ibu-Ibu menyusui itu.

Sejak 2 bulan yang lalu, kami sekeluarga sudah sounding “Marwa sudah besar, umurnya mau 2 tahun, mimiknya sudah. Yang mimik itu adik bayi.” Pelan-pelan sounding masuk, setiap kali ditanya, Marwa umurnya berapa? Dia jawab, dua. Artinya apa? Mimik e sudah. Tapi… 15 menit kemudian ingat lagi, rengek-rengek lagi, narik-narik baju. Sudahlah, bapak ibunya lemah kalo gini. Utamanya, si bapak. Selalu bilang, udah kasih aja, kasihan dia. Baique!

Padahal, jujur, saya kadang capek juga. Meskipun, jauh dalam hati, saya belum rela. Nggak tau kenapa belum rela. Mungkin ini juga kenapa proses sapih belum berhasil tepat di usia 2 tahun, karena saya sebagai Ibu belum siap menyapih. Jadi, mungkin Marwa masih merasa kalo kita berdua nyaman dengan saling nemplok gitu. Toh, meski awalnya saya ogah-ogahan, pada akhirnya saya ikhlas. Terutama kalo mau tidur malam. Kalo siang sih, dia udah makan banyak, ngemil banyak, nggak inget sama nenen.

Saya dan bapaknya masih berprinsip nggak pake cara aneh-aneh untuk menyapih. Sudah cara sounding ini aja, setiap hari diberi penjelasan, diingatkan kenapa harus stop mimik, disisi lain saya juga yang belajar untuk mempersiapkan diri. Walaupun, saya nggak tahu kapan siap. Huhuhu.

Spesial sertifikat buat suami sekaligus Ayah buat Marwa. Terima kasih banyak buat dukungan menyusui selama ini. Nggak pernah nge-judge aku soal ASI begini begitu. Selalu ngijinin aku upgrade ilmu ini itu, ikut komunitas, kulwap, hingga sekarang memutuskan kuliah online di Institut Ibu Profesional. Selalu bersedia dengerin segala ocehan aku tentang apapun, penting-nggak penting, walau aku tau itu cuma keluar masuk di kuping.

Walaupun beberapa bulan terakhir, rumah tangga berasa berat banget. Nguras emosi, kondisi finansial yang bikin miris, komunikasi yang buruk, seminggu sekali selalu berantem diem-dieman. Disitu aku tau, kalo dia lebih dari seorang suami. Bisa jadi apa aja, bahkan musuh, musuh yang selalu aku kangenin :p

Semoga kita bisa selalu bersama-sama menemani Marwa sampai dia mampu lepas dari kita. Huhuhu. Karena sejatinya mendidik anak adalah mempersiapkannya lepas dari orangtua, menjelajahi dunianya sendiri yang dia pilih nanti.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *