Cerita Ramadhan 2019

Ramadhan 2019 kemarin bisa dibilang ter-ruwet, ter-ribet, ter-sibuk dan ter-ter-ter lainnya. Mari diabadikan satu per satu, biar nggak ilang.

Proyek Ramadhan Journal

Menuju Ramadhan kemarin, alhamdulillah, antologi ketiga ku terbit dan siap buka Pre-Order pemesanan. Antologi ketiga ini nulis fiksi, setelah sebelumnya kebanyakan based on true story. Lagi asyik leyeh-leyeh sambil nemenin Marwa mainan, tiba-tiba aku kepikiran, gimana kalo bikin challenge hadiahnya buku ini ya? Ada yang mau nggak ya?

IMG-20190429-WA0008

Karena, nulis buku bareng Pejuang Literasi ini gratis, sebagai gantinya kontributor wajib beli minimal 3 eksemplar. Karena aku sedang malas gencar promo, sudahlah berbagi aja. Iseng, aku tes ombak, ada yang mau ikut nggak ya kalo bikin challenge menulis di Instagram berhadiah buku ini?

Dan… ada sekitar 5-7 orang yang merespon untuk mau ikut. Aku speechless. Ah, yang bener ini? Kemudian deg-deg.an sendiri. Wah, kacau nih kalo nggak direalisasikan. Tengsin dong. Salah satu komentar untuk realisasikan itu datang dari temen deket, rasanya kayak di support banget. Oke, harus dicoba nih!

Ramadhan Writing Challenge - Mei 2019

Kemudian, bikin draft proyek buat dibikinin flyer sama suami. Periode challenge sudah ditentukan, aku bikin grup Whatsapp untuk share ketentuan disitu, sekaligus saling support sambil kenalan untuk yang belum kenal. Ada sekitar 15-an yang ikut, dari temen komunitas, temen SMA, temen kuliah, teman yang ajak temennya. Aku terharu banget.

Walaupun judulnya Ramadhan Journal, aku nggak bawa tema-tema yang seputar agama atau Ramadhan. Karena disitu ada banyak teman yang memang nggak punya dasar menulis, jadi aku pilih tema-tema yang sederhana, yang sekiranya memancing mereka untuk menulis caption. Hahaha.

Proses Administrasi Mendadak

Sejak awal aku sudah bersemangat untuk komitmen merawat grup Ramadhan Journal itu tadi kan, siapa sangka mendadak ada info dari desa untuk mengurus proses administrasi, untuk keperluan apa, belum bisa aku jelaskan, karena prosesnya masih berjalan hingga sekarang.

Jadi, ada sekitar seminggu lebih aku wira-wiri kantor Desa, Polsek, Polres, Koramil, Pengadilan Negeri, Rumah Sakit, dan lain-lain. Sesekali ijin kerja, dari yang ijin setengah hari sampe full. Proses yang benar-benar menguras tenaga dan duit habis-habisan. Diiringi tangisan pula.

Akhirnya, Ramadhan Journal benar-benar menjadi anak tiri. Aku share tema setiap jam sahur, abis gitu nggak bisa bakar semangat teman-teman karena harus wira-wiri lagi. Huhuhu maafkan aku. Benar-benar merasa kurang bertanggungjawab.

Yang proses di Rumah Sakit itu aku juga sempat mengalami kejadian hasil laboratorium tertukar. Astaga… kupikir cuma di sinetron doang, ternyata ada juga di nyata. Untungnya, aku punya teman di RS yang bisa bantu untuk cetak ulang hasil lab. Huft!

Amplop Lebaran Custom

Nulis sampe disini, kalo dipikir-pikir kok aku nggak bisa diem ya.. Ada aja… Nah, kalo amplop lebaran custom ini sebenarnya bukan niat bisnis beneran. Jadi, sepupu aku punya toko online dan offline, sudah punya langganan banyak. Karena tiap tahun dia tau amplop angpo lebaran aku selalu bagus, dia pengen menambah bisnisnya amplop lebaran custom name. Suami setuju-setuju aja karena memang suka desain.

2019-07-05_09-54-01

IMG_20190705_100018

Akhirnya, setiap hari aku input orderan, terima cetakan, sortir. Selama kurang lebih 2 minggu terakhir Ramadhan, hidup seputar amplop, amplop dan amplop.

Aku memang suka sama kerjaan yang berhubungan dengan kerajinan begini. Semua enjoy dilakukan, meski capek karena wira-wiri banget. Apakah tahun depan akan bisnis amplop lagi? Mungkin, dengan persiapan yang lebih matang lagi. Hahaha.

Tepat 3 hari sebelum Lebaran, buku untuk hadiah Ramadhan Journal datang. Di akhir periode sebelumnya, aku sudah mengumumkan siapa yang berhak dapat. Yang bikin terharu lagi, ada salah seorang teman yang berhasil menyelesaikan challenge selama 15 hari, tapi mengundurkan diri dari proses acak hadiah padahal namanya berhak ikut. Dia ikut tantangan itu benar-benar untuk membantu aku dan meramaikan, bukan untuk cari hadiah, padahal konsistensinya patut dihargai.

Pada akhirnya, Ramadhan Journal benar-benar membekas di hati. Aku menerima banyak ucapan terima kasih karena ide ini, mereka jadi menulis, mengisi Instagram-nya dengan hal yang positif. Padahal, aku cuma penulis pemula, karyaku cuma antologi, memahami EYD dan PUEBI juga pas-pasan. Tapi, bergandengan tangan, bertemu dengan orang-orang yang punya semangat di bidang sama itu Priceless.

*Postingan ini ditulis terlambat, karena kemalasan dan sedang ditagih, apa nggak ada ide challenge baru? Hahaha. Sebenarnya, ada. Realisasikan nggak ya?*

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *