Marwa 2 tahun

Tanggal 2 selalu istimewa buat saya. Karena, tanggal kelahiran anak saya, Marwa, sekaligus dateline pekerjaan saya. Hm, berasa rempong tapi juga happy melihat milestones demi milestones yang dilampaui Marwa.

Tahun ini, dia genap berusia 2 tahun. Kerasa nggak kerasa sih ya, soalnya 2 tahun terakhir ini bekerja terasa begitu semangat, harus giat, hingga hari-hari berlalu begitu cepat. Huft! Kenapa harus giat bekerja, karena anak makin gede, kebutuhan makin banyak didepan mata. Sementara, sebagai orangtua nggak bisa begini-begini aja. Terdengar ambisius? Hm, masa depan itu pasti. Ini sebuah optimisme. Fiuh! Auk ah…

Continue Reading

Pertama Kali Traveling : Family Gathering

Bagaimana rasanya pertama kali traveling dengan batita? Seru dan capek, pasti!

Mulai darimana ya? Hmm… Jadi, beberapa waktu yang lalu, suami sakit karena terlalu capek, ditengah-tengah sakitnya, doi bilang, awal bulan ada acara kantor ke Jogja, beresin kerjaanmu, kosongin agendamu, pesennya. Aku diajakin jalan-jalan? Udah kebayang-bayang pastinya, udah prepare bawa apa aja. Mommy well-planned banget. Hahaha.

Seminggu kemudian, suami sembuh, ganti si kecil demam. Aduh, rencana jalan-jalan di godog lagi, berangkat-enggak-berangkat-engga. Oke, ngga berangkat, takut sakitnya berkepanjangan. Sembuh pun masih harus recovery. Dikubur dalem-dalem tuh angan-angan jalan-jalan, demi anak.

Continue Reading

Love Story : Obrolan Malam Aku dan Kamu

Disclaimer : Blogpost ini ditulis dan diterbitkan atas seijin yang bersangkutan alias suami

Beberapa waktu yang lalu, kami perang dingin, diem-dieman sampe berhari-hari. Nggak perlu ditanya siapa yang mulai, karena sudah pasti aku lah yang mulai. Hahaha. Sampe kemudian di suatu titik, sudah sama-sama capek, tapi masih malas untuk memulai obrolan. Aku tulis surat. Hahaha. Ternyata, dibaca dan dibalas.

Sebenarnya, bukan kebiasaan baru menulis surat ini. Saat kami pacaran, kami lumayan sering melakukannya, setiap tanggal 24. Dulu sih masih tulis tangan. Sekarang, kan sudah ada surat elektronik, lebih gampang, ketik dan kirim.

Kemudian, kami sama-sama menyadari salah, sama-sama sedih, sama-sama menangis saat baca surat masing-masing. Aku terharu banget suamiku balas surat. Dia juga ngerasa kali ini efektif menegur dia dibanding aku ngomel-ngomel di chat ato sewot-sewotan. Setelah baca surat aku mulai luluh dan nggak dingin lagi. Kami rindu buat ngobrol bareng…

(Baca juga Love Story : Me and My Husband)

Continue Reading
1 2 3 7