Berkontribusi dalam Membudayakan Literasi


Semenjak menikah dan memiliki anak, sejujurnya, saya dan suami tidak memiliki bagaimana konsep keluarga yang akan kami bentuk nanti. Saya yakin ini juga yang dialami oleh pasangan muda seperti kami. Pasangan muda yang lebih memilih just let it flow dan learning by doing. Faktanya, menikah dan membentuk keluarga perlu bekerja sebagai tim. Dan, kerja tim butuh perencanaan. Tak jarang mereka yang gagal berkeluarga disebabkan karena gagal menjadi tim.

Untuk bekerja dalam tim, komunikasi adalah kunci utama. Komunikasikan segala kesepakatan antara suami dan istri dalam mewujudkan konsep keluarga. Jangan sampai nih, istri berniat memfasilitasi anak dengan buku-buku, namun suami malah menganggap istri menghambur-hamburkan uang.

(Baca : Mimpi Perpustakaan Keluarga)

Keluarga sebagai kultur masyarakat terkecil menjadi penting perannya ketika dihadapkan dengan nasib keberlanjutan generasi. Pemikiran sederhananya, punya anak kan untuk meneruskan keturunan, meneruskan generasi? Tapi, seberapa berkualitasnya generasi yang akan mendatang sangat bergantung dari peran keluarga dan lingkungannya, tim yang lebih besar lagi.

Saya jadi ingat salah satu kutipan dari materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional bahwa dibutuhkan satu kampung untuk mendidik satu anak. Ya, apakah bisa kita berharap anak tidak merokok jika berada di lingkungan perokok? Sangat kecil harapannya, bukan? Sama seperti bagaimana kita bisa berharap anak suka membaca buku jika lingkungan sekitarnya tidak memberi contoh bagaimana aktivitas membaca itu.

Nah, kalo harus ditarik mundur, kok saya suka baca, bagaimana peran Bapak dan Ibu saya? Saya yakin mereka nggak berharap banget bahwa anaknya akan jadi kutu buku atau apa. Tapi, mereka mencontohkan bahwa membaca adalah kebutuhan. Membaca apapun. Saya masih ingat banget, kalo saya punya pertanyaan soal pelajaran dan memilih bertanya, jawaban Bapak sama, dicari dulu, dibaca dulu di buku penunjang. Ya, mau nggak mau saya baca kan, karena Google belum seperti sekarang. Jangankan handphone, channel TV saja masih bisa dihitung dengan jari.

(Baca : Tips Mengenalkan Kebiasaan Membaca)

Karena tiap kali saya bertanya, selalu dijawab cari dulu, baca dulu. Akhirnya, saya terbiasa membaca dulu sebelum belajar atau mengerjakan PR. Terbiasa dan menjadi kebiasaan yang membuat saya lebih memilih dibelikan buku daripada mainan. Hingga saya duduk dibangku kuliah, saya masih suka membaca buku tebal-tebal, walaupun hanya sebagai camilan. Maksudnya, hanya beberapa paragraf yang menarik buat saya dan cocok dengan materi kuliah saja. Haha.

Bagaimana perjalanan kesukaan baca ini setelah dewasa?

Barulah saya tau bahwa aktivitas membaca dan menulis ini adalah aktivitas literasi.


Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. [1]

Wikipedia

Perjalanan literasi saya dimulai ketika gabung di Pena Ananda Club, sebuah Taman Bacaan Masyarakat sekaligus sanggar kepenulisan untuk anak-anak. Foundernya, Bunda Tjut Zakiyah Anshari. Sebagai sosok dewasa yang ingin berkontribusi di lingkungan, menemukan Pena Ananda ini bagai oase di padang pasir. Lama sekali saya takjub bahwa di Tulungagung ada Sanggar seperti ini.

(Baca : Festival Bonorowo Menulis)

Bunda Tjut dan Pena Ananda adalah contoh nyata bagi saya bagaimana beliau sebagai masyarakat bertanggungjawab untuk membudayakan literasi, khususnya di kota Tulungagung. Benar, mungkin akan terasa sangat berat saat kita memikirkan bagaimana meningkatkan literasi di Indonesia, sementara kita bisa memulainya dari kota kita sendiri.

Menjadi bagian dari Festival Bonorowo Menulis (FBM) yang di inisiasi oleh Pena Ananda, benar-benar membuat saya kaget karena rendahnya tingkat literasi. Untuk sebuah event yang mengusung konsep literasi, FBM masih harus bekerja sangat keras dalam hal mencari pengunjung dan pendanaan. Seringkali saya dan suami berdecak miris, kok gini ya masyarakat kita?

FBM memang bukan event layaknya pentas seni hura-hura, tapi FBM adalah event yang menyuguhkan ruang untuk berbagi wawasan. FBM membuka stand bagi komunitas-komunitas untuk berkampanye apa yang menjadi concern mereka. FBM juga membuka kelas-kelas pelatihan yang menarik, seperti kelas menulis puisi, kelas menulis cerpen, kelas fotografi, dan lain-lain. FBM juga menyediakan panggung untuk berbincang dan berbagi dengan para narasumber yang berkompeten.

Namun, saya justru melihat lemahnya daya tarik masyarakat akan kegiatan seperti ini.

Selain Pena Ananda, saya juga berkenalan dengan Booklota (Book Lovers Tulungagung), komunitas kecil pecinta buku. Didominasi oleh perempuan dan ibu muda kami sering berdiskusi ringan melalui grup Whatsapp. Kami bertukar cerita tentang genre buku dan memanfaatkan sosial media untuk berbagi tentang buku yang sedang dibaca. Istilahnya, menjadi bookstagramer.

Tidak hanya buku, kami juga pernah bercerita tentang gerak literasi di sekolah-sekolah. Kami masih menemui bagaimana program literasi yang sudah dicanangkan seperti GerNas Baku atau aktivitas mendongeng hanya program formalitas saja. Ketika diluncurkan, serentak bergerak, dokumentasi kemudian selesai. Tidak ada keberlanjutan atau evaluasi. Dimana seharusnya program-program sekolah seperti itu perlu melibatkan keluarga dirumah dan pihak sekolah untuk saling bersinergi dan evaluasi.

Dari sini, bukankah bisa kita simpulkan bahwa pendidikan tidak bisa kita lepaskan begitu saja pada pihak sekolah? Keselarasan konsep keluarga dan konsep sekolah tentu akan memudahkan kita dalam mewujudkan pendidikan karakter bagi anak.

Pena Ananda dan Booklota adalah contoh kecil komunitas yang bergerak di bidang literasi. Bagaimanapun, kekuatan komunitas masih memiliki daya pengaruh sangat besar dalam masyarakat kita. Perasaan saling memiliki, kesamaan pemikiran menjadi booster kekuatan dan semangat bagi mereka yang ingin berkontribusi dalam masyarakat.

Saya pribadi yakin bahwa masing-masing dari kita sebenarnya punya andil dan peran dalam membentuk sebuah budaya. Tinggal peran apa yang kita ambil, itulah yang membedakan satu orang dengan orang yang lainnya. Seperti saat saya memutuskan untuk jualan buku anak secara online. Bulan-bulan awal, saya mengakui sulit sekali rasanya untuk closing. Ditengah gempuran dimana jualan fashion rasanya lebih mudah, jualan buku punya effort tersendiri.

Bukan hanya sekedar pamer gambar, saya berusaha berbagi pengalaman dalam mengenalkan buku untuk anak saya, kenapa saya mengenalkannya sejak dini dan story-telling lainnya. Di sisi lain, saya berusaha menjadi contoh bahwa mengenalkan buku sejak dini adalah baik. Ini menjadi kekuatan tersendiri bagi saya sebagai Ibu dalam membentuk budaya literasi dalam keluarga.

Testimoni Buku Anak Shalina

Melalui jualan buku anak ini, saya juga banyak mendengar cerita dari para orangtua tentang tantangan mereka dalam mengenalkan buku, salah satunya tantangan gawai. Juga cerita bahagia mereka saat melihat anak mereka membaca atau sekedar membuka buku. Entah sudah berapa kali saya jelaskan di blog ini, saya merasa salut sekali dengan para orangtua yang bersedia menyisihkan pendapatan mereka untuk membeli buku anak. Bukan hal yang mudah bagi orangtua ditengah tantangan lifestyle instagram.

(Baca : Anakku lebih suka gadget)

Bagi penjual buku, penjual buku lain bukanlah saingan. Karena kami bisa saling bersinergi satu sama lain. Tentu jika dikaitkan dengan bisnis, kami memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Tapi bagi kami, kami tidak hanya mencari untung, kami juga sedang berkontribusi dalam budaya literasi, yaitu sebagai sarana pemberi fasilitas, dalam hal ini buku. Saya yakin, jika bukan orang yang passionate dengan literasi dan buku, memilih produk buku sebagai bisnis akan sulit bertahan.

Meskipun, kini jualan buku saya sedang pause, literasi masih menjadi nafas bagi saya dan suami. Yang paling terdekat tentu anak kami sendiri, juga anak-anak di lingkungan rumah kami nanti. Kami merasakan sendiri bagaimana pentingnya mengenalkan budaya literasi sejak dini. Literasi bukan hanya sekedar kemampuan berbahasa, namun juga kemampuan bertahan hidup. Mari bersama-sama ambil peran kita sebagai #SahabatKeluarga dalam membangun budaya #LiterasiKeluarga.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog dengan tema Peran Keluarga dan Masyarakat dalam Menumbuhkan Budaya Literasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *