Belajar Menghargai Karya

Hampir 10 bulan terakhir ini saya belajar untuk jualan dengan buka lapak Buku Anak, namanya Shalina. Berawal dari saya yang nyari buku-buku untuk si Marwa, saya coba tawarin juga ke teman-teman. Sekaligus kampanye literasi, tentunya.

Alhamdulillah beberapa ada yang nyantol dan beli, beberapa sudah langganan juga. Kalo dirasain di jualan buku anak ini saya paling enjoy, benar-benar ngga nyari untung. Tapi puas dan bahagia saat buku datang, meskipun bukan punya saya. Doakan lancar dan semakin laris ya…

Karena jualan buku ini lah, saya semakin takjub dengan hasil karya orang lain. Meskipun saya sudah belajar lama dari menghargai tulisan orang, tapi dengan jualan buku ini semakin mantap kalo ‘karya ngga boleh disepelekan’.

Untuk penulis, ngga semua orang punya kemampuan menyampaikan ide cerita. Ide cerita mungkin semua orang punya, tapi yang berani menuangkannya dan menambahkan ‘feel’ didalamnya, saya rasa hanya orang-orang yang benar-benar berlatih yang mampu. Mereka tidak hanya punya kemampuan, tapi kemauan yang kuat. Hingga ide cerita mereka dibukukan tentu bukan hal yang singkat, seminggu dua minggu, pasti lama dan perlu kesabaran.

Untuk ilustrator, wow saya sungguh apresiasi dalam-dalam. Ada beberapa buku anak yang sangat minim uraian dan kata, tapi ilustrasinya berbicara banyak sekali. Kalo orang bilang, menggambar adalah seni bakat, saya sangat percaya. Tapi orang yang benar-benar menyadari bakatnya adalah orang yang sangat hebat. Disinilah kadang peran orang tua banyak diperlukan bagaimana ilustrasi yang mereka gambarkan benar-benar tersampaikan pesannya.

Makanya, kalo kemudian ada salah seorang yang bilang “anakku kalo buku cerita paling cuma dilihat gambarnya”, ya memang betul dilihat gambarnya, lantas apakah kita sebagai orang tua diam saja dan tidak mendampingi? Semoga jawabannya, tidak.

Saya seringkali cerita ini ke suami, tentang buku-buku yang ilustrasinya keren dan hebat. Kebetulan suami akhir-akhir ini sedang hobi memotret, relate kan. Suami juga cerita sama halnya dengan foto, mengambil foto berbicara itu susah, perlu latihan, bukan hanya teknis tapi juga asah rasa.

Jika kemudian, kita bisa bilang “duh kok mahal banget”, percayalah kita sedang menghargai sebuah karya. Kita tidak tau sejauh dan seberat apa perjuangan penulis dan ilustrator menyuguhkan bacaan bermanfaat untuk generasi kita berikutnya. Anggap saja kita berinvestasi untuk mereka.

Sekian ya curcolan dari bakul buku newbie 💝

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *