#wisaTA : Telaga Aqua, Sendang, Tulungagung

14 Februari kemarin, yang biasanya rame disebut sebagai Hari Kasih Sayang, kebetulan banget jatuh di hari Minggu. Saya ngga ngrayain, tapi emang berencana ngetrip sama Mas WP. Semalam sebelumnya, udah ribut di Wasap, antara gowes apa engga, ngetrip kemana, antara iya dan engga, iya engga. Paginya, memutuskan ngga gowes, ngga jogging, soalnya saya agak masuk angin πŸ˜€ yowes jam 8 pagi jalan setelah minum teh anget.

Singkat cerita, arah tujuan jadi ke Tulungagung Barat Laut, daerah pegunungan, tepatnya Kecamatan Sendang. Sendang ini sudah berkembang lebih baik, terlebih sektor wisatanya. Dulu sewaktu masih sekolah, yang ngehits cuma Kebun Teh, Candi Penampihan dan Air Terjun Lawean.

Tujuan saya kali ini ke Telaga Aqua. Sebenarnya udah pernah hampir sampai ke tempat ini, tapi karena waktu yang lalu itu hari libur bukan hari minggu, jadi kawasan ini sepi. Telaga Aqua jadi satu dengan Kawasan Wisata Gunung Wilis. Di Kawasan Wisata ini ada Kampung Bunga, Telaga Aqua dan Kuliner Gunung Wilis. Saya cuma penasaran sama Telaga Aqua, padahal Kuliner Gunung Wilis ini perlu dieksplore lebih banyak, karena ngga hanya menyuguhkan kuliner makanan namun juga ada Villa Keluarga dan SMK Putra Wilis.

Untuk menuju ke tempat wisata ini, hanya perlu mengikuti arah ke Kecamatan Sendang. Selanjutnya, di sepanjang perjalanan akan banyak ditemui plakat arah Kampung Wisata Gunung Wilis dan plakat Telaga Aqua. Jadi, tak perlu takut kalo misalnya kesasar, soalnya petunjuk arahnya sudah jelas. Sebagai penanda, pasti akan melewati gapura Masuk Desa Geger, sesudah ketemu gapura ini, tinggal ikuti jalan aja. Lumayan sih tanjakan dan kelokannya, yang penting konsentrasi dan sering-sering klakson.

Pemandangan Desa Geger

Sepanjang perjalanan, kita akan disuguhi pemandangan gunung dan sawah. Semakin menanjak, semakin berasa hawa gunungnya, menghirup udara disini adem dan seger. Dan kebetulan juga 14 Februari ini Tulungagung lagi super cerah, warna langitnya biru banget. FYI, kita berdua pemburu langit biru. Kalo liat langit lagi super bagus gini, gatel banget pengen kemana dan berburu foto. Meski modal kita cuma handphone dan kamera action.

Penanda kedua kalo sudah dekat dengan Telaga Aqua adalah Sekolah Satu Atap, SD dan SMP dalam 1 halaman. Dari belokan Sekolah Satu Atap ini ambil arah kanan dan dimulailah jalanan terjal beton dan bebatuan. Dibutuhkan skill mengemudi yang lumayan yaa, karena hampir tidak ada pilihan jalan mulus. Saya sebagai perempuan yang dibonceng, anteng aja, pasrah sama pemegang kendali motor sambil berdoa, karena sebelah kiri adalah tebing terjal.

Jalanan beton dan bebatuan

Setelah sampai di Kawasan Wisata Gunung Wilis, motor boleh diparkir disana atau mau lanjut perjalanan hingga mendekati Telaga Aqua. Disediakan kok area parkir, di halaman rumah warga sekitar gitu. Saya sih parkir di Kawasan Wisata Gunung Wilis, di halaman SMK Putra Wilis, dan jalan kaki ke Telaga Aqua. Karena ngeliat medan yang lumayan terjal batuannya, kasian aja sama motor Mas WP :D.

Jalan kaki lumayan pegel juga, jalan batu dan lumayan nanjak, tapi karena penasaran, semangatnya menggebu. Kata Mbak di tempat parkir, jalan kaki ke Telaga Aqua kurang lebih 1km. Tapi belum ada separo, saya mulai ngga sabar, saya tanya ke warga sekitar yang kebetulan lagi panen Tomat.

Medan selama jalan kaki :'(

“Buk, ngapunten, nyuwun pirso, Telaga Aqua nopo taksih tebih?” tanya saya. (Bu, maaf, numpang tanya, Telaga Aqua apa masih jauh?). Si Ibu tanya sama suaminya, “sik adoh ora?” (masih jauh ngga?). Bapak Suami jawab, “lumayan Mbak, sampean lurus ae, sampe enek Mushola, mengko nengen.” (Lumayan Mbak, kamu lurus aja, sampai ada Mushola, lalu ke kanan). Saya mengucap terima kasih, dan lanjut jalan kaki.

Sepanjang jalan kita akan ditemani suara gemericik air, derasnya aliran sungai dan jernihnya air disini. Baru liat sungainya aja, pasti pengen nyemplung dan mainan air.

aliran sungai dari Telaga Aqua

 

petunjuk terakhir πŸ˜€

Dan akhirnya, saya sampai di Telaga Aqua. Ternyata, Telaga Aqua adalah sebuah kedung dangkal dengan aliran sungai. Kenapa Aqua? Airnya jernih banget. Tapi saya ngga tau bisa diminum atau ngga πŸ˜€ liat jernihnya sih kayaknya seger banget. Tepat di Kedung yang disebut Telaga Aqua itu, ada keterangan 100m keatas adalah Telaga Aqua II, hanya untuk perenang. Penasaran saya terbayar, tapi memang diluar ekspektasi saya πŸ˜€ saya pikir bentuknya benar-benar seluas telaga. Kecewa? Tidak. Kesana lagi? Pikir-pikir dulu deh saya :D.

Voila! Rame kan? Ada bilik bambu juga buat ganti baju setelah main air πŸ˜€

Sepanjang perjalanan pulang dan pergi berjalan kaki ini, lumayan sering bertemu dengan warga sekitar baik lelaki maupun perempuan, tua maupun muda, sedang membawa rumput untuk pakan ternak. Dengan jalanan terjal dan berbatu seperti itu, mereka kuat bawa motor dan bawa rumput pakan, apalagi perempuan. Jangan dipikir motor matic ya, motor bergigi kategori sport lho. Salut deh saya.

Warga pegunungan ini juga ramah sekali. Pas saya jalan kaki arah pulang, beberapa kali disapa sama orang yang bawa rumput pakan ini. “Monggo” begitu katanya. Saya cuma bisa jawab, “Nggeh”. Kemudian ada Ibu-ibu sedang panen Cabe, Beliau juga nyapa, “saking Telaga Aqua, Mbak?” (dari Telaga Aqua, Mbak?). “Nggeh, buk, Monggo.” Kami bertukar senyum dan saya lanjut jalan kaki. Sepertinya mereka bahagia banget wilayahnya dikunjungi gini. Sikap mereka ini jadi bahan obrolan saya dan Mas WP sepanjang jalan kaki, keramahan mereka juga kesederhanaan mereka. Lagi-lagi, orang-orang disekitar kita adalah media pembelajaran kita buat bersyukur.

Jadi, kapan main ke Tulungagung?

You may also like

7 Comments

  1. Kebohongan publik..itu sungai bukan telaga..juga bukan masuk wilayah desa geger, tapi wilayah desa gambiran kecamatan pagerwojo..ο»Ώ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *