The Date is Set

Pertama kalinya berbagi cerita cinta di blog ini. Sebelumnya masih malu-malu cerita tentang cinta-cintaan šŸ˜€ meski di beberapa postingan sering banget tokoh ini ada. Saya sering menyebutnya Abang, Kakak, Mas WP dan apalah-apalah. Secara dunia nyata saya lebih sering panggil Kakak, terutama didepan keluarga dan teman. Kalo lagi berdua mah suka-suka, kadang Yang, kadang Beb, kadang julukan dia, Jie. Jie ini udah lama banget ngga diterapin, sejak masuk dunia kerja udah ngga pernah panggil Ja Jie Ja Jie lagi. Sekarang sebut aja dia Mas WP ya, meski saya sebenernya ngga pernah bisa panggil dia Mas. Hahaha lucu aja dengernya. Jangan kan panggil Mas, sebut namanya saja jarang, kedengarannya pun bakal aneh. Begitupula Mas WP ke saya. Mas WP sejak pertama jadian bertahun-tahun yang lalu, panggil saya Ndul-Ndule. Ndul, tumbas iki yoh. Ndul, mrono yoh. Ndul, iki lho. Sama seperti dia yang ngga pernah denger saya sebut namanya, saya juga ngga pernah denger dia sebut nama saya, kecuali didepan keluarga. Didepan temen-temennya, Kakak-Ndule.

Setelah melalui perjalanan cukup panjang, kami memutuskan untuk menikah. Saya sih sudah siap sejak tahun lalu hihihi tapi Mas WP tetep teguh prinsip kalo mau menikah di usia 25 tahun. 17 Januari kemarin Mas WP genap berusia 25 tahun. Sesuai janjinya, dia akan menikahi saya di usia 25. 15 hari sebelum genap usia 25 tahun, dia ajakin saya buat pilih cincin kawin. Happy? Banget! Tentang cincin ini bakal saya ceritain di postingan lain.
Pas apel malam minggu, Mas WP udah kasih bocoran kalo keluarga mau datang tanggal 22 Januari. Karena belum pasti, Mas WP ngelarang saya buat cerita ke Bapak Ibu, nanti mau bilang sendiri katanya. Karena belum pasti tadi dan ketidakpastiannya karena sesuatu hal, diputuskanlah tanggal 30 Januari. Semoga lancar-lancar aja.

30 Januari malam, rombongan keluarga Mas WP datang. Hari itu hari Sabtu dan akhir bulan. Deg-deg an? Engga. Emosi malahan saya. Kantor saya kalo Sabtu jam kerja cuma separuh, artinya jam 2 siang saya udah bisa sampe rumah, seharusnya. Pas itu, kerjaan tutup bulan saya riweuh, sales susah dihubungin. Alhasil, saya nungguin data sampe jam setengah 4. Sampe dirumah? Riweuh juga dapur Ibu berantakan. Saya masuk kamar dan pilih tiduran bentar. Bodo amat lah nanti mau lamaran, saya cuek saking emosinya. Saya juga ngga tahu harus pake baju apa. Rencana mau sarimbitan aja, gagal, karena udah mepet banget. Akhirnya, pake baju seadanya.

Alur acaranya? Mas WP yang diwakili oleh PakDe ‘kulo nuwun’ bahwa maksud kedatangannya adalah untuk meminta putri dari Bapak saya, yang mana itu adalah saya :D. Bagaimana perasaan saya? Biasa. Haru, dikit. Harunya karena saya didampingi Bapak Ibu, Bapak di kiri saya, Ibu disebelah kanan, rasanya “yes, i’m your daughter, your little girl, mom dad. Dan saat ini saya sedang diminta sama orang.” Ketika dengerin PakDe ngasih wejangan, terlintas pikiran “is it true?”, “ngapain saya disini?”, “ini ada apa?” still can’t believe that I’m purposed. Selama itu ngga nangis, tapi pas ngetik ini barulah air mata berkumpul di pelupuk mata.

Kemudian, ganti Bapak saya yang memberi sambutan, mengucapkan terima kasih telah bersedia berkunjung, memperkenalkan seluruh keluarga kami, dan menampung permintaan dari Keluarga dari Mas WP. Jawabannya, akan disampaikan 1 minggu lagi ketika kami berkunjung ke Keluarga Mas WP yaitu tanggal 5 Februari.

5 Februari
Tulungagung diguyur hujan dari siang :'( dan saya masih bekerja seperti biasa. Mau pake baju apa? Ngga kepikiran, sama kayak sewaktu dilamar. Ngakak deh saya kalo inget ini, sarimbitan engga, tuker cincin juga engga, dandan ke salon juga engga. Sederhana banget. Cuma Ibu yang persiapan riweuh. Bikin jajanan yang lengket-lengket macam Jadah dan Wajik, konon katanya biar hubungannya makin lengket. Kemudian juga ada bawang putih, bawang merah, cabe, sama garam, ngga tau deh ini maksudnya apa.

Sampai malam pun hujan belum juga reda. Setelah semua keluarga saya kumpul, mau ngga mau tetep harus berangkat meski hujan rintik-rintik. Sama kayak sewaktu dilamar, acara balas lamaran ini juga diwakili oleh PakDe saya bahwa maksud dan tujuannya adalah tindak lanjut dari kunjungan keluarga Mas WP beberapa hari yang lalu. Dilanjut oleh Bapak saya yang langsung to the point, bahwa acara pernikahan kami diminta tanggal 7-8 Mei 2016.

The Date is Set.
Sebelum datang membalas lamaran kerumah Mas WP, Bapak mengajak saya dan Mas WP untuk ngobrol mengenai tanggal. Meskipun kami tinggal di Jawa dan orang Jawa asli, Bapak bukan tipikal orang yang terlalu mengutamakan perhitungan kalender Jawa. Kalender Jawa tetap dipakai, tapi kami berdua diberi kesempatan untuk memilih tanggal berapa. Beberapa pertimbangan kami ajukan. Salah satunya adalah karena kami bekerja dengan libur setiap hari Minggu bagi saya, sedangkan Mas WP hari Sabtu-Minggu libur. Itu artinya, kami akan memilih akhir pekan. Tak perlu mengambil cuti terlalu lama juga. Pertimbangan kedua adalah awal bulan. Karena apa? Kita gajian di tanggal 1 hahaha. Itu artinya, kita bisa punya tambahan pundi-pundi, dan pundi-pundi itu tidak khawatir terpakai terlalu banyak karena masih di awal bulan. Buka-buka kalender, dan nemu di awal Mei ada tanggal merah jejeran, itu artinya yang semula saya mau cuti semingguan, bisa cukup beberapa hari aja karena sudah terpotong tanggal merah hahaha.

Mas WP awalnya mau nikah di bulan April aja, tapi setelah dipikir-pikir buat nyari tambahan tabungan juga, dia sepakat Mei. Usulan saya diterima Bapak, dan ditanyakan ke Tetua, tentang bagaimana hari pilihan kami. Dan Alhamdulillah bagus. Setelah melalui perhitungan neton saya dan neton Mas WP, tanggal 7-8 Mei bagus buat kami, namun jam-jam akad nikah dan prosesi lain sesuai arahan Tetua.

Akhirnya, satu proses lebih dekat kami terlewati dengan baik dan lancar. Semoga kelancaran ini akan berlangsung tidak hanya sampai disini, tapi hingga di akhir hayat kami. Kami memahami sekali bahwa Lamaran dan Pernikahan hanyalah secuil kebahagiaan kami. Didepan nanti akan banyak batu dan kerikil tajam yang sedang menunggu kami dalam mempertahankan rumah tangga. Ini juga salah satu alasan kami mengapa kami tak berbagi kabar bahagia ini kepada teman-teman terdekat. Ini bukanlah apa-apa. Masih ada hal besar yang menunggu kami. Bahkan saya tak punya kenangan foto-foto lamaran, sama sekali tak punya. Sedih? Engga sih. Karena semua berjalan begitu apa adanya, dan kami bersyukur untuk itu.

Iā€™m Ainun, and he is my hubbiby-soon-to-be

First selfie as Fiance & Fiancee

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *