Romansa Lintang Langit pada Senja

“Bukan tak setia, Lintang sayang. Meski langit merasa syahdu mendekap bintang-bintang, ia tak tega membiarkan bumi beku kedinginan tanpa sinar mentari. Percayalah, langit siang tak akan bertahan dengan terangnya. Ia akan senantiasa menanti senja teduh yang mengantarnya bertemu kembali dengan bintang.” (Prolog)

Judul : Lintang Langit Pada Senja

Penulis : Ririn Astutiningrum

Penerbit : Laiqa – Elex Media Komputindo

Tahun Terbit : 2017

Tebal Buku : 240 Halaman

Continue Reading

Beauty Class Bareng Inez Cosmetics Tulungagung

Siapa yang ngga bisa dandan sama sekali? Ah boong! Hahaha. Sekedar cuci muka, oles pelembab dan bedak pasti bisa dong ya. Kalo gambar alis? Bikin eyeliner? Pasang bulu mata? Ah apa itu, susah banget, butuh latihan berulang-ulang dan terus menerus.

Pertengahan Januari kemarin mendadak saya ditawarin buat ikutan Beauty Class, cuma ijin suami lewat Whatsapp dan dia kasih ijin, saya konfirmasi ke yang ngajakin. Sebenarnya saya bukan perempuan yang buta amat soal urusan dandan, cuma ya ala kadarnya gitu lah. Karena kebetulan ada kesempatan yang selama ini belum pernah saya lakoni, ya kenapa tidak.

Continue Reading

Festival Bonorowo Menulis : Donasi dan Berbagi

Dua tahun yang lalu ketika saya memutuskan untuk menjadi relawan di Festival Bonorowo Menulis saya berstatus lajang. Waktu saya sangat banyak. Meski saya bekerja, untuk refreshing saya selalu bersama pacar (sekarang suami). Bukan karena saya tidak punya teman. Saya punya teman, mereka pun ada. Hanya saja seiring waktu berjalan tentu mereka punya kesibukan masing-masing. Dari situlah saya merasa perlu untuk mencari dan membentuk lingkar pertemanan yang baru. Karena teman memang datang silih berganti.

Lagipula, saya juga pernah berfikir mau sampai kapan sih maen-maen terus, cari duit, ngabisin duit, pacaran, gitu terus siklusnya. Pasti pernah kepikiran kan pengen berbuat sesuatu atau berbagi sesuatu. Waktu itu, Festival Bonorowo Menulis memfasilitasinya.

Continue Reading

3 Harapan untuk Tanah Kelahiran, Tulungagung

Dua puluh lima tahun yang lalu, seorang bayi perempuan lahir dari seorang Ibu Rumah Tangga dan Bapak pekerja biasa. Layaknya orang tua lainnya, bayi perempuan itu mendapat pendidikan dan pengasuhan dengan baik. Prinsipnya, tak perlu jauh-jauh, cukup di Tulungagung saja. Lahir di Tulungagung, sekolah di Tulungagung, bahkan menikah di Tulungagung dan dapat suami orang Tulungagung juga.

Bayi perempuan itu saya.

Semua benar. Bapak tak ingin jauh dari anak perempuan pertamanya. Meski dalam kenyataannya ada penyimpangan. Hahaha. Saya mengenyam S1 di luar kota, namun setiap hari saya pulang ke Tulungagung. Saya tidak mengenal apa itu kost, pun saya tidak tau seperti apa rasanya bingung cari makan. Tulungagung adalah kota dimana saya akan selalu kembali, Tulungagung adalah rumah.

Continue Reading

Ngrowo Culture Festival 2016

Perkenalkan, inilah kota kelahiran saya, Tulungagung. Bukan hanya kota kelahiran namun juga kota tempat saya menempuh pendidikan dan mencari nafkah. Usianya kini 802 tahun. Tua ya? 

Berada di ujung bawah Provinsi Jawa Timur, berdekatan dengan Samudra Hindia, oleh karena itu jangan tanyakan bagaimana keindahan pantainya. Masih ada puluhan pantai alami yang belum terjamah oleh manusia bahkan belum diketahui namanya. Mau ber-adventure? Silahkan.

Di penghujung tahun 2016, kota yang sebelumnya bernama Ngrowo ini menggelar rangkaian acara dalam rangka Hari Jadi-nya. Salah satunya, Ngrowo Culture Festival.

Ngrowo Culture Festival ini sebenarnya bisa disebut Toeloengagoeng Tempoe Doeloe. Yang mana sebenarnya event semacam ini juga digelar di kota lain seperti Malang Tempoe Doeloe dan Blitar Tempoe Doeloe.

Continue Reading