3 Tips Mengenalkan Kebiasaan Membaca

Semenjak jualan buku, (((yailah jualan buku lagi))), ya habis gimana dong, ternyata jualan buku ini kok makin kesini makin seru. Hahaha. Seru soalnya saya nyampah mulu ya di status Whatsapp, buku lagi buku lagi. Maafkan. Jangan bosen ya, bukunya warna warni kan, lucu kan, makanya beli dong. (((teteup promosi)))

Iya, jadi semenjak jualan buku ini saya juga mendapat cerita-cerita menarik dari teman-teman yang pernah beli. Mereka yang tertarik, kemudian beli, temennya yang lain kepincut, beli deh di saya. Ah rasanya, bahagia sekali. Terima kasih banyak. Ada juga yang curhat kalo anaknya lebih suka gadget daripada buku, tapi kemudian nggak beli buku. Ya nggak apa-apa kok. Nggak dapat orderan, tapi dapat ide menulis. Terima kasih banyak juga. Hahaha.

(Baca juga : Anakku lebih suka gadget)

Continue Reading

Festival Bonorowo Menulis : Donasi dan Berbagi

Dua tahun yang lalu ketika saya memutuskan untuk menjadi relawan di Festival Bonorowo Menulis saya berstatus lajang. Waktu saya sangat banyak. Meski saya bekerja, untuk refreshing saya selalu bersama pacar (sekarang suami). Bukan karena saya tidak punya teman. Saya punya teman, mereka pun ada. Hanya saja seiring waktu berjalan tentu mereka punya kesibukan masing-masing. Dari situlah saya merasa perlu untuk mencari dan membentuk lingkar pertemanan yang baru. Karena teman memang datang silih berganti.

Lagipula, saya juga pernah berfikir mau sampai kapan sih maen-maen terus, cari duit, ngabisin duit, pacaran, gitu terus siklusnya. Pasti pernah kepikiran kan pengen berbuat sesuatu atau berbagi sesuatu. Waktu itu, Festival Bonorowo Menulis memfasilitasinya.

Continue Reading

3 Harapan untuk Tanah Kelahiran, Tulungagung

Dua puluh lima tahun yang lalu, seorang bayi perempuan lahir dari seorang Ibu Rumah Tangga dan Bapak pekerja biasa. Layaknya orang tua lainnya, bayi perempuan itu mendapat pendidikan dan pengasuhan dengan baik. Prinsipnya, tak perlu jauh-jauh, cukup di Tulungagung saja. Lahir di Tulungagung, sekolah di Tulungagung, bahkan menikah di Tulungagung dan dapat suami orang Tulungagung juga.

Bayi perempuan itu saya.

Semua benar. Bapak tak ingin jauh dari anak perempuan pertamanya. Meski dalam kenyataannya ada penyimpangan. Hahaha. Saya mengenyam S1 di luar kota, namun setiap hari saya pulang ke Tulungagung. Saya tidak mengenal apa itu kost, pun saya tidak tau seperti apa rasanya bingung cari makan. Tulungagung adalah kota dimana saya akan selalu kembali, Tulungagung adalah rumah.

Continue Reading

Kopdar Blogger Tulungagung Menulis #2


Tinggal di kota kecil beberapa kali bikin saya sering ngerasa iri dengan berbagai event-event blogger di kota besar, ketemu para pembicara-pembicara yang keren, belum lagi doorprize-doorprize yang bikin ngiler :D. Buat ke Surabaya aja saya butuh waktu perjalanan kurang lebih 4 jam, kalo ngga macet. Kalo macet bisa 5-6 jam di perjalanan, bisa kering kucel dong saya. Suatu kali saya sharing sama blogger di komunitas yang juga sama-sama dari kota kecil, ada komentar “kenapa ngga bikin sendiri di kota mu?”. Ide bagus! Cari-cari di sosmed berbagai akun lokal dan bertanya ada ngga komunitas Blogger, ternyata masih jarang. Pernah ada, tapi hidup segan mati tak mau gitu lah. Dan muncullah Blogger Tulungagung Menulis.

Continue Reading