Happy Birthday, Bunda Zakyzahra Tuga

Hai Bunda…

Beranda Facebook pagi ini mengingatkan bahwa Bunda Zakyzahra Tuga sedang berulang tahun. Ada pilihan kirim pesan, seketika itu ingin mengucapkan. Ah, tapi asyiknya kalo dijadiin postingan blog ini, bisa lebih panjang 😀

Saya sebenarnya ingat Bunda berulang tahun, karena tanggalnya sama dengan sepupu saya. Selain itu, kita pernah ngobrol di sore hari tentang zodiak dan ternyata kita sama. *salim dulu sama sesama Pisces*

Continue Reading

Festival Bonorowo Menulis : Monolog Ibu Inggit (Lely Mei – API Bandung)

Salah satu komunitas yang hadir di Festival Bonorowo Menulis (9-11 Oktober 2015) adalah komunitas API Bandung. Mereka secara khusus datang dari Bandung, Jawa Barat ke bumi Bonorowo untuk turut sumbangsih dalam festival ini. Di hari pertama, ada penampilan konser buku dari Adew Habtsa, sayang sekali dihari pertama saya tidak dapat mengikutinya, karena terhalang ijin kerja. Dihari kedua ada penampilan Monolog Ibu Inggit dari Lely Mei (Cici).

Monolog adalah seni peran dimana hanya dibutuhkan satu orang untuk memerankan. Jujur, awalnya saya tidak mengetahui siapa itu Inggit, saya pikir dia adalah tokoh sastra hehehe *sungkem sama sejarah*. Saya memang belum pernah mendengar nama Inggit Garnasih, bahkan dalam sejarah ketika saya mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Monolog Ibu Inggit diperankan oleh Lely Mei, salah satu anggota dari komunitas dari Api Bandung. Berdandan jawa dengan kebaya kutu baru dan jarit batik, Ia naik keatas panggung, memperkenalkan diri sebagai Inggit Garnasih. Kata orang, jika pemuda-pemuda mendapatkan senyumnya seperti mendapatkan uang seringgit. Kala itu, seringgit adalah uang dengan nominal yang sangat besar.

IMG-20151010-WA0058
Photo by Husniati Salma (Photographer Volunteer)
Continue Reading

Festival Bonorowo Menulis : Penyeimbang Hidup

image

Di waktu pertama kali bertemu dengan para relawan, yang waktu itu udah pernah saya posting ceritanya, ada sedikit ingatan melintas hehehe

Tentang motivasi. Saya lupa namanya karena beliau datang terambat bersama anaknya yang masih berusia sekitar 5 tahun. Ketika beliau diminta untuk berbagi tentang motivasi, beliau bilang bahwa beliau ingin menyeimbangkan hidup.

Sederhana sekali bukan? Iya sih, kita ini kadang terlalu disibukkan dengan urusan duniawi, entah itu bekerja atau bisnis. Terkadang kita juga lupa untuk bertemu teman, karena kesibukan atau bahkan keasyikan cukup dengan chatting. Padahal ada kekuatan magis yang sulit diungkapkan saat kita bersilaturahmi tatap muka, menggunakan seluruh panca indera kita. Beliau ini merasa terlalu disibukkan dengan bekerja dan ingin berkegiatan sosial dan memilihlah menjadi relawan literasi.

Pada akhirnya, kesibukkan apapun jika terlalu berlebihan tidaklah baik. Kita butuh penyeimbang. Kita butuh penyelaras. Pandai-pandai membagi waktu agar kesemuanya elemen dalam hidup mendapat porsinya yang sesuai. Sudah seimbangkah hidupmu?

Continue Reading