Storial Day 6 : Tiga Hal Baik

Rasanya kayak baru kemarin melewati malam tahun baru dengan staycation. Kemarin, suami udah nanya, tahun baru agenda kita apa?. Refleks saya jawab, pandemi, beb!

Yha meskipun akhir-akhir ini orang-orang sudah mulai selow, tapi aku belum berani kemana-mana. Hati sih pengen, tapi males aja harus prokes ketat. Mending dirumah aja. Then, curva pandemi naik lagi. Hadeh!

Mindfullness

Awal-awal pandemi aku belajar tentang mindfullness. Hidup dengan sadar. Pelan-pelan itu tidak apa-apa. Tidak ada yang memaksa kita harus selalu produktif. Kalo kita memilih leyeh-leyeh ya nggak apa-apa. Secara sederhananya begitu.

Kalo mau belajar lebih mendalam, buanyak banget. Ada bukunya. Bisa juga follow Instagram dan Twitter @adjiesantosoputra.

Tapi, kalo aku pribadi, hidup dengan kesadaran penuh ini lebih ke praktek jangka panjang dan perlu dijadiin prinsip hidup. Hidup dengan serba kemudahan ini kadang bikin kita maunya serba cepat.

Misalnya, urusan duniawi atau kepemilikan. Pengen cepet punya mobil atau rumah, yang diangan-angan gimana caranya kredit, tanpa memperhitungkan pos-pos lain. Akhirnya, ratio kredit lebih dari ratio idealnya. Hidup ngos-ngosan.

Lagi, pengen cepet nikah. Dengan dalil, siapa yang lebih dulu mengajak serius, diiyain. Kemudian, ternyata personality zonk. Kemampuan komunikasi not good. Ternyata, visi misi hidup tidak sejalan. Butuh penyesuaian ini itu yang melelahkan. Muncul opsi cerai. Aduh sedih deh!

Selain dua hal besar itu, hidup dengan sadar juga bisa dipraktekin untuk kesehatan. Sadar dalam memilih makanan yang masuk ke perut. Tidak berlebihan dalam makan. Makan secukupnya dengan nutrisi yang baik. Sadar dengan gaya hidup yang baik. Sadar bahwa tubuh harus istirahat karena sudah mengajaknya bekerja.

Spiritualitas

Dari mindfullness, saya belajar mengenal lebih dalam tentang spiritualitas. Agak berat sih. Haha. Karena baiknya ini ditemukan sendiri atau melalui proses pencarian sendiri. Dari belajar tentang kesadaran hidup tadi, ternyata membawa pengaruh ke sisi spiritualitas saya.

Buat saya, salah satu cara melatih mindfullness adalah dengan meditasi. Meditasi akan membawa tubuh, pikiran dan jiwa kita kembali reset atau bersih. Dengan jiwa yang bersih ini gelombang spiritualitas saya rasanya lebih tenang. Ibadah pun lebih mudah untuk fokus.

Aduh, dalem deh. Saya nggak pengen merasa lebih tau dengan menulis tentang spiritualitas ini. Tapi, hal baik tentang spiritualitas ini saya temukan di 2020 sebagai berkah yang luar biasa. Seperti, menilik kembali bagaimana kualitas komunikasi saya dengan Sang Pencipta.

Keajaiban dan Kebesaran Tuhan

Setelah belajar tentang mindfullness, belajar meditasi, belajar grounding dan menilik spiritualitas. Hal baik berikutnya yang saya pelajari adalah tentang kebesaran Tuhan.

Masih berhubungan kan dengan dua hal sebelumnya?! Seperti kita tau, pandemi ini banyak sekali membawa perubahan. Disuguhi berita yang mengoyak hati, membuat banyak hati tergerak untuk selalu berbagi kabar baik. Sekecil apapun. Berita pekerja dirumahkan. Kematian setiap hari. Kurangnya tenaga kesehatan. Memaksa diri kita untuk belajar mensyukuri hal-hal kecil apapun.

Kebersamaan, kesehatan, makan dirumah, berkumpul dengan keluarga, rasanya itulah keajaiban dan kebesaran Tuhan yang benar-benar saya rasakan. Membawa saya pada pandangan bahwa hidup saya lebih dari cukup. Bahkan jika mulut ini mau bersyukur dan berterima kasih di setiap detik, rasanya tidak akan sepadan.

Apakah ini efek dari kesadaran hidup yang saya bawa sehingga hal-hal sederhana pun rasanya mewah? Entahlah.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.