Sebuah Penghargaan

Semakin dewasa umur ini, rasanya makin malas untuk menemukan sahabat. Sahabat yang dalam arti sering Whatsapp, sering curhat, saling perhatian blablabla… Semoga kalian paham ya maksud saya 😀

Karena kalo di jaman sekolah, pasti punyalah sahabat macam itu. Sahabat kepompong, be ef ef a.k.a best friend forever, dan sebutan lainnya. Trus curhat soal pacar masing-masing, kadang orang tua masing-masing, pokoknya segala dicurhatin. Sampe kadang si pacar cemburu karena ada istilah sahabat lebih penting daripada pacar. Kayak pacar saya dulu. Hahaha.

Tapi sudah gede, dewasa dan menua gini, apalagi sudah menikah, pelan-pelan yang namanya bff gitu memudar. Karena sahabat kita adalah suami/istri kita, tempat mencurahkan segala keluh kesah emosi ya ke teman tidur aja lah. Sambil tiduran cerita-cerita, berawal dari apa, berakhir ke apa. #eh

Namun, saat saya menulis postingan ini saya baru saja bertemu dengan geng sekolah saya. Ya sekarang sih udah jarang-hampir nggak pernah curhat menye-galau-mewek gitu, tapi komunikasi masih baik.

Frekuensi ketemu pasti sangat berkurang. Saat masih sekolah, selain setiap hari ketemu di sekolah, diluar jam sekolah masih gampang diagendakan, sekalipun waktu itu cuma modal SMS komunikasinya. Kemudian saat masing-masing kita kuliah di kampus masing-masing, ya seminggu sekali kadang masih ketemu buat sekedar ngopi ato makan di angkringan. Kalo sama pacar bingung kemana, yaudah kirim pesan ke grup, hari ini ada agenda kemana? Cuss lah siapa aja yang bisa.

Bukan hanya itu, namanya ya temen deket, semua saling hafal tanggal lahir. Ulang tahun kumpul, sekalipun cuma jajan krupuk dan makan dirumah. Setiap bulan puasa, selalu diagendakan untuk buka puasa bareng, cuma bertujuh doang. Dari yang buka puasa di resto sampe yang terakhir karena bingung buka puasa dimana, yaudah dirumah aja, pake ayam goreng, yang penting kumpul.

Begitupun dengan Lebaran, kita selalu punya waktu sehari full buat silahturahmi ke rumah masing-masing. Dimulai dari rumah siapa, lalu rumah siapa, berakhir dirumah siapa. Selalu ada rute perjalanan tiap lebaran. Meskipun tradisi ini mulai berubah, karena beberapa dari kami telah berkeluarga dan punya balita, tentu waktu nggak se-efisien dulu.

Sebaik-baiknya kita seperti itu, sekompaknya kita, tapi kita pernah kok saling ngerasa sakit hati satu sama lain. Efeknya males ketemu, males nanggepin chat grup, males lah. Dan, itu wajar banget!

Saya bangga sama ke-6 sohib ini. Terlepas dari motivasi masing-masing untuk bertahan dalam ‘geng’, saya menghargai kesetiaan yang mereka perjuangkan dalam kelompok ini.

Saya paham banget makin dewasa, makin lebar dan luas pula lingkar pertemanan kita. Ada yang punya temen kerja, ada yang punya temen komunitas. Tapi mereka masih bersedia merespon segala bentuk komunikasi kita. Terima kasih dari lubuk terdalam.

Semakin berumur gini, setiap kali saya bertemu mereka, entah untuk acara apa aja, agenda apa aja, sesampainya dirumah saya selalu bersyukur. Berterima kasih sama Tuhan Yang Maha Kuasa, karena sudah memberi saya hidup yang begitu luar biasa dengan kehadiran mereka.

Ngga semua dari kita punya hobi yang sama, punya ketertarikan yang sama. Hanya satu benang merah yang mengikat, segala cerita di SMA.

This post dedicated to all of you, Dears my Ladies Only!

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.