Romansa Lintang Langit pada Senja

“Bukan tak setia, Lintang sayang. Meski langit merasa syahdu mendekap bintang-bintang, ia tak tega membiarkan bumi beku kedinginan tanpa sinar mentari. Percayalah, langit siang tak akan bertahan dengan terangnya. Ia akan senantiasa menanti senja teduh yang mengantarnya bertemu kembali dengan bintang.” (Prolog)

Judul : Lintang Langit Pada Senja

Penulis : Ririn Astutiningrum

Penerbit : Laiqa – Elex Media Komputindo

Tahun Terbit : 2017

Tebal Buku : 240 Halaman

Sinopsis :

Lintang dan Langit selalu merasa dunia tak adil hingga mereka melangkah bersama. Lintang dan Langit serupa dua tapak tangan yang tak akan bisa menjabat tanpa satu sama lain. Indahnya cinta dan dunia mereka genggam dalam batin yang sejatinya kelam. Mereka bersama menepi sunyi, tak peduli bagaimana hari nanti.

Satu ketika, kenyataan pahit merenggut paksa kebersamaan mereka. Tiada lagi Lintang pada Langit. Getir demi getir dijalani masing-masing hingga takdir kelak mempertemukan mereka kembali dalam keadaan yang berbeda.

Ada senja diantara langit dan bintang-bintang. Senja yang mengajarkan arti hidup, cinta sejati dan perjuangan. Senja yang senantias setia. Senja yang sekejap muncul lalu sirna, namun senantiasa berkorban demi kerlip cahaya bintang.

“Lintang, aku adalah Langit. Langit yang senantiasa menaungimu, mendekapmu, memayungimu hingga pagi tiba. Andaipun mentari memaksamu pergi, bukankah ada senja yang selamanya mempertemukan kita?”

***

Sejujurnya, saya hampir lupa kapan terakhir kali baca novel, karena saya kebanyakan baca buku anak dan parenting. Kalo saya sedang butuh bacaan yang lain, saya memilih kumpulan cerita. Hingga kemudian saya baca novel Lintang Langit pada Senja ini. Awalnya saya juga ragu akan mampu dan punya waktu baca novel ini, karena kalo dirumah saya sudah disibukkan dengan Marwa. Nyatanya, saya mampu menyelesaikannya.

Itu dikarenakan alur cerita dan pemilihan diksi yang digunakan Mba Ririn indah sekali. Mba Ririn pandai menuliskan kisah Langit dan Lintang yang begitu familiar dengan keseharian kita. Langit, laki-laki yang berjuang membiayai hidup dengan bekerja sebagai juru parkir disebuah studio karaoke, kemiskinan yang menjeratnya membuat Ia tak lagi mempercayai Tuhan. Sedangkan Lintang, gadis bergelimangan harta yang tak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya, Ia mengutuk Tuhan tak adil padanya. Kehidupannya sepi, hingga Langit hadir dalam hidupnya.

Namun takdir harus merenggut kebersamaan mereka. Langit dan Lintang yang sama-sama percaya bahwa mereka saling melengkapi, tiba-tiba saja harus berpisah. Konflik demi konflik yang kemudian dihadirkan oleh Mba Ririn semakin mengaduk emosi saya sebagai pembaca. Entah berapa kali saya harus mengusap air mata saya sendiri.

Bukan hanya tentang konflik romansa dua anak manusia yang meragukan Tuhan, novel ini juga menggambarkan sejarah kota Bandung, tempat Lintang dan Langit bertemu. Selain itu, yang menambah kebanggaan saya, Mba Ririn juga menggambarkan Tulungagung, Desa Pagerwojo. Sebagai orang Tulungagung, saya seolah ditarik masuk ke cerita, seolah Lintang dan Langit ada dihadapan mata saya. Setting Pondok Al-Falah Ploso, RS Gambiran, semua nyata pernah saya jumpai.

Kemudian munculnya sosok Senja, gadis sholihah yang kuliah di Institut Ilmu Kesehatan, banyak bertutur tentang kehidupan, iman dan takwa. Melalui tokoh Senja, Mba Ririn mengangkat kisah para sahabat Rasulullah dan para wanita penghuni surga sebagai kisah yang patut kita teladani. Lagi-lagi, saya mengusap air mata yang tumpah. Novel cinta penuh drama, tapi terasa mengalir nyata.

***

Saya mengenal Mba Ririn sebagai penulis karena beliau sempat diundang untuk acara literasi salah satu komunitas yang saya ikuti. Saya tahu karyanya sudah banyak sekali. Dengan mengetahui beliau berdomisili di Kediri, saya merasa dekat. Padahal, berjumpa pun belum pernah, kami hanya berteman di sosial media.

Membaca salah satu novelnya ini membuat saya bersemangat untuk semakin giat belajar menulis. Apalagi dengan gambaran Tulungagung, Pondok Al Falah, RS Gambiran, Kampus IIK, rasanya inspirasi itu nggak datang jauh-jauh. Bukankah jadi kebanggaan tersendiri saat kampung sendiri abadi dalam sebuah karya?

Sukses selalu untuk Mba Ririn Astutiningrum!

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *