(Review) Kisah Lainnya; Catatan Ariel, Uki, Lukman, Reza, David

Hei, aku menulis ini saat jam istirahat kerja, karena baru menyelesaikan baca dan nggak sabar untuk menuliskannya. Mumpung feel-nya masih sangat kuat.

Jadi, beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja aku membaca ulasan buku ini di feed Instagram seorang teman. Dia memberi rating bintang 5. Tanpa banyak ba-bi-bu, aku iseng cari di Ipusnas. Dan, ADA!

Buku Kisah lainnya adalah catatan dari Nazriel Irham a.k.a Ariel Peterpan. Siapa yang tidak kenal dengan band Peterpan? Band ini menemani masa-masa SMP aku. Dimana rasanya setiap kali ada festival band atau perpisahan sekolah selalu ada band yang membawakan lagu Peterpan. Banyak teman-temanku yang fans Peterpan, sampai-sampai gaya ngeband ngikutin gaya Ariel. Punya teman gitu kan? Ariel adalah sosok idola, nggak hanya lagunya tapi juga style-nya.

Buku ini dibuka dengan cerita ketika Ariel sedang meeting namun meeting itu terpaksa ditinggalkannya karena Ia mendengar desas-desus file data pribadinya yang tersebar. Yang mengakibatkan dia harus menghilang sejenak, namun akhirnya menyerahkan diri ke Kepolisian. Diiringi dengan pelukan orang terdekatnya, Ariel menyerahkan diri di halaman belakang Apartemen.

Kisahnya pun dimulai. Ariel bercerita tentang prosesnya menemukan jiwa seni musik dalam dirinya, meskipun jiwa Arsitek lebih kuat. Ariel lebih hobi menggambar daripada bermusik. Namun, gejolak mudanya yang tak terbendung untuk menekuni musik. Kemudian Ia bertemu dengan Indra dan Andika, personel pertama yang membangun Peterpan.

Masing-masing dari personel disini juga bercerita tentang bagaimana proses mereka saling menemukan. Tentang bagaimana latar belakang mereka, keahlian mereka, dan proses mengasah keahlian mereka. Ngamen dari cafe ke cafe, dari bayaran ratusan ribu hingga bertemu dengan Bu Acin Musica Studio dan tanda tangan kontrak.

Ariel dan lainnya juga bercerita bagaimana proses mereka menulis lagu, saling melengkapi not hingga menemukan rytme yang sesuai dengan jiwa Peterpan. Menjadi idola, mereka menyadari hidup mereka sudah berbeda. Berada di tempat umum, banyak yang meminta tanda tangan dan foto bersama. Berhamburan royalti, mereka khilaf dengan mudahnya membeli barang kesukaan. Hingga, Ariel tersandung kasus asusila.

Banyak tim yang kehilangan pekerjaan hingga harus menjadi security. Banyak aset yang harus terjual, karena praktis tidak ada pemasukan. Vakumnya Peterpan membawa perjalanan sendiri bagi masing-masing personel. Ariel bertemu dengan Abu Bakar Baasyir, dipindahkan dari Bareskrim ke Rutan Kebon Waru Bandung. Salah satu personel menemukan jalan spiritual hijrah. David, sang Pianis, mengalami sakit batu empedu yang mengharuskannya menjalani operasi sebanyak 4x. Ditemani Uki, David melalui masa kritisnya. Personel lainnya, hilang kontak.

Meskipun berada di dalam penjara, Sahabat Peterpan (sebutan untuk fanbase Peterpan) tidak pernah absen berkunjung. Mereka memberikan kekuatan pada Ariel. Hal itulah yang menjadi penguat Ariel untuk bangkit lagi dan tidak membubarkan Peterpan. Ariel sempat memberi opsi kepada teman-temannya, silahkan mencari pengganti saya agar tetap berkarya dengan Peterpan. Apalagi, salah satu personelnya juga mendapat tawaran dari band lain. Peterpan sudah mati, katanya.

Dari balik jeruji, Ariel memberikan ide untuk mengeluarkan album Instrumentalia. Ide yang disetujui oleh Bu Acin Musica Studio. Beruntung, Peterpan memiliki Bu Acin yang setia menggawangi. Meskipun tidak yakin juga apakah album Instrumentalia akan memberikan daya jual seperti album lainnya. Bukan hal yang mudah bagi sebuah band untuk bangkit dari vakum. Album Instrumentalia keluar dengan tajuk Suara Lainnya, kemudian digelar Konser Tanpa Nama. Peterpan tetap Peterpan, namun mereka merasa perlu nama baru untuk menyambut bebasnya Ariel. Dan, jadilah Noah sekarang.

Sama seperti temanku, aku memberikan bintang 5 untuk buku ini. Tidak menyangka Ariel bisa menulis, editornya juga oke. Jadi, buku ini ringan dibaca, emosinya dapat. Apalagi sambil mendengarkan album Peterpan. Berkali-kali saya menangis. Buku ini bercerita tentang sosok yang tidak kita ketahui tapi kita suka judging. Bukan untuk membersihkan nama baik. Karena faktanya, dari orang sekitarnya, kita akan tau Ariel seperti apa, bukan karena apa yang dialaminya.

Menuju halaman akhir, saya mendengarkan album Instrumentalia. Nangis lagi. Melalui buku ini, Ariel dan teman-temannya bercerita tentang proses kreatif berkarya. Ada emosi, bertengkar, saling keterikatan, berbagi jiwa dalam menyampaikan karya dan perjalanan saling beradaptasi. Apa yang menimpa Ariel, juga menjadi perjalanan bagi yang lain. Mereka sama-sama menyadari bahwa ini sudah digariskan Tuhan.

Setelah baca ini, mungkin kalian akan mendadak ngefans dengan Noah dan mendengarkan lagu-lagunya. Sembari membayangkan perjalanan mereka waktu itu. Haha. Baca di Ipusnas, ya! Selamat membaca…

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.