Rabu Pagi, 29 April 2015

Pagi-pagi aplikasi BBM sudah dihebohkan dengan salah seorang teman yang pasang Display Picture hasil screen-capture dari Tempo.co dengan headline “Kampus Dinonaktifkan, Ribuan Mahasiswa UNP Kediri Resah”. Kenapa saya turut heboh? Karena hampir 50% dari teman saya adalah mahasiswa alumni UNP Kediri. Saya sendiri juga lulusan mahasiswa salah satu kampus di Kediri, jadi saya kenal dengan baik dimana dan seperti apa kampus tersebut, tentunya dari sumber teman-teman saya tadi.

Dari beberapa artikelnya, menyebutkan bahwa hal ini terjadi karena data mahasiswa yang kurang valid, jumlah dosen yang tak memadai dengan jumlah mahasiswanya. Tidak mengherankan juga, mahasiswa di UNP Kediri itu banyak sekali. Bahkan teman saya kemarin wisuda di hari ketiga, artinya wisuda disana digelar selama 3 hari berturut-turut, super!. Mengingat kampus saya hanya menggelar wisuda selama sehari, itupun untuk wisuda strata-1 dan wisuda magister.

Salah seorang teman di BBM pun update status “Gak penting kamu kuliah dimana dan lulusan apa, yang penting kamu bisa menghasilkan uang” yang notabene memang alumni dari UNP Kediri, yang kemudian di copy paste oleh teman lainnya. Secara pribadi, yes I’m Agree. Saya alumni kampus swasta, secara tidak langsung, iya ini bener banget. Apalagi di zaman yang serba mahal ini, tentu bukan hal yang mengejutkan jika masyarakat kita hanya berorientasi tentang uang. Untuk apa kuliah tinggi dan jauh jika bukan untuk mendapatkan pekerjaan layak dengan gaji tinggi? Lantas, hanya untuk itu kah kita kuliah? Hanya untuk uang?

Melihat kasus kampus UNP Kediri, terlebih bagi mahasiswa yang saat ini sedang mengenyam pendidikan kuliah, dimana dan bagaimana pun kampus bergantung kepada diri mahasiswa. Bukankah kuliah dimana dan ambil jurusan apa itu adalah pilihan, jadi mari belajar bertanggungjawab dan bersiap akan konsekuensi. Kualitas diri kitalah yang menentukan. Kuliah bukan hanya tentang bagaimana menghasilkan uang atau bekerja sebagai apa, sungguh menurut saya orientasi yang sempit dan payah. Lebih baik mari kita pikir bersama-sama mau ambil bagian sebagai apa kita di masyarakat? Cukupkah menjadi bagian masyarakat yang menghasilkan uang? Saya yakin, tidak. Hidup bukan hanya tentang kuantitas, melainkan kualitas.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *