Pra Bunda Sayang : Wahana Istana Pasir

Setelah setahun lebih lulus dari Matrikulasi, akhirnya dibukalah kelas Bunda Sayang oleh Institut Ibu Profesional. Senangnya karena bersamaan dengan pendaftaran ajaran baru. Dimana, banyak kanan-kiri yang seusia Marwa sudah mulai masuk sekolah, eh Kelompok Bermain atau Playgroup begitulah.

Bagaimana Marwa? Tidak mau dong. Sekolah dirumah saja, katanya. Ada corona. Yhaaa~ kok masuk akal juga jawabannya.

Bunda Sayang ini kata beberapa kakak kelas, waktunya setahun. Sekitar 13-14 bulan dengan 12 materi dan partner belajarnya adalah anak. Kebetulan, kan, anaknya nggak mau sekolah, Ibunya masuk kelas Bunda Sayang. Cocok! I’m so excited!

Karena kini Institut Ibu Profesional memasuki New Chapter 2020, maka Bunda Sayang juga berbeda, salah satunya adanya Pra Bunda Sayang untuk menyesuaikan frekuensi sekaligus refreshing.

Pra Bunda Sayang pun materinya live di Facebook Group. Meski ada group support di Whatsapp untuk Regional. Di live kemarin disinggung tentang Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Saya jadi buka-buka NHW Profesionalisme Perempuan nih…

Baca juga : Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga

Dari checklist yang telah saya bikin setahun lalu, alhamdulillah 85% ter-check. Saya sekarang lebih rajin memasak daripada setahun lalu yang seminggu sekali. Setiap malam menghabiskan waktu dengan Marwa, entah bermain atau ngobrol foto-foto dengan filter IG. She also said, Nda Nun kan temanku. Bukankah itu cukup menjadi indikator bahwa saya cukup berproses menjadi Kebanggaan Keluarga?!

Jika saya analogikan, saya adalah mutiara…

Pixabay

Dengan cangkang yang tertutup, saya terdampar. Blar! Saya nggak punya ilmu jadi istri dan Ibu. Anugerah hamil cepat, pernah bikin saya linglung, how to treat a baby? She is growing too fast!

Like a pearl, saya menggosok diri saya sendiri. Saya cari ilmu, saya memaksa diri saya untuk belajar. Pernah jatuh dalam peliknya pernikahan dan pengasuhan, bangkit lagi untuk berjuang, menggosok mutiara lagi, melatih diri lagi, lagi dan lagi. Now, I’m shining enough and ready to show for my daughter.

Jadi, ayo kita bangun Wahana Istana Pasir kita…

2020-07-29_12-01-34

Saya sematkan 5K versi saya untuk Istana Pasir kami,

Kritis – saya berharap, wahana istana pasir ini bisa jadi wahana latihan berpikir kritis bagi kami. Ada komunikasi dua arah dan diskusi mendalam mengapa begini begitu

Kreatif – wahana istana pasir ini juga akan menjadi wahana kami dalam mengasah kreatifitas

Kasih Sayang – tentu harus ada kasih sayang, karena kami melibatkan keluarga

Kompak – saya berharap, wahana ini akan menjadi wahana melatih kekompakan kami sebagai keluarga

Konsisten – bukan hanya bersifat temporary, wahana ini akan menjadi wahana bermain selamanya, terlebih ketika kami sedang butuh ‘refreshing’

Namanya istana pasir, tentu kami harus bersiap akan sapuan ombak. Meski begitu, ditengah proses membangunnya, semoga 5K yang saya sematkan akan mewarnai perjalanan kami dalam menggosok mutiara sebagai keluarga. Shining, shimmering, splendid, kayak lagu A Whole New World. Haha.

Jadi, nyanyi? Hehe…

Kalo dirasa-rasa, kok nyambung, ya? Proses pengasuhan ini adalah proses kami menunjukkan dunia pada anak, realita hidup dan bekal bertahan hidup melalui permainan dan belajar. Anak belajar, orangtua juga belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.