Plugged Duct dan Ujian Menyusui Lainnya

Setelah cerita tentang Ujian Menyusui yang saya alami di usia Marwa 13 bulan ini, saya jadi flashback ke ujian-ujian sebelumnya. Sekalian buat semangatin diri sendiri kalo saya masih mau dan mampu lanjutin perjalanan menyusui ini.

Ujian yang paling besar yang masih saya ingat adalah ketika Marwa usia 4 bulan dan 9 bulan. Tiap semester ada aja ya ujiannya.

Plugged Duct / Penyumbatan Aliran Susu

Plugged Duct / Penyumbatan Aliran Susu ini terjadi saat usia Marwa 4 bulan. Pompa ASI saya baru beli itu, setelah sebelumnya sewa selama 2 bulan. Suami kasih ijin saya buat beli, alhamdulillah akhirnya punya sendiri. Sekalian buat semangat “udah beli sekian nih, ayo harus konsisten pompa” gitu deh.

Saya masih inget sekali, waktu itu hari Sabtu, saya kerja seperti biasa. Tapi pas mau pompa, ada printilan yang ketinggalan, yaitu backflow. Saya telpon suami untuk nganterin ke kantor. Kondisinya payudara saya sudah sakit selama beberapa hari. Awalnya seperti muncul jerawat gitu di aerola, lama-lama benjolan jerawat hilang sendiri, tapi rasa sakit kalo dipegang belum hilang. Payudara mulai penuh, backflow tak kunjung datang, saya mulai kompres payudara karena sudah mulai keras. Sudah mulai merasa deg-deg an karena telat pompa. Backflow datang, mulai pompa dengan mringis-mringis karena ternyata sakit. Tapi ngga ada ASI yang keluar. Huaaa~ kenapa nih? Bingung dan takut campur jadi satu. Makin siang, badan kok mulai meriang, payudara berasa penuh tapi ngga bisa di pompa. Rasanya sudah mulai pengen nangis di meja kantor.

Segera telpon suami untuk segera jemput dan memutuskan mampir ke dokter dulu. Karena saya makin meriang dan mulai demam. Di dokter, kebetulan deket rumah dan beliau perempuan, payudara saya dipegang-pegang.

Beliau bilang, ini sudah mulai infeksi Mba. Saya kasih antibiotik ya, sampe rumah kompres terus dan harus dikeluarkan air susunya.

Seperti petir menyambar. Jedeeer~~~

Yang saya khawatirkan cuma 1 waktu itu, saya takut kalo ngga bisa menyusui Marwa lagi, pdhl sebentar lagi 6 bulan.

Saya nangis-nangis. Ibu mertua bingung. Suami juga bingung. Rasanya sakit sekali, payudara dipegang keras banget, tapi dipompa ngga mau keluar. Mungkin karena saya stres berat, jadi hormon prolaktin ngga bekerja.

Sampe kemudian 6 jam setelah dari dokter, benjolan seperti jerawat muncul lagi dan pecah. Keluarlah air susu mancur-cur-cur, persis air mancur. Keluar ngga terkontrol dan suhunya panas. Bercampur nanah sedikit dan darah. Refleks ditampung di tissue sama suami, berlapis-lapis. Lega tapi masih sedih.

Malam harinya saya masih demam. Persis gejala mastitis, hanya saja payudara belum sampe level kemerahan. Kompres air hangat pun saking seringnya saya lakukan bikin kulit ari di sekitar payudara mulai mengelupas. Setelah saya pastikan bahwa nanah dan darah sudah ngga keluar, saya berani menyusui Marwa. Benjolan yang pecah meninggalkan lubang, yang mana air susu juga bocor dari lubang tersebut.

Selama kesakitan itu, saya minta ijin ke kantor untuk ngga kerja dulu. Saya pulang kerumah orang tua. Nangis-nangis cerita kalo kemarin sakit dirumah mertua. Saya panggil Ibu Pijat, juga ke dokter lain untuk mencoba mencari pendapat lain tentang kondisi saya. Dan dapat kesimpulan kalo saya penyumbatan aliran susu tapi hampir mastitis. Dokter kedua ini malah bilang saya harus tetap bersyukur karena artinya ASI saya banyak.

ASI banyak ngga selalu membahagiakan, kadang ia malah jadi petaka.

Pelan-pelan kondisi membaik, saya tetap lanjut menyusui Marwa di payudara tersebut, pelan-pelan kenyotan Marwa lah yang membawa payudara saya kembali normal. Lubang yang ditinggalkan juga menutup sendiri. Namun, hasil pompa dari payudara yang tersumbat ini menurun drastis.

Yasudahlah, saya cuma bisa berdoa, semoga masih diijinkan menyusui Marwa sampe 2 tahun.

Kulkas Rusak

Ngebuang ASIP berliter-liter sebenarnya sudah biasa buat saya. Awal-awal sedih sih, tapi kalo kelamaan disimpan juga buat apa. Freezer mulai full dan susah dibuka. Apalagi kulkas 1 pintu, untuk daya tahan ASIP bagusnya cuma 15 hari. Belum lagi kalo bunga es tebal banget, pintu freezer ngga bisa menutup sempurna, khawatir dengan kualitas ASI juga.

Menginjak 9 bulan, hasil pompa sudah mulai stabil lagi setelah plugged duct di 4 bulan yang bikin perjuangan saya harus dimulai lagi dari awal. Kalo adat Jawa ada istilah pitonan buat bayi kalo sudah usia 7 bulan ke atas. Saya mengadakan pitonan saat usia Marwa 9 bulan.

Tepat besok pagi mau acara adat pitonan, malamnya saya baru tau kalo kulkas ngga dingin sama sekali. Segera cek freezer. Dan OMG! ASIP Mencair.

Saya ngga tau sejak kapan ini kulkas rusak, tapi ASIP mencair hampir 80%. Bener-bener buntu banget-nget-nget. Ini gimana? Harus ngapain?

Bermodal doa, saya pilah-pilah ASIP tanggal terbaru dan berharap masih ada sisa-sisa titik beku. Yang mencair total, dengan hati menangis, saya ikhlaskan untuk dibuang. Stok terakhir yang terpilih, saya titipkan tetangga. Jam 9 malam saya ketuk pintu tetangga, buat minta tolong nitip ASIP. Saya lupa sisa berapa kantong. Yang pasti menipis banget.

Saya cuma bisa doa-doa-doa semoga dicukupkan dan masih dikasih ijin menyusui Marwa. Esok harinya, saya tetap pompa rutin dan berjanji ngga boleh telat karena saya harus kejar ASIP terbuang. Syukurnya, saat itu Marwa sudah MPASI, konsumsi ASI-nya sudah mulai menurun dibanding 6 bulan pertama.

Yang Lainnya

  • Lupa mindah ASIP dari coolerbag dan baru inget esok paginya. ASI-nya dibuang karena ngga yakin sama kualitas. Terpaksa kerja bawa coolerbag tanpa icegel, sehabis pompa ijin meluncur bawa pulang ASIP.
  • Lupa ngga charge pompa ASI, jadwal pompa jadi berantakan.
  • Kantong ASI bocor di dalam coolerbag, ASI tumpah sampe habis.
  • Kehabisan kantong ASI. ASIP ditampung di botol pompa.

Pada akhirnya kini saya paham mengapa proses menyusui itu sangat istimewa, paham mengapa di Instagram banyak yang membagikan foto hasil perahannya, paham mengapa banyak akun sharing tentang ASI. Karena menyusui memang benar-benar ngga semudah buka bra dan keluarin payudara. Ada peran-peran diluar nalar yang bekerja, peran Tuhan, peran diri sendiri tentang keyakinan kita akan kemampuan menyusui, peran support system di sekeliling kita dan peran-peran lainnya.

Percayalah para perempuan, bahwa saat kita dinyatakan hamil, disaat itulah kita dinyatakan mampu melahirkan dan menyusui. Berserahlah hanya kepada-Nya.

Tetap semangat Ibu-Ibu Menyusui 💜

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *