Pernah Dibully dan Jadi Pembully

Berawal dari sebuah instastory Instagram seorang Jurnalis yang saya follow, isinya thread Twitter tentang kasus bullying di salah satu kota di Kalimantan, saya jadi stalking kemana-mana. Huft!

Stalkingnya ya seputar kasus itu sih, saya baca-baca ke media beritanya, ke profil orang yang speak up, sampe ke pelakunya. Miris banget. Karena korban adalah siswi SMP, sementara pelaku siswi SMA ber-12. Perempuan pula. Hingga sekarang si korban masih dirawat di RS karena mengalami pembengkakan di area vital, pembekuan darah di hidung dan trauma mendalam, pastinya.

Berita terakhir, sudah muncul petisi untuk keadilan baginya.

Membaca berita itu saya jadi teringat kehidupan masa SMP dan SMA. Sebenarnya, bullying sudah ada sejak dulu. Hanya saja, media belum seperti sekarang. Bagi perempuan, punya geng itu kayak harus, memang hidup nggak bisa kalo nggak berkelompok. Begitupun saya, SMP saya juga punya geng. Hingga di bangku SMA, saya juga punya. Geng-nya sampe sekarang masih langgeng. Hahaha.

Nah, pengalaman bully-membully yang paling membekas di SMA.

Korban Bully

Tahun 2007, saya duduk di bangku SMA kelas 2. Suatu hari, malam-malam saya menerima SMS isinya umpatan, kata-kata kotor dan julukan isi kebun binatang keluar semua. Karena masih jaman SMS, dimana SMS nyasar adalah hal biasa, ya saya pikir itu cuma SMS nyasar. Hapus lah. Abaikan. Anaknya woles. Haha.

Keesokan harinya, ada lagi, isinya hampir sama, umpatan, kata-kata kotor. Lambat laun, setiap hari ada, rutin jam 9 malam, bertubi dan mulai ada ancaman bunuh. Karena punya geng, cerita dong sama geng. Apalah itu Grup Whatsapp, belum ada. Dan salah satu teman saya juga dapet, isinya hampir sama. Wah, nggak beres nih, pasti ada seseorang dibalik ini dan kenal sama kita.

Hari-hari saya berikutnya, aneh. Motor dibaret dong. Hiks. Mana itu motor pembelian Bapak sebagai hadiah karena saya rangking 1. Baret yang jelas dan bentuk huruf X. Bayangin ya, masih SMA, bisa dapet motor karena perjuangan belajar, dibaret tangan nggak bertanggungjawab. Saya takut lah. Salah apa saya? Hiks. Saya bilang ke Ibu, diam-diam tanpa sepengetahuan Bapak, karena takut dimarahi. Jaman segitu motor itu senilai hampir 15juta. Ibu kaget, tapi tetep woles. Karena kita nggak tau siapa pelaku, tidak ada bukti mengarah ke siapapun. Walaupun, se-geng sudah mencurigai seseorang.

Selain dibaret, juga ditempeli permen karet. SMS teror masih ada, dengan isi yang sama tapi nomor yang selalu ganti. Akhirnya nggak dihapus, tapi disimpan. Satu sekolah mulai gempar.

Jadi Pembully

Karena satu sekolah mulai gempar, kecurigaan mengarah pada salah satu siswa. Jadilah, si siswa ini mendapat semacam sanksi sosial dari para siswa satu sekolah. Banyak kasak-kusuk, mulai dikucilkan, dan lain sebagainya. Walaupun, saat itu bisa dibilang doi punya ‘backingan’.

Karena sanksi sosial yang kami munculkan ini, jadilah kami se-geng keluar masuk ruang Konseling.

Tapi, tetep dimatanya saya adalah tersangka utama. Saya pernah didudukin sendiri, diomeli begini begitu. Kasarnya, dilabrak. Saya bisa apa? Diem dan nangis doang. Makanya, nggak bisa lupa.

Kalo ditarik akar masalahnya, sepele, saya nggak mau duduk sebangku sama dia. Udah gitu doang.

Karena saya punya teman-teman, teman saya juga punya teman lagi, jadilah kami pembully. Kami sudah menorehkan kenangan SMA yang nggak enak buat doi. Yaelah sis, siapa juga mau dikucilkan disekolah sampe akhir kelulusan, temennya terbatas itu doang. Itu sedih lhoh.

***

Apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua?

Posisi sekarang saya sudah jadi orangtua, punya anak perempuan pula. Dari pengalaman saya sendiri, bully-ing memang sudah ada sejak dulu. Bedanya, media tidak seperti sekarang. Dan, memang di jaman saya nggak se-anarkis kasus Audrey.

Pilih Teman dan Menjadi Teman untuk Anak

Ungkapan jangan pilih-pilih teman, sepertinya cukuplah berlaku di TK sampai SD aja. Kalo sudah masuk SMP dan SMA, harus mulai selektif pilih teman. Berteman pun sewajarnya saja.

Disinilah kadang orangtua perlu berperan sebagai teman, supaya kita juga bisa jadi teman untuk teman-teman anaknya kita. Mereka nggak canggung sama kita, kita juga open-minded sama mereka. Prakteknya gimana? Nggak tahu, belum mengalami. Huhu.

Pengalaman saya waktu itu, Ibu saya nggak langsung ambil tindakan pergi ke sekolah dan melapor ke sekolah. Karena memang tidak ada bukti, mau menuduh siapa juga. Walaupun di mata kami se-geng, wow rentetan peristiwa itu tak terlupakan hingga kini. Begitupula, sama doi, mungkin kenangan SMA dia juga tak terlupakan, karena nggak enak sama sekali. Hahaha.

Saya sudah memaafkan, dan anggap itu kenakalan. Namun tidak melupakan, makanya saya tuliskan, biar awet sekalian.

Mungkin yang perlu ditegaskan juga bagi kita dan anak-anak, kekuatan sosial media dan jejak digital itu luar biasa tak terbatas. Apa yang dilakukan hari ini, akan membawa pengaruh di masa depan. Hati-hati dalam bersikap dan jangan pernah malas untuk belajar, apapun.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *