Perempuan dan Pernikahan

Hai! Sebenarnya bingung mau cerita apa di 8 Maret ini. Cuman pengen nulis aja buat pengingat kalo 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia. Selain itu, tiap 8 Maret, umur saya nambah, gitu aja.

Uneg-uneg ini berangkat dari salah seorang teman, sebut saja A, yang akhir-akhir ini sering update di sosial media tentang ketegaran dia karena ditinggal nikah sama kekasih. Saya ngga tau dia sebenarnya berusaha tegar atau sebenarnya merasa sangat galau. Saya juga ngga tau kasus persisnya seperti apa, yang pasti selama kurang lebih 3 tahun si A pacaran dengan si B, nah seminggu kemarin si B nikah sama orang lain. Ini sedih banget pastinya.

Kemudian, ada cerita lain, sebutlah perempuan X. Dia hampir ngga pernah pacaran, maksudnya ngga pernah ada orang yang tau dia jalan sama cowo. Dan sudah memasuki usia pernikahan, menurut masyarakatnya. Kayak gini udah jadi obrolan empuk, eh si X ngga nikah-nikah gimana tuh? Punya pacar ngga sih dia?

Why Oh Why? Kenapa pernikahan bagi perempuan menjadi sebegitu rumit dan sensitif?

Saya cerita begini bukan hanya mentang-mentang saya sudah menikah ya, justru karena saya sudah menikah, saya mau bilang, menikah bukan satu-satunya #lifegoals. Menikah itu rumit dan pastinya sangat melelahkan. Karena ini membutuhkan usaha terus-menerus sepanjang hidup. Boleh aja capek dan bosen, tapi ngga ada yang bisa dilakukan selain bertahan dan kembali lagi.

Bukan hanya sekedar menemukan pasangan, tapi juga tentang orang yang mau untuk tetap bersama dalam titik tertinggi juga terendah. Bukan hanya tentang bersama sepanjang waktu, tapi juga tentang diri sendiri. Karena bisa jadi pernikahan bagi beberapa orang adalah titik perubahan. Dari yang dulu kemana-mana bebas, eh sekarang harus mikirin pergi jam berapa, pulang jam berapa.

Dari situ saya kurang setuju dengan menikah tanpa pacaran, tanpa kenalan dalam waktu yang cukup. Karena dalam pernikahan akan sangat banyak kejutan-kejutan yang sebenarnya sederhana dan sepele namun jika tanpa persiapan yang matang maka pernikahan hanya akan jadi penjara.

Jadi ya, jangan menikah hanya karena lingkungan dan teman-teman sudah menikah. Saya tahu pertanyaan “kapan menikah?” itu memang menyebalkan, karena saya pernah di posisi itu. Apalagi kalo sudah punya pacar dan dapet pertanyaan gitu, aduh rasanya pengen ngamuk aja sama pacar. Hahaha.

Baca : Balada “Kapan Menikah?”

Menikah itu benar-benar murni pilihan. Kita bisa memilih untuk ngga menikah karena ya memang tidak ingin, atau mungkin kita lebih bahagia dengan mengejar pendidikan di luar negeri, atau mengabdikan hidup untuk melayani anak-anak di pulau terpencil, misalnya. Mulia kan? Dan apa itu salah? Ngga kan?

Jadi, pikir ulang bener-bener ya kalo memang sudah kebelet menikah. Jangan hanya karena mendamba nanti mau pake kebaya ini, mau dekor tema itu, mau pesen souvenir seperti itu. Pesta itu cuma semalam doang, sisanya bakal menghabiskan hidup sama orang yang sama. Yang bisa aja ternyata dia pemalas minta ampun, ternyata dia tidurnya ngorok dan ngiler. Percayalah suami ganteng itu ada jeleknya juga kok. Hahaha.

Belum lagi kalo ternyata hobi ngga sama. Punya minimal satu minat yang sama itu penting menurut saya. Karena jika nanti menua bersama tinggal berdua doang, kita sudah tau akan menghabiskan waktu seperti apa.

Sebagai perempuan, jangan pernah bosen dan capek untuk upgrade diri sendiri. Ngajak otak untuk terus berpikir dan bekerja. Maksimalkan waktu untuk beraktualisasi diri. Jangan pernah kehilangan diri sendiri.

Happy International Woman Day!

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *