Pasang KB IUD di RSIA Amanda Tulungagung

Akhir-akhir ini saya merasa sering banget lihat cerita kehamilan dengan jarak yang relatif dekat. Saya ngga nge-judge apa-apa sih ya, namanya juga rejeki. Namun disini saya lebih memilih untuk bikin planning tentang nambah anak. Selain karena alasan finansial, juga karena alasan keegoisan. Iya, saya ini ibu egois lho. Saya punya hobi banyak, dan kedepan pengen nerusin hobi-hobi itu, ini aja udah kangen banget mainan kristik :p

Setelah melalui berbagai pemikiran, diskusi bolak balik sama suami, pake rayu-rayu juga, saya memutuskan pasang IUD. Alasan utamanya, ini KB non-hormonal. Meskipun ada juga IUD Hormonal, namun saya memilih yang non-hormonal. Saya juga masih dalam tahap menyusui, kalo harus yang hormonal rasanya saya nggak siap kalo proses menyusui saya berantakan. Saya juga punya gen gemuk, juga pernah mengalami kulit wajah berjerawat. Saya ngga pengen kedua hal tersebut muncul karena efek KB yang hormonal.

Saya memutuskan untuk ber-KB ini saat Marwa berusia 8 bulan. Saya mendapat haid pertama saat dia berusia 7 bulan. Dapat haid pertama, saya langsung cek Papsmear. Bulan berikutnya saya KB. Selama belum KB IUD, tentu suami yang ber-KB. Bukan rahasia lagi lah ya. Yang jadi rahasia brand apa yang dipake, yang tetep nyaman dan enak. Hahaha. Mau saya bisikin? 😀

(Baca : Cerita Papsmear)

Semua sudah tau kan ya IUD ini adalah jenis KB jangka panjang, minimal 5 tahun, kepanjangan dari Intra Urine Device. Sejauh 5 tahun itulah saya mau kasih jarak untuk Marwa punya adik. Kita masih mau manja-manjain Marwa dulu sampe dia masuk usia sekolah dan dirasa siap jadi kakak. Jadi, kalo abis gini ada yang nanya “kapan nambah anak?” Sodorin postingan blog ini aja. Hehehe.

Kebetulan banget dasar pemikiran dan alasan saya ini sesuai dengan penjelasan Obgyn favorit kami, Dr. Irfani Baihaqi.

Sewaktu kami datang ke tempat praktek beliau, yaitu RSIA Amanda, seperti biasa beliau menyapa dengan sangat ramah dan hmmm… ganteng. Hahaha. Dengan mantap saya langsung menyatakan bahwa saya mau pasang IUD. Dokter Irfani lumayan kaget juga, seolah nggak yakin dengan keinginan saya. Beliau cek-cek riwayat kontrol saya, sedikit basa-basi dengan kelahiran saya-yang ternyata berujung dengan melahirkan di Bidan, juga menanyakan kabar anak saya.

(Baca : Cerita Melahirkan Marwashalina)

“Kamu yakin mau pasang IUD?” Tanya si Dokter Irfan.

“Yakin, Dok.”

“Oke kalo yakin. Sebelumnya saya mau tanya dulu, kenapa pilih IUD?” Lanjutnya.

“Karena saya mau KB jangka panjang, Dok, setidaknya kasih jarak 5 tahun. Selain itu, ini KB yang non-hormonal kan?”

“Oke. Memang benar gitu. Jadi, saya jelasin dikit ya. Dasar memilih KB itu adalah mau kasih jarak berapa tahun antar anak? Mau 2-3 tahun kah? Mau 5-10 tahun kah? Kalo sudah ketemu, bisa memilih KB-nya apa. Kalo memang jaraknya dekat, ya nggak perlu KB jangka panjang. Kayak IUD nih, jangka panjang, tapi 2 ato 3 tahun lagi pengen program anak lagi, jadinya lepas IUD. Jangan ya, sayang kalo lepas pake gitu.”

“Ada efeknya ngga Dok? Katanya kalo dipake berhubungan nggak enak?” Tanya suami.

“Semua KB pasti punya efek, pasti itu. Namanya saja IUD, ada benda asing di dalam tubuh, pasti ada efek dan reaksi. Kadang rasa nyeri perut, haid lebih lama dan banyak, itu memang efek dan reaksi. Selama dalam tahap yang wajar, bukan berarti nggak cocok. Kalo soal dipake berhubungan nggak enak, ya pasti lah, Pak. Tapi ngga seberapa, masih bisa diatur. Demi masa depan bersama, nggak apa-apa lah berkorban sedikit.” Gurau Dokter Irfan.

Aw~ saya makin cocok aja sama Dokter ini…

“Oh iya, ini sedang haid kan? Hari keberapa?”

“Hari ke lima, Dok.”

“Jadi, gimana? Siap pasang sekarang?”

“Siap, Dok.”

“Yasudah, ayo, sudah disiapkan”

Lumayan deg-degan juga lho. Meskipun saya sudah hempas jauh-jauh rasa ragu, takut sakit dan khawatir-khawatir lain. Saya berusaha buat rileks rileks dan rileks…

Saya masuk ke ruangan dengan tempat tidur yang berbeda dengan yang digunakan USG biasanya, tempat tidur yang lengkap dengan tiang penyangga kalo lagi cek dalam itu lho. Saya diminta untuk lepas celana dalam, berbaring dan taruh kaki di penyangga, jadi posisi ngangkang gitu. Hm~

Oh iya, pertanyaan sedang haid tadi penting ya, karena pemasangan IUD ini memang disarankan saat sedang periode haid hari ke 4 atau 5, dimana mulut rahim masih lunak dan terbuka. Hal ini memudahkan untuk masuknya alat yang semacam cocor bebek itu. Saya sih nggak lihat langsung alatnya seperti apa, berbekal dari baca-baca aja. Hehehe.

Tapi, memang berasa kok saat alatnya dimasukkan. Dokter hanya berpesan, rileks ya, gitu. Biar nggak sakit, dan memang nggak sakit, hanya tidak nyaman saja. Setelah alatnya dimasukkan dan posisi terbuka, Dokter buka bungkus IUD-nya dan mulai pasang.

Disini rasanya seperti ada yang muter-muter didalem perut dan sedikit nyeri seperti nyeri haid. Dokter pun tanya kok, sakit nggak? Saya bilang, lumayan berasa, Dok. Sebentar lagi selesai kok, katanya.

Dan dalam hitungan detik, proses pasang selesai. Karena saya juga lumayan tegang, turun dari tempat tidur rasanya kliyengan dan kaki berasa mau copot. Balik ke meja kerja Dokter Irfani, beliau meresepkan beberapa antibiotik untuk antisipasi infeksi dan jadwal untuk kontrol selanjutnya.

“Tadi benangnya saya sisain sekitar 2-3cm, sedikit itu, tapi lumayan bisa ditarik kalo pengen lepas. Jadi kalo mau lepas di Bidan pun bisa, tinggal tarik aja benangnya. Inshaalloh nggak berasa kok Pak kalo lagi dipake.” Kelakar beliau.

“Kontrol USG sepuluh hari lagi ya, kita cek posisinya. Semoga tetep baik.”

Kami pun berpamitan dan mengucapkan terima kasih.

Seluruh biaya pemasangan IUD di RSIA Amanda dengan Dr. Irfani ini menghabiskan biaya 700.000. Harga IUD-nya 400.000 merk Nova-T, sisanya biaya pasang dan tebus obat. Menurut saya, worth it, karena saya tau kinerja Dr. Irfani seperti apa. Apalagi untuk jangka waktu 5 tahun lho, cukup merogoh sekali ini.

Sebenarnya urusan KB ini sangat personal sekali ya, urusan keluarga masing-masing lah. Setiap keluarga punya rencana masa depan masing-masing. Dan bagi keluarga Permadi, punya anak berikutnya harus direncanakan dengan amat sangat baik.

Jadi, kalo misal kamu khawatir dan merasa takut untuk KB IUD dan merasa cukup dengan kondom, ya nggak apa-apa. Tapi ini nggak berlaku di saya. Saya merasa perlu proteksi untuk diri saya sendiri, karena jika nantinya terjadi kehamilan yang saya belum siap, saya yang akan menanggung akibatnya. Saya yang akan hamil, yang akan melahirkan dan mengalami perubahan hormon yang kadang menyebalkan.

Memang sih, saya sering lihat di sosmed banyak di-share tentang efek samping KB, mulai dari yang nggak haid, tubuh jadi kurus ato gemuk, jerawat dan kusam hingga dihantui kanker. Seperti yang dijelaskan Dr. Irfani, semua punya efek samping. Tinggal bagaimana kita menjaga kondisi tubuh, memperhatikan asupan makanan, perhatian dengan gaya hidup dan jangan lupa untuk kontrol kesehatan.

Namun, sejauh ini saya belum kontrol lagi. Hahaha. Karena sama sekali nggak ada keluhan apapun. Haid saya teratur tiap bulan, nyeri haid bisa dikompromi, di hari ke 3 dan 4 lumayan banyak tapi bisa dianggap wajar dan yang paling penting, suami nggak pernah komplain apapun. Doi happy-happy aja tuh, kalo mau pake kondom ya silahkan, nggak juga nggak apa-apa, bebas. Suka-suka mas lah pokoknya. Hahaha.

Sekian dulu ya cerita tentang perencanaan keluarga. Kalo kamu sedang merencanakan KB, jangan sungkan untuk konsultasi dengan Dokter favorit kamu, demi masa depan bersama.

Sampai jumpa di cerita lain 💜

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *