Pantulan Warna Komunikasi Produktif

Agustus kemarin, aku sama sekali tidak menulis blog. Haha. Benar-benar menikmati masa hiatus. Kemudian, tau-tau, dapat email tagihan perpanjang hosting domain. Oh iya, blog aku, minta dirawat! Hihi…

Update terakhir adalah Pra Bunda Sayang : Wahana Pasir. Padahal, ya, Pra Bunda Sayang itu ada rangkaian lagi, tiga wahana. Saking hiatus dan aku merasa agak sesak, Pra Bunda Sayang tidak aku pahami maksimal. Alasan pertama, aku kebingungan menentukan ritme belajar yang live begitu. Banyaknya lupa, tadi dengerin apa.

Masuk Zona Bunda Sayang di Pulau Cahaya, aku memutuskan, duh, nggak bisa nih kalo dipaksa ngerjain tugas di blog kayak matrikulasi. Tapi, maunya suatu hari bisa dibaca-baca lagi. Jadilah, aku mengerjakan tantangan 15 hari di Instagram. Sekalian biar feednya terisi. Haha.

IMG_20200924_100451

Jujur, ya, Bunda Sayang di New Chapter ini benar-benar baru dan beda dengan Matrikulasi. Metode penyampaian materi, penggunaan istilah, semua baru. Jadi, aku beradaptasi. Apalagi, Bunda Sayang ini akan berjalan selama kurang lebih setahun. Kadang ragu, bakalan bisa nggak, ya? Tapi, harus dipaksa bisa, berjuang dulu lah.

Untuk Komunikasi Produktif sendiri, sedikit banyak sudah praktekin semenjak menikah ini. Selain karena komunikasi sendiri adalah pondasi, merawatnya juga challenging. Bukan yang belajar ilmunya, praktek dan dinyatakan mahir. Aku selalu menganggap komunikasi adalah seni. Beberapa poin materi Komunikasi Produktif yang kemungkinan akan selalu aku jadikan pegangan, adalah…

2 (4)

Tolong camkan itu, wahai para istri! Hahaha…

Sara Wijayanto aja nggak bisa baca pikiran Demian Aditya, apalagi kita? Hahaha.

Jadi, aku bilang ini seni. Formulanya belum tentu sama di setiap keadaan. Jangan pernah menyerah untuk coba lagi dan coba lagi. Yang pasti, berusahalah untuk selalu mengkomunikasikan apa yang memang perlu dikomunikasikan.

3 (3)

Setelah kita niat untuk belajar mengkomunikasikan, pahami sarana interaksinya.

Misalnya, bahasa cinta suami adalah sentuhan fisik. Merasa disayang saat dipijit. Coba deh, masalahnya diobrolin sambil dipijit. Hahaha.
Misalnya lagi, bahasa cinta anak adalah hadiah. Saat dia menerima sesuatu, maka dia akan lebih mudah untuk diperintah, misalnya. Bukan tidak mungkin, apa yang kita harapkan akan berjalan, kan?

4 (2)

Nah ini, yang kadang susah. Belajar untuk to the point…

Mau nyuruh anak, merapikan mainan, merembet ke omelan lain-lain. Ayo belajar sama-sama untuk KISS.

Dari perjalanan tantangan 15 hari praktek Komunikasi Produktif ini aku belajar tentang menikmati momen-momen obrolan sekaligus sering banget merefleksi komunikasi. Refleksi setiap hari. Aku udah bicara apa aja ya hari ini? Nyakitin orang nggak? Maksud ku tersampaikan nggak?

Kalo sekarang sudah paham tentang Komunikasi Produktif, ya tinggal belajar untuk membiasakan. Meskipun, ya, dalam perjalanan tentu nggak mulus.

Satu hal lagi yang menurutku penting dan ini juga ada di jurnal ku adalah komunikasi dengan diri sendiri. Kalo kita belum bisa menghandle diri sendiri dengan baik, kata-kata yang keluar dan emosi yang muncul juga pasti kurang baik. Dan, ini sangat berpengaruh dengan komunikasi kita.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.