Festival Bonorowo Menulis : Lolos jadi Volunteer

Halo… Berapa bulan ya ga nulis di blog? Padahal awalnya happy banget karena sukses bikin wordpress, dan bikin komitmen sama diri sendiri bakal rajin update. Namun apalah daya, saya hanyalah manusia biasa, letaknya khilaf dan salah 😀

So, singkat cerita awal Mei kemarin saya kembali bekerja, masih dengan jobdesc yang tak jauh dari dunia administrasi dan ekonomi. Forget it! Karena ngga akan bahas soal dunia kerja, lain waktu jika ada waktu 😀 *sok sibuk*

Masih tentang dunia bahasa dan sastra, entah kenapa saya masih punya minat yang besar dengan dunia ini. Padahal lingkungan pergaulan nyaris tidak ada yang menyukainya, ngga jarang juga ngrasa sedih. Cuma si Abang yang selalu ngerti, dan beruntung dia bisa mengimbangi, meski minatnya tak sebesar minat saya. Sudah berapa banyak akun fanspage penerbitan, grup kepenulisan yang saya ikuti, selama ini hanya mampu menjadi silent reader hingga akhirnya ketemu Sanggar Kepenulisan Pena Ananda Club. Demi Tuhan, kenapa ya bodoh sekali bahwa di kota kecil saya ini sebenarnya ada wadah yang bisa dijadikan tempat bercurah tapi saya aja selalu merasa sendiri. Memang saatnya keluar dari zona nyaman.

Continue Reading

Untuk yang Tak Masuk di Akal

Untuk yang tak masuk di akal tapi masuk dihati…

Apa kabarmu disana? Semoga baik-baik saja, bersama dia.

Kugoreskan pena ku di kala mengingatmu, begitu sering bayangan tubuh tinggi tegap dengan kulit hitam manis mu berkeliaran di dalam otak ku. Apakah karena aku merindukanmu? Mungkin. Apa yang kurindukan? Entahlah.

Meski ku tahu, kau telah termiliki, begitupula denganku. Termiliki oleh gadis di kota sebelah. Dan aku termiliki oleh pria disana. Ini kesalahan. Tapi kita menikmatinya. Konyol? Sungguh. Menghabiskan malam bersamamu dikota seberang menjadi sebuah kenangan yang akan selalu dirindukan. Kita berpegangan tangan bak seorang kekasih, nyatanya kita hanya kekasih gelap. Begitu banyak kebohongan yang telah kita buat pada pasangan kita masing-masing demi rasa tak tepat waktunya ini.

Seandainya kita masih sendiri, begitu sesalmu. Tidak. Jangan sesali siapa kita sekarang. Tapi bersyukurlah karena kita pernah dipertemukan dan pernah menghabiskan waktu bersama. Bersyukur dan berterima kasihlah karena kita pernah terlibat cinta, begitu kau menyebutnya tentang apa yang terjadi diantara kita. Cinta yang salah, cinta yang tidak tepat pada waktunya.

Kembalilah kepada dia. Seberapapun besar cintamu untukku, aku yakin tak melebihi porsi cintamu untuknya. Begitupula denganku, aku akan kembali kepada dia, pria yang sedang memperjuangkanku. Terima kasih karena telah mengenalkan ku pada cinta, bahwa ternyata diriku pantas untuk dicintai, meski di waktu yang salah.

Hai kekasih gelap, tak ada habisnya sajakku tentangmu. Biarlah itu menjadi kenangan kita. Biarlah aku menjadi penghuni di sudut hatimu, tersimpan rapi dan terkunci, karena kau pun telah menempati sudut hati ini. Entah kapan dan dimana lagi kita dipertemukan kembali, jangan mencari, biar tangan Tuhan yang menggerakkannya.

Dari yang masuk dihati tapi tak masuk di akal…

4737

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Suarakan Cintamu.

Continue Reading

Nasi Pecel Mojo-Kediri

Kayaknya sudah jadi lifestyle saya sama Abang kalo tiap hari minggu ato hari libur agendanya bersepeda. Yes. Bodo amat ya sama sepeda kita apa, yang penting mancal alias kayuh pedal. Kalo kata Abang, apapun sepeda kita, kalo kita mancal bareng, kita sama. Nice quote ya, Kak.

Rute di hari Buruh ini ke utara arah Kediri, Abang ngotot banget pengen foto-foto landscape dengan view gunung sama sawah. Hayuk ajalah, Kak. Dan yang gak boleh terlewat adalah isi perut. Kayuh kanan kiri, lewat sana sini, pemandangan ini itu, jepret sana jepret sini. Kita mampir di warung pinggiran jalan. Di jalanan arah Kediri lewat Mojo ya, bukan jalur provinsi. Makanya, saya kasih judul Nasi Pecel Mojo 😀 lupa ga kenalan sama ibu-ibu pemiliknya. View depan langsung menghadap sawah di seberang jalan, dengan gubuk-gubuk kecil.

Ini warung biasa, biasa banget. Kursinya cukup dari kayu, meja pun dari kayu. Warung ini jual aneka menu makanan, mulai dari Nasi Pecel, Nasi Tumpang sampe Nasi Lodeh. Ini semua makanan khas Kediri dan Tulungagung, makanan yang familiar buat lidah-lidah ndeso. Jangan sepelein nama ato tampilan ya, yang penting rasanya Bung, dijamin endesss.
Warung ini juga lumayan endesss. Selain jual Nasi Pecel, juga ada aneka gorengan dan jajanan lainnya. Buat yang hobi gowes ato mancal kayak kita, dengan rute ga jelas, saya rekomendasiin warung ini buat bengkel perutnya. Nasi Pecelnya dibanderol 4000an aja, Teh Hangat 1500an, gorengan 1000an. Dan satu lagi, ada rempeyek gurih empuk enak, per bungkus 2000 aja lho, saya sampe beli 4 bungkus 😀

image

Buat saya rute ini lumayan jauh lho, lupa sih ga ngukur berapa kilometer. Tapi udah sampe perbatasan kota sebelah kan jauh. Yang kadang bikin males buat gowes adalah rute pulangnya, berasa ga nyampe-nyampe rumah pffft~
Tapi buat kita berdua, olahraga ini yang paling menyenangkan dan murah. Kita bisa dapat pemandangan menyenangkan plus kalo hobby makan kayak kita bisa nyobain warung-warung pinggir jalan yang kadang ternyata rasanya ga kalah sama restoran. Harga murah, kualitas mewah.

Sekian dulu My Bike My Advent-Culinary pertama saya. Semoga bisa konsisten buat kasih info-info apapun sambil mancal. Jangan lupa olahraga, People.

Continue Reading