Cerita Kehamilan : Trimester Kedua

Hamdalah. Masuk trimester kedua. Trimester pertama terlampaui dengan sehat, baik saya maupun B!. B! are for Baby.

Konon katanya ini adalah trimester paling aman, paling sehat, paling bugar dan dianjurkan untuk babymoon.

Tapi tidak berlaku buat saya. Trimester kedua ini saya sempat mendadak demam tanpa ada gejala apapun. Jadi ceritanya, malam itu saya putuskan untuk tidur dirumah orang tua, karena Bapak sendirian, Ibu sedang ke Malang untuk jenguk Adek saya yang lagi kuliah. Jam 9 malam saya berangkat tidur seperti biasa, hanya saja tangan kiri saya meriang. Saya pikir, mungkin saya hanya capek dan perlu tidur saja. Di tengah malam, saya terbangun dengan kondisi menggigil. Saya membangunkan suami saya dan bilang kalo saya tidak enak badan. Dia pegang badan saya dan bilang kalo saya demam, besok paginya diantar ke Bidan. Sesampai di Bidan, saya cek tekanan darah, alhamdulillah masih normal. Suhu tubuh saya memang cukup tinggi, Bidan bilang gejala radang tenggorokan. Diberi obat dan istirahat, esoknya saya sudah mendingan.

Namun selang beberapa minggu, suami terserang batuk pilek, serumah mertua juga batuk pilek. Udah berusaha buat jaga makan biar ngga sampe tertular, eh tetep tertular juga, namanya juga serumah. Saya memutuskan ke Obgyn, karena khawatir batuk saya, soalnya beberapa kali kontraksi dan reflek saya mengejan. Selain itu saya juga ngga berani sembarangan minum obat.

Di Obgyn, saya diresepkan obat drugstore yang mana suami bisa mengonsumsi juga. Karena beliau tahu bahwa batuk pilek saya karena tertular suami. Sesampainya dirumah, saya makan dan segera minum obat dari Obgyn. Namun tengah malam, sesuatu terjadi. Saya tidak tahu kenapa, tiba-tiba jantung saya berdebar kencang, susah nafas, perut kembung. Masa’ iya saya lapar lagi? Saya coba makan, berkurang debaran jantung saya, saya mencoba tidur lagi. Tertidur beberapa menit, perut mulai ngga nyaman lagi dan mual. Kemudian, saya muntah-muntah sampe lemes. Curiga saya, saya kurang cocok dengan dosis obat.

Saya emang tipikal orang yang malas minum obat. Saya sering banget skip minum vitamin kehamilan saya. Rasanya bosen tiap hari minum vitamin. Dan lagi paling ngga bisa minum obat dengan air, harus dengan pisang. Ngga ada pisang, pilih bertengkar sama suami daripada harus minum obat dengan nasi lah roti lah. Bandel? Memang :p

Sejak saat kejadian muntah tengah malam, saya ngga minum obat lagi. Saya pilih gunakan vicks vaporub buat oles-oles tenggorokan yang gatel karena batuk. Syukur alhamdulillah, Si B! baik-baik aja, sehat di rahim saya. Sehat terus ya, Nak.

Selama trimester kedua ini, saya diresepin vitamin BioCal 95 dan Fetavita. Fetavita ini susah banget ditelan, kapsulnya gede, meski warnanya menarik. Makanya males banget konsumsi ini, rasanya mendadak tenggorokan saya menyempit kalo liat si Fetavita.

Jadi bagaimana babymoon? Ngga ada. Karena apa? Karena suami saya super hati-hati banget. Sampe-sampe dia itu takut boncengin saya, takut bawa saya perjalanan jauh. Huh!

Semoga kami sehat terus. Aamiin.

Continue Reading

Cerita Kehamilan : Trimester Pertama

Apa yang dinanti bagi suami-istri setelah menikah selain kehamilan? Saya rasa tidak ada, meskipun beberapa pasangan mungkin merasa punya anak bukan tujuan utama mereka untuk menikah. Tapi tinggal di lingkungan dimana pertanyaan “kapan nikah?” sudah menjadi momok, pasti pertanyaan lanjutannya “sudah isi belum?”

Alhamdulillah, Tuhan begitu sayang pada kami. Kami tak perlu menunggu lama untuk menunggu hasil positif di testpack. Mungkin juga ini ujian bagi kami. Belum lama rasanya kami beradaptasi diri sebagai suami-istri dan menantu, kami harus mulai mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua. Itulah pikiran yang setiap hari membayangi saya, apalagi setelah sembahyang.

Ketika menstruasi saya telat seminggu, suami meminta saya untuk segera testpack. Saya memang memiliki siklus menstruasi yang dibilang teratur. Dan hasilnya, alhamdulillah, positif secara testpack. Jujur, saya tidak segera memeriksakannya. Antara percaya dan tidak. Tapi saya mulai berhati-hati dalam beraktivitas dan mengonsumsi makanan. Karena saya melihat kebahagiaan di mata suami. Sementara saya masih ragu, sering menangis untuk anugerah ini. Apa iya saya siap untuk menjadi seorang Ibu? Saya masih sedang belajar menjadi istri dan menantu yang baik. Saya juga masih sering menangis karena meninggalkan kedua orang tua untuk mengabdi kepada suami. Semua terasa begitu cepat. Suami yang terus menenangkan saya bahwa saya harus belajar untuk bersyukur atas semua ini.

Selang seminggu setelah testpack positif saya, saya memeriksakannya ke Obygn pertama. Jika dihitung sesuai HPHT seharusnya kandungan saya berusia 6-7 minggu, namun sesampai di Obgyn pertama ini, pertanyaan beliau adalah ‘Mbak yakin kalo hamil?’ -____- Saya jawab, nah saya kesini ya untuk tujuan itu, Dok. Ini saya bawa hasil testpack kok. Kemudian beliau mempersilahkan saya untuk berbaring dan USG. Dan ternyata belum kelihatan apa-apa 😀 kantung janin pun tidak ada. Beliau menyarankan saya untuk periksa kembali 2 minggu lagi. Jujur, saya sedikit dongkol dengan hasil testpack yang diragukan. Saya dan suami hopeless. FYI, saya antri di Obgyn ini jam 7 malam, dan dipanggil jam 10 malam. Suami sudah ngga mau balik kesana, cari Obygn lain aja, katanya.

Tapi, saya ngga cari Obygn lain 😀 saya memutuskan untuk nanti-nanti saja lah ke Obgyn, tunggu agak lama. Siapa tahu kantung janin dan janin saya sudah kelihatan. Sisanya, saya hanya berusaha untuk membatasi aktivitas, mengontrol asupan makanan, sembari banyak berdoa. Berdoa kepada Tuhan untuk mengizinkan janin ini berkembang sebaik-baiknya perkembangan. Selama kurang lebih 1 bulan, saya sama sekali tidak memeriksakan diri. Saya juga tak kunjung menstruasi. Saya juga tak mengalami flek atau pendarahan. Mual dan muntah, beberapa kali pernah tapi semua bisa saya tahan, bukan mual muntah yang bikin saya ngga bisa ngapa-ngapain. Hanya badan yang terasa pegal, linu dan berat, itupun saya masih bisa beraktivitas seperti biasa. Keluhan saya adalah rasa malas. Benar-benar susah dilawan rasa malasnya. Beberapa kali saya ijin tidak masuk kerja, hanya untuk tiduran dan nonton TV dirumah. Suami juga ngerasa saya malas pol, maunya cuma tidur doang. Bahkan selama 1 bulan ini, saya masih sempat puasa, meski beberapa ada yang bolong hehe

Setelah hari raya Idul Fitri, saya memutuskan untuk memeriksakan diri, ke Obygn lain, atas rekomendasi teman. Di Obgyn ini, antriannya dibatasi, seingat saya hanya menerima sekitar 20-25 pasien. Lebih dari itu, sudah tidak diterima dan diminta untuk mendaftar di hari praktek berikutnya. Saya dapat nomor antrian 18, jam 20.30 saya dipanggil ke ruangan periksa. Suami boleh ikut, lho. Saya ceritakan apa adanya yang saya alami ke Obgyn ini. Dan beliau langsung mengajak saya untuk USG. Apa yang terjadi? Sudah kelihatan, alhamdulillah. Tidak hanya kantung janin, tapi sudah berbentuk bayi.

Obygn bilang, nah ini sudah kelihatan, wah sudah joget-joget nih. Ah rasanya saya mau mewek disitu, suami ketawa denger Obgyn bilang kalo si bayi joget-joget dan emang si bayi gerak-gerak. Kemudian didengerin juga detak jantungnya, rasanya luar biasa bahagia. Saya jatuh cinta untuk kedua kalinya, setelah yang pertama tentu sama Bapaknya janin ini. Terima kasih, Tuhan.

Saran dari Obygn, karena masih trimester pertama, dianjurkan untuk tidak terlalu lelah fisik dan pikiran, juga jangan berhubungan badan terlebih dahulu. Jika memang kepepet, disarankan untuk menggunakan kondom. Karena sperma yang masuk akan memicu kontraksi. Obgyn juga bertanya, apa saya pernah mengalami flek atau keluar darah? Alhamdulillah, belum pernah sama sekali, Dok. Tapi, beliau tetap meresepkan obat penguat kandungan karena masih trimester pertama, yang masih rawan keguguran. Total ada 3 jenis obat yang diresepkan, asam folat untuk janin, penguat kandungan dan anti mual-muntah.

Mungkin saya bisa dibilang terlambat memeriksakan diri dan juga bandel. Seandainya, saya nurut kata Obgyn pertama untuk periksa kembali setelah 2 minggu, mungkin asupan seperti asam folat bisa tepat waktu saya dapatkan. Disini ada sedikit penyesalan. Tapi saya percaya, ada kekuatan doa yang mengiringi saya dan si jabang bayi untuk selalu kuat dan sehat. Yang terpenting lagi adalah asupan makanan dan gaya hidup lainnya. Saya benar-benar menahan diri untuk tidak jajan sembarangan, tidak selalu pilih-pilih makanan sih, tapi segala sesuatu saya sesuaikan porsinya.

Kehamilan memang membawa bawaan masing-masing. Saya amat sangat bersyukur karena tidak mengalami flek, keluar darah atau mual muntah yang berat di trimester pertama. Sejak awal, saya yakin bayi saya kuat, bahkan ketika ia harus ikut keliling lebaran ke keluarga di desa dengan jalan kelok-kelok naik turun gunung, semua baik-baik saja. Keyakinan dan pikiran positif ini buat saya penting ditanamkan sejak dini. Karena sesungguhnya kondisi hamil adalah kondisi sehat. Sisanya, percayakan pada tangan Yang Kuasa, karena Ia lebih tahu apa yang terbaik untuk kita.

Semoga para Ibu-Ibu yang sedang menjalani kehamilan seperti saya diberi kesehatan dan mampu melaluinya dengan kebahagiaan, ya. Aamiin…

Ps. Postingan ini di publish ketika usia kandungan sudah trimester kedua 🙂

Continue Reading

Lontong Tahu Tulungagung di siang hari


Semenjak kantor saya pindahan dari area kota ke area pinggiran dengan pemandangan hamparan sawah di kanan kiri dan depan, problem utamanya adalah makanan.

Kalo dulu kanan kiri dan depan adalah warung penjaja makanan. Sebelah kanan adalah warung ibu-ibu komplit dengan sayur dan aneka bothok. Sebelah kiri adalah warung kopi yang menyediakan minuman dingin dan camilan krupuk. Depan kantor adalah warung es kelapa muda dan jalan raya yang terkadang penjual bakso, soto, mie ayam lewat. Tinggal panggil dan mereka mendekat.

Continue Reading

Review : Hada Labo Gokujyun Alpha Essence


Halo…

Lama banget yaa ngga review tentang kecantikan? Udah kayak beauty blogger aja, padahal mah cuman bingung mau nulis apa, mau update apa. Kebetulan lagi buka-buka galeri foto di hape dan ketemu beberapa printilan skincare yang udah dipake dan belum sempet di review. Salah satunya, serum Hada Labo ini.

Setelah travel kit untuk Hada Labo Anti Aging yang sekilas di review disini sudah habis. Saya repurchase, bukan dengan ukuran travel kit. Karena memang selama trial dengan travel kit, cocok aja, hingga sekarang. Kemudian melengkapinya dengan serum ini.

Continue Reading

Internet CAKAP #1 : Tentang username Sosial Media Facebook

Internet CAKAP #1

Di dunia yang sudah serba digital ini, rasanya kok ngga mungkin kalo ngga punya sosial media. Setelah booming handphone berlayar sentuh dan mulai meninggalkan handphone ber-keypad, pastilah satu sama lain mulai saling meracuni aplikasi-aplikasi. Mulai dari aplikasi chatting, sosial media, games hingga aplikasi belanja.

Salah satu sosial media yang menurut saya masih banyak diminati adalah Facebook. Facebook terbilang eksis cukup lama mengingat dulu saya mendaftar pada tahun 2008 dan hingga kini saya masih aktif menggunakannya. Dulu sebelumnya teman-teman saya di Facebook cukup keluarga, kemudian teman SMA, disusul saling menemukan teman SMP hingga SD. Di bangku kuliah pun saat berkenalan, beberapa waktu kemudian yang ditanyakan adalah akun facebook mu apa? Hehehe.

Continue Reading