Pap Smear? Jangan Takut!

Beberapa hari yang lalu kantor tempat saya kerja dapat email dari BPJS Kesehatan. Isinya tentang Program Pap Smear Gratis dari BPJS Kesehatan. Beberapa teman sudah mulai memperbincangkan. Beberapa ngaku pengen tapi takut. Saya? Pengen, ngga takut. Hahaha.

Jadi tanpa pikir panjang, saya kabari suami kalo ada Pap Smear gratis ini. Langsung disetujui. Kenapa kasih kabar suami? Ya salah satu syaratnya kan ngga boleh berhubungan badan 48 jam sebelumnya. Hahaha. Bukan cuma itu aja sih, itu artinya saya akan pulang kerja telat karena harus ke laboratorium klinik.

Esok harinya, saya pergi ke klinik tempat BPJS menjalin kerjasama, yaitu Prodia. Disana saya menggali beberapa informasi. Konfirmasi dulu, apa benar bisa gratis? Iya memang benar, gratis, tanpa dipungut biaya. Petugas Resepsionisnya juga menanyakan apa saya punya perkumpulan atau organisasi dan saya diminta untuk mengajak teman-teman saya. Ayo Pap Smear, gaes!

Continue Reading

Happylist Challenge #1 : Berbagi Cinta

Seperti biasa, ketika matahari mulai tenggelam saya bukan lagi pekerja kantoran, saya adalah seorang Ibu untuk Marwa. Saya pulang kerumah, segera membersihkan diri, membuka tangan saya untuk menawarinya gendong dan dia menyambutnya, membuka tangannya lebar-lebar sembari memajukan tubuhnya. Bahagianya tak terlukiskan.

Setelah puas bermain-main, dia mulai merengek dan mencari-cari nenen kemudian terlelap. Bahagiaku, aku bisa menyusuinya meski harus bekerja. Sesuatu yang selama 8 bulan terakhir ini selalu saya syukuri dan selalu saya anggap sebagai keajaiban dan karunia.

Untuk seseorang disana, kita adalah perempuan. Entah melalui proses mengandung atau tidak, kita bersama-sama bertanggung jawab memelihara bibit-bibit penerus kita. Kita tak perlu khawatir tentang ilmu mengasuh kita. Karena faktanya tak ada sekolah menjadi Ibu.

Anak-anak lah yang akan mengajarkan pada kita bagaimana memahami mereka. Bersama dengan mereka akan menjadi sekolah yang tak berujung, yang tak mengenal kelulusan dan tak mengenal nilai merah.

Satu-satunya yang bisa kita berikan adalah CINTA. Dengan cinta kita akan belajar dengan mereka dan mereka memahami kita. Mari bersama-sama kita belajar berbagi cinta dengan anak-anak, entah dari rahim siapa mereka berasal.

Continue Reading

Festival Bonorowo Menulis : Donasi dan Berbagi

Dua tahun yang lalu ketika saya memutuskan untuk menjadi relawan di Festival Bonorowo Menulis saya berstatus lajang. Waktu saya sangat banyak. Meski saya bekerja, untuk refreshing saya selalu bersama pacar (sekarang suami). Bukan karena saya tidak punya teman. Saya punya teman, mereka pun ada. Hanya saja seiring waktu berjalan tentu mereka punya kesibukan masing-masing. Dari situlah saya merasa perlu untuk mencari dan membentuk lingkar pertemanan yang baru. Karena teman memang datang silih berganti.

Lagipula, saya juga pernah berfikir mau sampai kapan sih maen-maen terus, cari duit, ngabisin duit, pacaran, gitu terus siklusnya. Pasti pernah kepikiran kan pengen berbuat sesuatu atau berbagi sesuatu. Waktu itu, Festival Bonorowo Menulis memfasilitasinya.

Continue Reading

3 Harapan untuk Tanah Kelahiran, Tulungagung

Dua puluh lima tahun yang lalu, seorang bayi perempuan lahir dari seorang Ibu Rumah Tangga dan Bapak pekerja biasa. Layaknya orang tua lainnya, bayi perempuan itu mendapat pendidikan dan pengasuhan dengan baik. Prinsipnya, tak perlu jauh-jauh, cukup di Tulungagung saja. Lahir di Tulungagung, sekolah di Tulungagung, bahkan menikah di Tulungagung dan dapat suami orang Tulungagung juga.

Bayi perempuan itu saya.

Semua benar. Bapak tak ingin jauh dari anak perempuan pertamanya. Meski dalam kenyataannya ada penyimpangan. Hahaha. Saya mengenyam S1 di luar kota, namun setiap hari saya pulang ke Tulungagung. Saya tidak mengenal apa itu kost, pun saya tidak tau seperti apa rasanya bingung cari makan. Tulungagung adalah kota dimana saya akan selalu kembali, Tulungagung adalah rumah.

Continue Reading

Tentang Keputusan Menyusui

Dulu sebelum saya menikah dengan Mas Wahyu, Ayahnya Marwa, saya pernah mengutarakan sebuah keinginan. Keinginan itu adalah kalo saya punya anak, saya pengen resign kerja aja. Karena apa? Karena saya pengen menyusui.

Yang kemudian ternyata keinginan resign kerja itu dibantah habis-habisan sama Ibu dan Ibu Mertua (calon sih waktu itu).

Jadi, sebelum menikah saya sudah punya keinginan menyusui. Hahaha.

Kemudian saat tau saya hamil, saya banyak baca-baca tentang menyusui dan bekerja, menyusui untuk ibu pekerja. Mulai dari artikel, blogpost dan masuk ke forum-forum.

Karena ngga dipungkiri, saat saya menikah dan hamil kerjaan saya lagi oke banget. Pokoknya nyaman banget lah. Tiap hari bersyukur karena dikasih kesempatan disini. Ramah di segala sisi. Jadi keinginan untuk resign itu jadi mamang, galau lah.

Dan mata makin dibukakan dengan ilmu-ilmu menyusui untuk ibu pekerja. Makin mantap lah saya untuk menyusui meski harus kerja.

Jadi selain banyak baca dan latihan untuk lahiran normal, tiap hari saya juga baca-baca tentang menyusui, tentang ASI, manajemen ASI Perah, Pompa ASI, dan lain-lain.

Saya ngga anti sufor ya, Mommies. Saya hanya berusaha memperjuangkan apa yang sebenarnya sudah dikaruniakan Tuhan ke kita sebagai perempuan. Logika saya sih, kalo hamil aja kita berbagi makanan ke janin, kita berusaha makan makanan dengan gizi baik. Masak iya sih, ketika dia lahir ke dunia, kita ngga nyiapin gizi baik juga. Dan itu ada dalam ASI. Jadi, menurut saya, ASI adalah lanjutan gizi bayi dari sejak dia dalam rahim kita.

Untuk yang sedang hamil dan menantikan kelahiran buah hati, yuk tanam kuat-kuat keinginan menyusui. Pasti bisa kok! Ngga ada yang perlu diragukan dalam keajaiban dan kehebatan ASI. Pasti bisa!

Ingat ya, Tuhan sudah men-desain tubuh perempuan sedemikian rupa untuk hamil, melahirkan dan menyusui. Pasti bisa!

Continue Reading