Pantulan Warna Komunikasi Produktif

Agustus kemarin, aku sama sekali tidak menulis blog. Haha. Benar-benar menikmati masa hiatus. Kemudian, tau-tau, dapat email tagihan perpanjang hosting domain. Oh iya, blog aku, minta dirawat! Hihi…

Update terakhir adalah Pra Bunda Sayang : Wahana Pasir. Padahal, ya, Pra Bunda Sayang itu ada rangkaian lagi, tiga wahana. Saking hiatus dan aku merasa agak sesak, Pra Bunda Sayang tidak aku pahami maksimal. Alasan pertama, aku kebingungan menentukan ritme belajar yang live begitu. Banyaknya lupa, tadi dengerin apa.

Continue Reading

Pra Bunda Sayang : Wahana Istana Pasir

Setelah setahun lebih lulus dari Matrikulasi, akhirnya dibukalah kelas Bunda Sayang oleh Institut Ibu Profesional. Senangnya karena bersamaan dengan pendaftaran ajaran baru. Dimana, banyak kanan-kiri yang seusia Marwa sudah mulai masuk sekolah, eh Kelompok Bermain atau Playgroup begitulah.

Bagaimana Marwa? Tidak mau dong. Sekolah dirumah saja, katanya. Ada corona. Yhaaa~ kok masuk akal juga jawabannya.

Continue Reading

Waktu Luang

Sebagai Ibu yang bekerja, aku pernah dapat ungkapan, ya kamu kan enak, kerja, bisa ketemu temen-temen. Bekerja diluar rumah, bagi Ibu, selalu dianggap bagian dari me time. Padahal, ya, kalo kerja disitu ada kerjaan yang harus selesai atau target yang harus tercapai. Dimana me time-nya?

Makanya, aku suka dengan kutipan Ibu Septi Peni.

Ibu Bekerja. Semua Ibu itu adalah ibu bekerja, hanya beda ranah saja, yang satu memilih bekerja di ranah publik dan satunya memilih bekerja di ranah domestik. Dua-duanya sama-sama membanggakan, sama-sama bisa produktif dan sama-sama harus menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh. – @septi.peni

Continue Reading

3 Kutipan Favorit Tentang Pernikahan

Sejak menikah, aku mengakui banget kalo hidup orang dewasa itu rumit. Oleh karena itu, aku belajar berhenti mempertanyakan, kok dia begitu sih? Kok dia bisa begini? Dan lain-lain.

Apalagi baca Quora, gaes, Oh My God, segala kerumitan dan problematika hidup yang kadang tak terbayang, ada yang mengalami. Sering banget aku baca Quora itu nangis karena uwuuu, nangis karena ikut merasa kecewa, nangis karena sedih, geram karena marah, segala emosi lah. Pokoknya Quora itu banyak membuka mata tentang kehidupan. Baca sendiri dan jangan coba-coba iseng screenshot kemudian menyebarkan. Disana banyak konten, tapi tidak untuk direproduksi ke platform lain.

Continue Reading