HUT Tulungagung 810 : Pesta Buku Gramedia

Pesta Buku Gramediaaaaa….

Yay i’m so excited! Mohon maklum yaa, saya tinggal di kota kecil yang tidak tersedia Gramedia, namun tersedia Toga Mas, itupun sepi. Padahal buku-bukunya lumayan lengkap, apalagi novel-chicklit-teenlit dengan cover yang kian hari kian cantik.

Eniwei, Selamat Hari Jadi kampungku tercinta, Tulungagung, yang ke 810. Semoga tetap berjaya di hati, ayem tentrem mulyo lan tinoto (aman tentram mulia dan tertata), tetap asri tanpa polusi, lengang tanpa kemacetan, semakin tersedia ruang-ruang publik yang memadai.

Continue Reading

Festival Bonorowo Menulis : Monolog Ibu Inggit (Lely Mei – API Bandung)

Salah satu komunitas yang hadir di Festival Bonorowo Menulis (9-11 Oktober 2015) adalah komunitas API Bandung. Mereka secara khusus datang dari Bandung, Jawa Barat ke bumi Bonorowo untuk turut sumbangsih dalam festival ini. Di hari pertama, ada penampilan konser buku dari Adew Habtsa, sayang sekali dihari pertama saya tidak dapat mengikutinya, karena terhalang ijin kerja. Dihari kedua ada penampilan Monolog Ibu Inggit dari Lely Mei (Cici).

Monolog adalah seni peran dimana hanya dibutuhkan satu orang untuk memerankan. Jujur, awalnya saya tidak mengetahui siapa itu Inggit, saya pikir dia adalah tokoh sastra hehehe *sungkem sama sejarah*. Saya memang belum pernah mendengar nama Inggit Garnasih, bahkan dalam sejarah ketika saya mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Monolog Ibu Inggit diperankan oleh Lely Mei, salah satu anggota dari komunitas dari Api Bandung. Berdandan jawa dengan kebaya kutu baru dan jarit batik, Ia naik keatas panggung, memperkenalkan diri sebagai Inggit Garnasih. Kata orang, jika pemuda-pemuda mendapatkan senyumnya seperti mendapatkan uang seringgit. Kala itu, seringgit adalah uang dengan nominal yang sangat besar.

IMG-20151010-WA0058
Photo by Husniati Salma (Photographer Volunteer)
Continue Reading

[Cross Stitch] Tergoda Numpuk Kit

Percakapan siang ini di Whatsapp.

Me : (kirim gambar kit) 65rebuuu

Him : Kok murah? Udah jadi?

Me : Kolpri, punya orang, makanya murah. Masih kit ituuu…

Him : Yang dirumah selesain dulu

Me : Mumpung murah, kapan lagi coba? Beli 2 free ongkir *nyengir

Him : Kebiasaan beli 2 free ongkir. Yawes beli aja…

Me : Eh ga jadi wes…

Him : *sudah kuduga*

Ada yang paham banget kalo apa-apa di-iya-in ujungnya ga jadi, makanya pilih iya-in daripada debat kusir, karena udah tau ujungnya bingung dan batal -___-“

Continue Reading

[Cross Stitch] Kit Pertama

image

Yay! Alhamdulillah akhirnya punya kesempatan beli kit kristik. Belinya adopsi dari punya orang, jadi lumayan murah (gatau murah beneran atau ngga, ngga cross check sih hehehe…)
Sebenarnya ini bukan hobby baru, hobby dari SMP, tapi mulai ditekuni lagi sejak udah gede gini, gara-garanya punya banyak benang sulam ga terpakai. Akhirnya saya mulai beli kain lokal, yang harganya 6000an per potong, browsing pola-pola gratis, browsing komunitas-komunitas. Dan ketemu-lah dengan Cross Stitch Community dan Komunitas Kristik Nusantara. Anggotanya ribuan, mayoritas perempuan, ada yang masih pemula kayak saya maupun yang udah expert dengan karya yang udah memenuhi dinding, mulai dari kit merk cina maupun merk original (Jangan salah, ga cuma tas atau kosmetik yang punya merk original, hobby juga hehehe…)

Continue Reading

Festival Bonorowo Menulis : Penyeimbang Hidup

image

Di waktu pertama kali bertemu dengan para relawan, yang waktu itu udah pernah saya posting ceritanya, ada sedikit ingatan melintas hehehe

Tentang motivasi. Saya lupa namanya karena beliau datang terambat bersama anaknya yang masih berusia sekitar 5 tahun. Ketika beliau diminta untuk berbagi tentang motivasi, beliau bilang bahwa beliau ingin menyeimbangkan hidup.

Sederhana sekali bukan? Iya sih, kita ini kadang terlalu disibukkan dengan urusan duniawi, entah itu bekerja atau bisnis. Terkadang kita juga lupa untuk bertemu teman, karena kesibukan atau bahkan keasyikan cukup dengan chatting. Padahal ada kekuatan magis yang sulit diungkapkan saat kita bersilaturahmi tatap muka, menggunakan seluruh panca indera kita. Beliau ini merasa terlalu disibukkan dengan bekerja dan ingin berkegiatan sosial dan memilihlah menjadi relawan literasi.

Pada akhirnya, kesibukkan apapun jika terlalu berlebihan tidaklah baik. Kita butuh penyeimbang. Kita butuh penyelaras. Pandai-pandai membagi waktu agar kesemuanya elemen dalam hidup mendapat porsinya yang sesuai. Sudah seimbangkah hidupmu?

Continue Reading