November Nyinyir

“Postingan ini buat yang suka nyinyir katanya kalo nikah muda gabisa nge-trip, gabisa kekinian karena udah ada bayi. Nah ini apa buktinya?”

*postingan diatas diikuti upload-an foto bertongsis ria sama kawannya di pantai, dan TANPA bayi. Sekali lagi sodara-sodara, TANPA bayi.*

Bayinya dimana? Seluruh jagat sosmed juga tau lah, kalo si bayi sama Embah-nya. Pake huruf ‘h’ ya bukan ‘k’.

Gemes banget lah sama bocah-bocah cilik yang udah merid ini, mau MBA lah ato emang udah ga kuat nahan diri aja, punya bayi tapi masih aja saingan kekinian. Ujung-ujungnya, si Ibu alias Embahnya si bayi jadi pengasuh.

Ehm… Ehm… Jaman dulu menikah muda adalah untuk membantu meringankan beban orang tua, terutama dari pihak perempuan. Karena perempuan kemudian akan mengabdi sebagai seorang istri dirumah sang lelaki. Dan seluruh biaya hidup perempuan akan ditanggung lelaki.

Lalu sekarang? Menikah muda malah menambahi beban orang tua. Si mamah muda sibuk membantu papah muda mencari nafkah, alhasil sang nenek yang seharusnya menikmati masa senja bersama si kakek, harus dengan sabar mengganti pampers sang cucu yang lucu. Padahal menitipkan anak kepada orang tua kita seharusnya ada etika, benar begitu? Kalo sudah begini, bisa dibilang siap jadi Ibu ngga tuh?

Asuhan mamah ato asuhan embah?

Continue Reading

Nge-Blog di Iphone

Hampir sepekan android saya koid, tidak terselamatkan. Sedih? Pasti. Banget. Android saya memang bukan android canggih, android cina besutan provider CDMA *you know what I mean* tapi mobilitas saya sungguh tergantung dengan smartphone. Untuk pekerjaan, saya komunikasi dengan BBM dan gmail. Bayangkan jika keduanya tak ada di tangan. Bingung. Telepon berdering, ditanyain, “BBM mu kenapa kok pending?”, masih error jawabku. Gmail masih bisa dibuka dengan PC, nah BBM? Kenapa BBM tidak menyediakan for PC aja sih? Mau pake Whatsapp web pun harus scan barcode. Mau pake Line for PC, rekan kerja di kota sebrang tak menggunakan Line.

Baiklah dengan berbagai pertimbangan dan nekat, si Kakak memutuskan ambil tabungannya dan menghibahkan smartphone-nya, Iphone 4S. Saya happy-happy aja lah, meski bekas, tapi mobilitas lancar. Hehehe

 

Singkat kata, si Kakak beli Xiaomi Redmi 2 Prime yang masih susah banget ditemukan di counter, apalagi di kota kecil gini. Saya pake Iphone. Pindahin data-data. Download ini itu. Tak lupa download WordPress di AppStore.


Secara tampilan oke, cukup user friendly. Minimalis dan tak jauh beda dengan tampilan saat di web. Namun sayangnya, tidak tersedia fasilitas read more dan memperbesar/memperkecil gambar. Ini sangat disayangkan banget, mengingat ini tools penting. Mau tidak mau harus mengedit ulang dari PC. Semoga ada perbaikan dari iOs untuk WordPress-nya.

Continue Reading

HUT Tulungagung 810 : Pesta Buku Gramedia

Pesta Buku Gramediaaaaa….

Yay i’m so excited! Mohon maklum yaa, saya tinggal di kota kecil yang tidak tersedia Gramedia, namun tersedia Toga Mas, itupun sepi. Padahal buku-bukunya lumayan lengkap, apalagi novel-chicklit-teenlit dengan cover yang kian hari kian cantik.

Eniwei, Selamat Hari Jadi kampungku tercinta, Tulungagung, yang ke 810. Semoga tetap berjaya di hati, ayem tentrem mulyo lan tinoto (aman tentram mulia dan tertata), tetap asri tanpa polusi, lengang tanpa kemacetan, semakin tersedia ruang-ruang publik yang memadai.

Continue Reading

Festival Bonorowo Menulis : Monolog Ibu Inggit (Lely Mei – API Bandung)

Salah satu komunitas yang hadir di Festival Bonorowo Menulis (9-11 Oktober 2015) adalah komunitas API Bandung. Mereka secara khusus datang dari Bandung, Jawa Barat ke bumi Bonorowo untuk turut sumbangsih dalam festival ini. Di hari pertama, ada penampilan konser buku dari Adew Habtsa, sayang sekali dihari pertama saya tidak dapat mengikutinya, karena terhalang ijin kerja. Dihari kedua ada penampilan Monolog Ibu Inggit dari Lely Mei (Cici).

Monolog adalah seni peran dimana hanya dibutuhkan satu orang untuk memerankan. Jujur, awalnya saya tidak mengetahui siapa itu Inggit, saya pikir dia adalah tokoh sastra hehehe *sungkem sama sejarah*. Saya memang belum pernah mendengar nama Inggit Garnasih, bahkan dalam sejarah ketika saya mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Monolog Ibu Inggit diperankan oleh Lely Mei, salah satu anggota dari komunitas dari Api Bandung. Berdandan jawa dengan kebaya kutu baru dan jarit batik, Ia naik keatas panggung, memperkenalkan diri sebagai Inggit Garnasih. Kata orang, jika pemuda-pemuda mendapatkan senyumnya seperti mendapatkan uang seringgit. Kala itu, seringgit adalah uang dengan nominal yang sangat besar.

IMG-20151010-WA0058
Photo by Husniati Salma (Photographer Volunteer)
Continue Reading

[Cross Stitch] Tergoda Numpuk Kit

Percakapan siang ini di Whatsapp.

Me : (kirim gambar kit) 65rebuuu

Him : Kok murah? Udah jadi?

Me : Kolpri, punya orang, makanya murah. Masih kit ituuu…

Him : Yang dirumah selesain dulu

Me : Mumpung murah, kapan lagi coba? Beli 2 free ongkir *nyengir

Him : Kebiasaan beli 2 free ongkir. Yawes beli aja…

Me : Eh ga jadi wes…

Him : *sudah kuduga*

Ada yang paham banget kalo apa-apa di-iya-in ujungnya ga jadi, makanya pilih iya-in daripada debat kusir, karena udah tau ujungnya bingung dan batal -___-“

Continue Reading