Festival Bonorowo Menulis : Penyeimbang Hidup

image

Di waktu pertama kali bertemu dengan para relawan, yang waktu itu udah pernah saya posting ceritanya, ada sedikit ingatan melintas hehehe

Tentang motivasi. Saya lupa namanya karena beliau datang terambat bersama anaknya yang masih berusia sekitar 5 tahun. Ketika beliau diminta untuk berbagi tentang motivasi, beliau bilang bahwa beliau ingin menyeimbangkan hidup.

Sederhana sekali bukan? Iya sih, kita ini kadang terlalu disibukkan dengan urusan duniawi, entah itu bekerja atau bisnis. Terkadang kita juga lupa untuk bertemu teman, karena kesibukan atau bahkan keasyikan cukup dengan chatting. Padahal ada kekuatan magis yang sulit diungkapkan saat kita bersilaturahmi tatap muka, menggunakan seluruh panca indera kita. Beliau ini merasa terlalu disibukkan dengan bekerja dan ingin berkegiatan sosial dan memilihlah menjadi relawan literasi.

Pada akhirnya, kesibukkan apapun jika terlalu berlebihan tidaklah baik. Kita butuh penyeimbang. Kita butuh penyelaras. Pandai-pandai membagi waktu agar kesemuanya elemen dalam hidup mendapat porsinya yang sesuai. Sudah seimbangkah hidupmu?

Continue Reading

Hari Sarjana Nasional (29 September)

image
Source : news.okezone.com

Selamat Hari Sarjana Nasional, teman-teman. Masih ingat bagaimana proses menuju satu hari mengenakan baju toga? Pusingnya skripsi, kecewa di-PHP dosen pembimbing, tegangnya sidang, teman-teman yang sedianya support. Tentu hal-hal kayak gitu meski pahit awalnya, ngeselin, tapi sekarang jadi masa-masa yang dirindukan. Saya sendiri kangen banget saat beli gorengan bareng, modal iuran seribu-duaribu tapi dimakan bareng-bareng, unforgetable moment.

Dan sekarang lepas 2 tahun sudah sejak saya resmi menyandang gelar sarjana. Semua tak lepas dari peran kedua orang tua yang amat besar, juga peran teman-teman sejawat. Skripsi menjadi karya pertama, yang telah dipertanggungjawabkan keabsahannya. Masih inget dong gimana kita harus bikin pernyataan plagiarisme? Bukan hanya sekedar hitam diatas putih, melainkan tanggung jawab moral spiritualnya. Namun ternyata beberapa waktu lalu, ijazah sarjana menjadi polemik karena banyaknya ijazah palsu. Kemudian banyak Perguruan Tinggi yang bermasalah mengakibatkan dicabutnya perizinan mereka. Sebagai sarjana, saya sedih, mikirnya apa iya bangga tuh dapet gelar kalo prosesnya aja ngaco? Percaya atau tidak, ada temen yang nyari gelar sarjana cuma biar di undangan nikah ada embel-embelnya. Apa cuma di Indonesia aja yang undangan nikah pake embel-embel sarjana A, B, atau C?

Continue Reading

Mukjizat Itu Nyata

image

Tuhan tidak pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan umat-Nya

Ungkapan yang memang benar-benar nyata adanya. Bukan berarti saya tidak mempercayai sebelumnya. Terkadang manusia terlalu menganggap berat masalahnya, sehingga sugesti positif apapun yang diberikan, akan menguap begitu saja.

Salah seorang rekan kerja saya beberapa waktu yang lalu tertimpa musibah yang mengharuskan dia memberikan pertanggungjawaban terhadap perusahaan, dengan nominal yang diluar kemampuannya. Beberapa hari setelah masalah, tak sedikitpun senyum tersungging di raut wajahnya. Dia menghabiskan banyak air putih untuk menutupi kesedihannya dan seolah-olah mengungkapkan i’m okay. Meski kita tahu bahwa dia tak sesungguhnya baik-baik saja, saya dan beberapa rekan mencoba menghiburnya. Beberapa kali sugesti diatas terucap dari teman-teman.

Puji Tuhan, Allahu Akbar. Kini telah berselang 3 minggu, siapa sangka performa pekerjaannya meningkat. Beberapa kali dia mendapat clien dan tanpa menunggu lama menyatakan deal. Tuhan memang adil. Beberapa kali rekan kerja saya ini menegaskan bahwa Tuhan memang sedang menegurnya dengan musibah tersebut. Dan kini tangan Tuhan memang bekerja.

Secara pribadi, tiada hentinya saya mengucap takjub akan kuasa Tuhan kali ini. Melihat rekan kerja yang dengan musibahnya justru menjadi cambukan semangat. Sungguh, kita memang tidak diijinkan sedikitpun meragukan kuasa-Nya. Karena dengan cara-Nya sendirilah Ia bekerja. Tetap serahkan diri kepada Allah SWT, Pemilik Alam Semesta.

Continue Reading

Festival Bonorowo Menulis : Pertemuan Pertama

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. -Pramudya Ananta Toer

Bunda Zakyzahra selalu mengatakan bahwa jika jaman dahulu sejarah diungkapkan dengan prasasti, maka jaman sekarang sejarah diungkapkan dari buku. Sejarah bukan melulu tentang penjajahan atau perlawanan, namun akan selalu tentang perjuangan. Tidak ada makhluk hidup di dunia ini yang tidak berjuang, semua berjuang dan semua adalah pejuang. Bahkan semut pun akan selalu berjuang untuk mendapatkan makanan dengan cara gotong royong bersama koloninya. Semua makhluk hidup adalah bagian dari sejarah, itupun jika bersedia mengambil bagiannya. Jadi, ambil bagianmu dan tulis sejarahmu.

Setelah lolos sebagai relawan/volunteer beberapa waktu yang lalu, 5 hari kemudian sesuai kesepakatan kami berkumpul di basecamp Sanggar Kepenulisan Pena Ananda. Saya bertemu dengan orang-orang yang sama-sama lolos sebagai volunteer, sama-sama akan berjuang dalam dunia literasi serta sama-sama akan menulis sejarah. Tidak hanya sejarah untuk diri sendiri, namun juga untuk orang lain. Ada sekitar 15 orang, tua muda, lelaki perempuan, bahkan percaya atau tidak, ada anak-anak. Dan yang lebih membanggakan anak-anak tersebut sudah bisa menulis buku. Believe or not? You should believe.
Kami diminta berkenalan satu per satu, juga menjelaskan apa motivasi menjadi seorang relawan di dunia literasi. Pertanyaan susah-susah gampang, menyenangkan namun membingungkan. Beberapa orang memang berlatarbelakang dunia literasi, ada seorang pustakawan yang buku sudah merupakan makanan sehari-hari, ada pegiat media, ada orang tua yang mencintai dunia menulis dan berbagai profesi lain, termasuk saya, karyawan swasta yang setiap harinya duduk dibelakang meja komputer. Ketika tiba pertanyaan motivasi, beberapa karena dorongan hati untuk membantu, beberapa susah menjelaskan karena motivasi itu datang begitu saja, lillahi ta’ala.

image

Lalu, apa motivasi saya? Awalnya sederhana, karena saya ingin ketemu dengan orang-orang baru, menambah lingkar pertemanan saya, dan saya memilih orang-orang baru itu adalah orang-orang yang memiliki minat yang sama dengan saya, literasi. Disaat pertemuan itu, mendengar sharing dari Bunda serta motivasi teman-teman, motivasi saya nambah. Saya lahir di Tulungagung, besar di Tulungagung, sekolah di Tulungagung, bekerja di Tulungagung, tapi apa yang saya tahu tentang Tulungagung? Nyaris nol. Saya hanya tahu bahwa perkembangan kuliner di Tulungagung ini pesat sekali, dalam beberapa tahun saja sudah berapa cafe, tempat nongkrong, warung makan yang baru dibuka. Semua hanya menunggu kondisi dompet saja, dan pilih mau wisata kuliner kemana. Kemudian booming tempat wisata, tujuan nge-trip-nya anak kekinian sebutlah Banyu Mulok, Gunung Budeg dan kini Kedung Tumpang dan Ranu Gumbolo. Hingga saya menyadari, kota kecil ini menyimpan banyak potensi dan ketika waktu semakin berjalan saya tidak ingin Tulungagung dan segala kekayaannya hanya tinggal sebagai kenangan, namun harus menjadi bagian dari sejarah.

Terlepas dari apapun motivasi kami, semua langkah kecil ini adalah wujud kecintaan kami kepada Tulungagung. Kota kecil dimana kami lahir dan dibesarkan, menyerap begitu banyak sumberdayanya. Sudah sepantasnyalah kami menyusun prasasti untuk Tulungagung. Festival Literasi Bonorowo Menulis ini hanyalah salah satu media ungkapan kami, diantara media-media yang lain. Itulah visi kami.

Continue Reading

Balada “Kapan Menikah?”

image

“Kapan menikah?”, pertanyaan serem ya…
Hanya sekedar berbagi, tidak akan mengajari berbagai pilihan jawaban. Tugas para kreatif-kreatif meme itu yaa…
Karena jawaban paling bijak menurut saya adalah “didoakan saja semoga disegerakan”.

Saya hampir seperempat abad hidup sebagai warga dunia dan menjadi bagian didalamnya. Tentu pertanyaan macam ini sering dilontarkan dari mulut-mulut peduli sekaligus mengandung kepo atau mungkin saja sindiran. Alhamdulillah sekarang sudah cukup kebal dengan pertanyaan ini. Selain karena saya sudah menemukan jawaban paling bijak, tentu yang paling penting adalah hati dan pikiran kita selaras dengan apa yang kita jawabkan tadi.

Kenapa harus terburu-buru menikah? Sebagai perempuan urusannya tidak cukup macak, masak, manak (dandan, masak, beranak). Semua perempuan pasti akan menjadi ibu rumah tangga, entah plus dengan karir atau bahkan dengan bisnis. Karena itulah seorang ibu rumah tangga hendaklah memiliki bekal-bekal pengalaman yang sedemikian luasnya. Kenali dirimu, hobimu, cita-citamu dan berkelanalah. Berkelana bukan hanya tentang travelling, namun terjun untuk pengalaman dan ilmu-ilmu baru.

Continue Reading