Mukjizat Itu Nyata

image

Tuhan tidak pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan umat-Nya

Ungkapan yang memang benar-benar nyata adanya. Bukan berarti saya tidak mempercayai sebelumnya. Terkadang manusia terlalu menganggap berat masalahnya, sehingga sugesti positif apapun yang diberikan, akan menguap begitu saja.

Salah seorang rekan kerja saya beberapa waktu yang lalu tertimpa musibah yang mengharuskan dia memberikan pertanggungjawaban terhadap perusahaan, dengan nominal yang diluar kemampuannya. Beberapa hari setelah masalah, tak sedikitpun senyum tersungging di raut wajahnya. Dia menghabiskan banyak air putih untuk menutupi kesedihannya dan seolah-olah mengungkapkan i’m okay. Meski kita tahu bahwa dia tak sesungguhnya baik-baik saja, saya dan beberapa rekan mencoba menghiburnya. Beberapa kali sugesti diatas terucap dari teman-teman.

Puji Tuhan, Allahu Akbar. Kini telah berselang 3 minggu, siapa sangka performa pekerjaannya meningkat. Beberapa kali dia mendapat clien dan tanpa menunggu lama menyatakan deal. Tuhan memang adil. Beberapa kali rekan kerja saya ini menegaskan bahwa Tuhan memang sedang menegurnya dengan musibah tersebut. Dan kini tangan Tuhan memang bekerja.

Secara pribadi, tiada hentinya saya mengucap takjub akan kuasa Tuhan kali ini. Melihat rekan kerja yang dengan musibahnya justru menjadi cambukan semangat. Sungguh, kita memang tidak diijinkan sedikitpun meragukan kuasa-Nya. Karena dengan cara-Nya sendirilah Ia bekerja. Tetap serahkan diri kepada Allah SWT, Pemilik Alam Semesta.

Continue Reading

Festival Bonorowo Menulis : Pertemuan Pertama

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. -Pramudya Ananta Toer

Bunda Zakyzahra selalu mengatakan bahwa jika jaman dahulu sejarah diungkapkan dengan prasasti, maka jaman sekarang sejarah diungkapkan dari buku. Sejarah bukan melulu tentang penjajahan atau perlawanan, namun akan selalu tentang perjuangan. Tidak ada makhluk hidup di dunia ini yang tidak berjuang, semua berjuang dan semua adalah pejuang. Bahkan semut pun akan selalu berjuang untuk mendapatkan makanan dengan cara gotong royong bersama koloninya. Semua makhluk hidup adalah bagian dari sejarah, itupun jika bersedia mengambil bagiannya. Jadi, ambil bagianmu dan tulis sejarahmu.

Setelah lolos sebagai relawan/volunteer beberapa waktu yang lalu, 5 hari kemudian sesuai kesepakatan kami berkumpul di basecamp Sanggar Kepenulisan Pena Ananda. Saya bertemu dengan orang-orang yang sama-sama lolos sebagai volunteer, sama-sama akan berjuang dalam dunia literasi serta sama-sama akan menulis sejarah. Tidak hanya sejarah untuk diri sendiri, namun juga untuk orang lain. Ada sekitar 15 orang, tua muda, lelaki perempuan, bahkan percaya atau tidak, ada anak-anak. Dan yang lebih membanggakan anak-anak tersebut sudah bisa menulis buku. Believe or not? You should believe.
Kami diminta berkenalan satu per satu, juga menjelaskan apa motivasi menjadi seorang relawan di dunia literasi. Pertanyaan susah-susah gampang, menyenangkan namun membingungkan. Beberapa orang memang berlatarbelakang dunia literasi, ada seorang pustakawan yang buku sudah merupakan makanan sehari-hari, ada pegiat media, ada orang tua yang mencintai dunia menulis dan berbagai profesi lain, termasuk saya, karyawan swasta yang setiap harinya duduk dibelakang meja komputer. Ketika tiba pertanyaan motivasi, beberapa karena dorongan hati untuk membantu, beberapa susah menjelaskan karena motivasi itu datang begitu saja, lillahi ta’ala.

image

Lalu, apa motivasi saya? Awalnya sederhana, karena saya ingin ketemu dengan orang-orang baru, menambah lingkar pertemanan saya, dan saya memilih orang-orang baru itu adalah orang-orang yang memiliki minat yang sama dengan saya, literasi. Disaat pertemuan itu, mendengar sharing dari Bunda serta motivasi teman-teman, motivasi saya nambah. Saya lahir di Tulungagung, besar di Tulungagung, sekolah di Tulungagung, bekerja di Tulungagung, tapi apa yang saya tahu tentang Tulungagung? Nyaris nol. Saya hanya tahu bahwa perkembangan kuliner di Tulungagung ini pesat sekali, dalam beberapa tahun saja sudah berapa cafe, tempat nongkrong, warung makan yang baru dibuka. Semua hanya menunggu kondisi dompet saja, dan pilih mau wisata kuliner kemana. Kemudian booming tempat wisata, tujuan nge-trip-nya anak kekinian sebutlah Banyu Mulok, Gunung Budeg dan kini Kedung Tumpang dan Ranu Gumbolo. Hingga saya menyadari, kota kecil ini menyimpan banyak potensi dan ketika waktu semakin berjalan saya tidak ingin Tulungagung dan segala kekayaannya hanya tinggal sebagai kenangan, namun harus menjadi bagian dari sejarah.

Terlepas dari apapun motivasi kami, semua langkah kecil ini adalah wujud kecintaan kami kepada Tulungagung. Kota kecil dimana kami lahir dan dibesarkan, menyerap begitu banyak sumberdayanya. Sudah sepantasnyalah kami menyusun prasasti untuk Tulungagung. Festival Literasi Bonorowo Menulis ini hanyalah salah satu media ungkapan kami, diantara media-media yang lain. Itulah visi kami.

Continue Reading

Balada “Kapan Menikah?”

image

“Kapan menikah?”, pertanyaan serem ya…
Hanya sekedar berbagi, tidak akan mengajari berbagai pilihan jawaban. Tugas para kreatif-kreatif meme itu yaa…
Karena jawaban paling bijak menurut saya adalah “didoakan saja semoga disegerakan”.

Saya hampir seperempat abad hidup sebagai warga dunia dan menjadi bagian didalamnya. Tentu pertanyaan macam ini sering dilontarkan dari mulut-mulut peduli sekaligus mengandung kepo atau mungkin saja sindiran. Alhamdulillah sekarang sudah cukup kebal dengan pertanyaan ini. Selain karena saya sudah menemukan jawaban paling bijak, tentu yang paling penting adalah hati dan pikiran kita selaras dengan apa yang kita jawabkan tadi.

Kenapa harus terburu-buru menikah? Sebagai perempuan urusannya tidak cukup macak, masak, manak (dandan, masak, beranak). Semua perempuan pasti akan menjadi ibu rumah tangga, entah plus dengan karir atau bahkan dengan bisnis. Karena itulah seorang ibu rumah tangga hendaklah memiliki bekal-bekal pengalaman yang sedemikian luasnya. Kenali dirimu, hobimu, cita-citamu dan berkelanalah. Berkelana bukan hanya tentang travelling, namun terjun untuk pengalaman dan ilmu-ilmu baru.

Continue Reading

Festival Bonorowo Menulis : Lolos jadi Volunteer

Halo… Berapa bulan ya ga nulis di blog? Padahal awalnya happy banget karena sukses bikin wordpress, dan bikin komitmen sama diri sendiri bakal rajin update. Namun apalah daya, saya hanyalah manusia biasa, letaknya khilaf dan salah 😀

So, singkat cerita awal Mei kemarin saya kembali bekerja, masih dengan jobdesc yang tak jauh dari dunia administrasi dan ekonomi. Forget it! Karena ngga akan bahas soal dunia kerja, lain waktu jika ada waktu 😀 *sok sibuk*

Masih tentang dunia bahasa dan sastra, entah kenapa saya masih punya minat yang besar dengan dunia ini. Padahal lingkungan pergaulan nyaris tidak ada yang menyukainya, ngga jarang juga ngrasa sedih. Cuma si Abang yang selalu ngerti, dan beruntung dia bisa mengimbangi, meski minatnya tak sebesar minat saya. Sudah berapa banyak akun fanspage penerbitan, grup kepenulisan yang saya ikuti, selama ini hanya mampu menjadi silent reader hingga akhirnya ketemu Sanggar Kepenulisan Pena Ananda Club. Demi Tuhan, kenapa ya bodoh sekali bahwa di kota kecil saya ini sebenarnya ada wadah yang bisa dijadikan tempat bercurah tapi saya aja selalu merasa sendiri. Memang saatnya keluar dari zona nyaman.

Continue Reading

Untuk yang Tak Masuk di Akal

Untuk yang tak masuk di akal tapi masuk dihati…

Apa kabarmu disana? Semoga baik-baik saja, bersama dia.

Kugoreskan pena ku di kala mengingatmu, begitu sering bayangan tubuh tinggi tegap dengan kulit hitam manis mu berkeliaran di dalam otak ku. Apakah karena aku merindukanmu? Mungkin. Apa yang kurindukan? Entahlah.

Meski ku tahu, kau telah termiliki, begitupula denganku. Termiliki oleh gadis di kota sebelah. Dan aku termiliki oleh pria disana. Ini kesalahan. Tapi kita menikmatinya. Konyol? Sungguh. Menghabiskan malam bersamamu dikota seberang menjadi sebuah kenangan yang akan selalu dirindukan. Kita berpegangan tangan bak seorang kekasih, nyatanya kita hanya kekasih gelap. Begitu banyak kebohongan yang telah kita buat pada pasangan kita masing-masing demi rasa tak tepat waktunya ini.

Seandainya kita masih sendiri, begitu sesalmu. Tidak. Jangan sesali siapa kita sekarang. Tapi bersyukurlah karena kita pernah dipertemukan dan pernah menghabiskan waktu bersama. Bersyukur dan berterima kasihlah karena kita pernah terlibat cinta, begitu kau menyebutnya tentang apa yang terjadi diantara kita. Cinta yang salah, cinta yang tidak tepat pada waktunya.

Kembalilah kepada dia. Seberapapun besar cintamu untukku, aku yakin tak melebihi porsi cintamu untuknya. Begitupula denganku, aku akan kembali kepada dia, pria yang sedang memperjuangkanku. Terima kasih karena telah mengenalkan ku pada cinta, bahwa ternyata diriku pantas untuk dicintai, meski di waktu yang salah.

Hai kekasih gelap, tak ada habisnya sajakku tentangmu. Biarlah itu menjadi kenangan kita. Biarlah aku menjadi penghuni di sudut hatimu, tersimpan rapi dan terkunci, karena kau pun telah menempati sudut hati ini. Entah kapan dan dimana lagi kita dipertemukan kembali, jangan mencari, biar tangan Tuhan yang menggerakkannya.

Dari yang masuk dihati tapi tak masuk di akal…

4737

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Suarakan Cintamu.

Continue Reading