Oh Sosial Media!

Saat saya nulis ini, saya sedang detox sosial media. Memasuki hari ke empat menjalani aktivitas tanpa Facebook, Twitter dan Instagram. Lucu juga kalo dipikir, saat saya menerima tantangan Challenge dari Blogger Perempuan Network, saya justru uninstall sosial media. Padahal, seharusnya ini saatnya mengoptimalkan fungsi keduanya antara sosial media dan blog.

Tentang Sosial Media

Sejak kemunculan sosial media, komunikasi terasa lebih mudah. Kita bisa bertemu kembali dengan teman lama, tetap bisa berkomunikasi dengan saudara yang jauh hingga berkenalan dengan orang baru yang memiliki minat yang sama. Terasa seru sekali, bukan?

Rasanya, hidup terasa tidak lengkap jika sehari saja tidak menyentuh handphone dan buka aplikasi jejaring sosial media itu. Sekedar melihat update status dari teman. Sesaat setelah menerima transferan gaji, cek online shop, tergiur belanja. Sedang traveling, tidak lupa untuk update instastory.

Kok saya nulis ini merasa sedih ya 🙁

Apakah kita hidup untuk sosial media?

Ih, aku nggak update kok. Aku nggak pernah tuh foto-foto makanan. Aku juga nggak pernah tuh bikin video dijalan biar orang tau kalo aku on the way.

Tapi, buka Instagram kan? Nontonin instastory orang kan?

Detox Sosial Media

Semua berawal dari merasa bosan. Kerjaan sudah beres. Kemudian saya bingung mau ngapain. Masa’ buka-buka IG mulu sih? Kok nggak produktif sekali 🙁

Apa nyoba detox ya? Uninstall gitu, sementara. Bisa nggak ya? Lhah, kalo nggak dicoba mana tau. OK, UNINSTALLED. Facebook, Twitter, Instagram.

Facebook dan Instagram adalah yang paling sering dibuka. Iya kan? Padahal ya ngapain? Cuma scrolling, tapi rasanya menghabiskan waktu banget. Tau-tau jam istirahat kerja, padahal berasa belum ngapa-ngapain, rasanya udah capek banget. Beneran deh, berasa ada yang nggak beres sama hidup. Sesampai dirumah, berasa capek banget, tapi pengen lihat hape, tapi kan ada anak, maunya sama anak. Tapi tapi tapi…. Saya merasa sudah kecanduan 🙁

Ninggal WordPress, Whatsapp dan Pinterest. Beberapa jam pertama, pas abis buka Whatsapp, kemudian bingung, kayak ada yang hilang. Oh iya, uninstalled, lagi detox. Taruh deh hapenya.

Sesampai dirumah, inget hape, oh iya kan lagi detox. Nggak jadi ambil hape. Main sama anak.

Hari berikutnya, saya mulai terbiasa. Ambil hape saat bener-bener ada notifikasi. Karena ya dengan uninstalled, notifikasi nggak jelas makin jarang. Kalopun ada, berarti Whatsapp. Baterai juga lebih awet. Handphone lebih enak dioperasikan, karena memori longgar.

Hari-hari berikutnya, merasa lebih baik. Kemudian juga kepikiran, apa hidup tanpa sosial media ya? Tapi, saya juga jualan di sosial media, gimana dong? Masih mau jualan, tapi males maen sosmed 😀

Akhirnya, saya merasa setuju dengan detox sosial media ini. Awalnya, saya pikir, selagi masih bisa kontrol ya nggak perlu. Padahal, pelan-pelan kita yang sedang dikontrol. Merasa bosan, cek sosmed. Merasa lelah, cek sosmed. Kita selalu merasa bahwa pergi ke sosmed akan membantu menghilangkan rasa stress dan lelah, sosmed akan menghibur kita. Padahal, apa benar seperti itu? Apa sosmed penghilang rasa lelah? Sila tanya ke diri sendiri masing-masing 🙂

Inferiority Problem

Apakah saya kena inferiority problem? Inferiority adalah adanya perasaan ‘kurang’, merasa ‘tidak mampu’, bentuk manifestasi lain dari ‘minder’. Bisa jadi mengarah kesana, jika saja saya tidak segera memutuskan untuk detox.

Inferiority-nya bukan saya iri dengan apa yang orang lain punya. Tapi lebih kepada pertanyaan ‘kok bisa ya orang-orang ini instastory terus-menerus?’. Saya heran sendiri. Lebih heran lagi, kok saya mau-maunya nontonin?

Memang benar apa kata orang-orang, kalo Instagram sumber inferiority, nggak sepenuhnya bagus. Makanya, yang terbaru IG meluncurkan update untuk kontrol berapa lama waktu yang sudah kita habiskan untuk online disana dan bisa mengatur untuk membatasinya.

*menghela napas*

Kalo masih ingat, beberapa waktu yang lalu tentang drama (aw)Karin menjual akun, kemudian membelinya sendiri (-__-“) dan konfirmasi melalu vlog terbarunya. Saya setuju dengan saran dia untuk sekali-kali lepas dari sosmed, meninggalkan hape dan menikmati real-time. Saya sih nggak sampe ninggalin hape saat bepergian ya, apalagi diajakin kenalan dan nulis nomor hape di tissue.

Tapi, detox sosial media ini membantu saya untuk benar-benar fokus pada real-time, fokus dengan apa yang benar-benar terjadi dihadapan saya tanpa bingung untuk memberi makan sosmed. Sesuatu yang rasanya sudah lama tidak saya rasakan sejak kehadiran sosmed. Sejak ada sosmed, rasa-rasanya setiap ada atau kepikiran apa, bawaannya update status melulu.

Jadi, apa kalian pernah kepikiran untuk pergi sejenak dari sosial media? Cobalah dan rasakan apa yang terjadi.

Ps. Saat tulisan ini sudah publish dan bisa kalian baca sekarang, detox sosmed saya masuk hari keenam. Targetnya sampai tujuh hari hingga saya memutuskan untuk kembali ke sosmed.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *