NHW #6 : Belajar Menjadi Manager Keluarga Handal

Saat diskusi materi kemarin, jujur, saya tidak sepenuhnya hadir. Karena suami sedang jadwal lembur, jadi harus handle Marwa. Apalah daya, ketika sambil nidurin, hape di charge, eh saya ikut ketiduran. Hmm~

Akhirnya, saya scrolling saat tengah malam, bintangin beberapa yang penting. Dan juga refleksikan ke keluarga saya sendiri. Seperti di NHW sebelumnya, saya memang cenderung perencana dibanding suami yang easy-going. Ada pertanyaan beberapa teman yang bingung membedakan antara mengatur dengan mendominasi. Memang sih, saya merasakan itu juga. Apalagi jika berhubungan dengan anak, saya yang paling banyak belajar, sedangkan suami setuju-setuju saja. Namun, tidak selalu juga.

Mau bagaimanapun, sebagai istri harus menaruh hormat pada suami. Kalopun saya mengatur ini itu, saya selalu cerita ke beliau tentang plus minusnya. Keputusannya pun bersama, tapi banyakan dia setuju sama pandangan saya. Hahaha. *win*

Ya memang, ada kalanya, ada pekerjaan yang seharusnya ini pekerjaan lelaki, harus saya kerjakan, dalam hati ngedumel ‘ngene ae kok ya wong wedok’. Kalo mood nggak baik, tentu saya ngambek. Kalo mood baik, alah yoweslah, daripada nggak dikerjakan. Tapi, balik lagi, prinsipnya harus dikomunikasikan karena kita team, biar nggak jadi bom waktu. Saya masih terus belajar soal komunikasi ini, semoga nanti bertemu dengan materi yang berhubungan dengan komunikasi suami-istri.

Di diskusi ini karena menyangkut profesional seorang Ibu termasuk urusan daster, Ibu Fasil juga mengangkat filosofi jawa ‘ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana’. Filosofi ini juga yang saya pelajari dari Bapak dan Ibu sejak kecil yang mengajarkan tentang kebersihan. Oleh karena itu kenapa sejak berumahtangga ini, saya jadi hobi setrika. Hahaha. Mau baju kerja, rumahan, semua pantang masuk lemari jika belum disetrika. Mau daster atau babydoll pun, ya disetrika. Setidaknya meski baju lama, tapi tidak kusut lah. Hihihi.

Nah, NHW kali ini masih seputar menemukan misi hidup dan mengenali diri sendiri, namun kadang terkendala dengan rutinitas. Kami diminta melakukan beberapa tahapan.

Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting
Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?

Habis untuk yang mana? Seimbang. Hehehe. Karena jam kerja juga saklek 8-4 sore, scrolling sosmed hanya disela-sela jika kerjaan sudah beres. Untuk scrolling marketplace sudah jarang sekali, biasanya ngintip marketplace ini dipicu sama obrolan dengan suami. Huft! Dan sambil tiduran, itupun kebanyakan jika anak sudah tidur.

Oh iya, dari memilah aktivitas ini, saya menyadari sesuatu bahwa sebenarnya keberadaan online sangat memudahkan kita, dan harusnya bisa membantu kita mengoptimalkan hal-hal penting yang kebanyakan offline. Seperti keberadaan Ojek Makanan saat kita nggak punya waktu untuk masak karena harus merawat anak sakit, misalnya. Hihihi.

Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan.

Setelah saya telaah ulang, aktivitas rutin dan dinamis saya itu-itu doang sih. Weekend memang cenderung lebih longgar aktivitasnya, tergantung rencana. Namun yang pasti, aktivitas rutin harus selesai dulu. Jika tidak ada agenda apapun, rasanya seharian mirip aktivitas rutin yaitu bersih-bersih melulu. Hahaha.

Saya sudah merasa bersyukur sekali diijinkan oleh suami dan anak untuk bekerja diranah domestik. Waktu jam 8 pagi hingga 4 sore selalu saya usahakan untuk memaksimalkan kemampuan diri, termasuk puas-puasin ber-gadget. Jika sudah memasuki jam dinamis diatas jam 5 sore, maka saya milik mereka, sebisa mungkin fokus bersama mereka. Nah, aktivitasnya apa, tergantung mereka maunya apa.

Sejauh ini disiplin waktu yang kami terapkan adalah jam tidur Marwa. Setiap jam 21.00 maka lampu harus mati, beruntungnya lebih seringnya sebelum jam 21 dia sudah tidur. Karena ini pula, saya tidak pernah merencanakan makan malam diluar diatas jam 7, biasanya sore hari. Jika kebetulan harus pergi, pasti berhubungan dengan acara keluarga besar. Harapan saya sih, semoga kedepan bisa mengatur jadwal untuk bermain juga, bukan sekedar menemani, tapi juga bisa membuat permainan untuknya.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *