NHW #5 : Membuat Desain Pembelajaran

Pekan ke 5 ini, kami belajar materi Belajar Cara Belajar. Belajar aja ada caranya belajar lho, pusing nggak? Jangan ya…

Jujur, pekan 5 ini saya kurang fokus memahami materi, karena minggu malam mendadak Marwa demam. Senin saya memutuskan ijin nggak masuk kerja, menemani dia seharian, karena maunya hanya nyusu. Makin siang, demamnya makin tinggi, saya cek kok 40 derajat. Mulai khawatir, saya ajak Ibu untuk membawanya ke klinik. Sesampai di klinik, di cek lagi, turun di 39,6 derajat. Dokter menyarankan rawat inap, khawatir kejang karena demam tinggi. Alhamdulillahnya, bangsal sedang penuh. Jadi, beliau mengijinkan kami pulang dengan resep dan tetap memantau suhu tubuh. Jika tidak turun setelah minum penurun demam, langsung IGD. Hati rasanya mencelos…

Alhamdulillah, semakin malam, suhu tubuhnya semakin menurun. Anaknya masih males-malesan, tapi makan minum tetap mau walaupun sedikit. Esok harinya, suhu tubuh mendekati normal. Namun, ganti Ibu saya yang demam. Sedih deh…

Jadi, pekan 5 ini konsentrasi saya banyak terpecah. Antara akhir bulan mendekati dateline pekerjaan, anggota keluarga sakit, dan kabar bahagia dari sepupu yang menikah. Huft, mari tetap jalani dengan sabar dan syukur…

Lanjut NHW aja yuk…

***

*BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR* (_Learning How to Learn_)

Setelah malam ini kita mempelajari tentang “Learning How to Learn” maka kali ini kita akan praktek membuat Design Pembelajaran ala kita.
Kami tidak akan memandu banyak, mulailah mempraktekkan “learning how to learn” dalam membuat NHW #5.
Munculkan rasa ingin tahu bunda semua tentang apa itu design pembelajaran.
Bukan hasil sempurna yg kami harapkan, melainkan “proses” anda dalam mengerjakan NHW #5 ini yg perlu anda share kan ke teman-teman yg lain.
Selamat Berpikir, dan selamat menemukan hal baru dari proses belajar anda di NHW #5 ini.

Setelah NHW sebelumnya menyusun kurikulum hidup lengkap dengan milestone, sekarang kami diminta membuat desain pembelajarannya. Ada yang bilang, ini mirip bikin silabus dan RPP. Hehehe. Saya pernah ikut pelatihan bikin silabus dan RPP sih, tapi basic saya ekonomi, jadi ya ilmu itu menguap begitu saja. Sekarang, mari digali kembali…

Dan, inilah desain pembelajaran ala saya melalui awang-awang. Hahaha. Masih merujuk pada NHW #1 tentang jurusan ilmu yang ingin saya pelajari, NHW #3 tentang potensi diri dan NHW #4 tentang kurikulum hidup. Semua nggak jauh-jauh dari berbagi di blog, dengan metode menulis, hanya saja setelah ini lebih terkonsep lagi apa yang mau saya tulis.

Lebih jelasnya, ada di Planner berikutnya. Karena setelah bikin desain pembelajaran itu, banyak ide kemudian beterbangan dan bikin susah tidur. Andai, jam tidak menunjukkan 9 malam dan baterai low, mungkin saya masih lanjut eksekusi. Hihihi.

Jadi, setelah memutuskan ingin menekuni ilmu berbagi, saya memilih menggunakan metode menulis di blog. Saya akan belajar untuk menuliskan kembali pengalaman, bisa pengalaman sendiri atau orang lain. Untuk pengalaman orang lain ini juga terkait ilmu pembelajaran tentang membina hubungan (menjadi pendengar yang baik). Mungkin nggak akan yang berat-berat sih, intinya saya ingin belajar tentang memetik pesan-pesan dibalik peristiwa atau kejadian.

Baca : Cerita Sedih

Menuliskan kembali adalah metode belajar yang paling sesuai dengan saya. Ada istilah yang mengatakan, ikatlah ilmu dengan menulis. Mulai usia 27 tahun nanti (sesuai milestone 0) saya ingin mulai menjadwalkan menulis topik-topik yang berkaitan dengan ilmu yang ingin saya kuasai. Jadi, kedepan semoga blog ini isinya nggak curhat melulu. Hahaha. Jika tidak ada tulisan di hari yang dijadwalkan, itu artinya saya tidak belajar ilmu / topik tersebut.

Di malam hari sebelum tulisan ini publish, saya diskusi dengan sahabat SMA tentang teori butuh 10.000 jam bagi seseorang untuk menjadi ahli. Setelah dihitung-hitung untuk alokasi jam yang saya luangkan, saya butuh waktu 13 tahun. Saya melongo. Dia berpesan, oleh karena itu kenapa melatih seorang atlit itu harus sejak dini, karena memang butuh waktu yang lama untuk menguasainya. Well, paham belajar cara belajar itu penting, karena fitrah manusia adalah belajar. Jangan sampai tiba pada anak kita nanti, dia tidak menyukai belajar hanya karena kita tidak paham membuat asyik cara belajar itu.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *