NHW #3 : Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Dalam diskusi di materi ini, saya banyak belajar tentang betapa didikan orangtua sangat berpengaruh dengan didikan kita berikutnya kepada anak-anak kita. Disinilah kadang ujian sebagai keluarga dimulai, perbedaan pola asuh dengan suami seringkali jadi ‘bumbu-bumbu penyedap’ rumah tangga dalam usaha membina keluarga. *hela nafas sebentar*

Jangankan mereka yang mengalami trauma tentang pola asuh orangtua, saya aja yang menganggap didikan orangtua sudah baik sekali masih perlu menyesuaikan dengan keinginan hati saya sendiri dan keinginan suami.

Dari situ juga jadi semakin paham kenapa penting sekali komunikasi dengan pasangan, menyatukan suara, supaya apa yang jadi impian kita terhadap keluarga bisa sesuai jalannya. Bukan hanya jalan istri atau suami, tapi jalan bersama. Tentu semua tidak akan sama dengan kehendak masing-masing, perlu menurunkan ego, perlu memahami bahasa kasih supaya tercipta kata sepakat.

Terkadang, saat kita menyakini apa yang kita anggap benar tentang pola asuh, kita lupa bahwa ada suami yang juga berhak berperan dan berpendapat. Tidak jarang pula, saat kita terlalu sibuk berdebat tentang pola asuh, kita lupa bahwa kita perlu bekerja layaknya sepasang kekasih hati.

Dari sinilah, saya paham kenapa NHW-nya seperti ini…

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

Sebenarnya, bikin surat begini adalah kebiasaan saya saat ngambek. Bahkan saat saya bilang ke suami kalo kuliah di IIP nanti katanya ada tugas bikin surat cinta, responnya adalah ‘wes pinter lek ngunu kuwi sampean’ huft! Nyebelin kan?

Jadilah, saya bilang, aku mau bikin surat cinta, nanti di respon ya, dikasih feedback lho… Dan, ini dia surat cinta saya (dipublish atas persetujuan suami). Ternyata lumayan susah juga kalo nggak ada pemicu. Biasanya nulis saat merasa sedih, mellow karena merasa tersakiti. Hahaha.

Responnya apa?

“Kata-katamu mesti ngorat-ngarit atiku. Nggak iso omong opo-opo. Aku sayang bgt sama kamu, tetaplah disini menemaniku hingga maut memisahkan kita. Aku akan terus berusaha membahagiakanmu sama Marwa.”

Saya memang kirimnya lewat WA, karena saya baru bikin saat istirahat jam kerja, dan hari itu suami harus lembur. Semoga suratnya bisa jadi penyemangat!

Sebenarnya, saya selalu bersyukur punya dia. Dia selalu bisa mengimbangi saya dalam hal apapun. Kita bisa ngobrol apa aja, saling paham hobi masing-masing. Saat kemarin saya tanya tentang istri seperti apa yang bikin kamu bahagia, salah satunya adalah kesamaan pandangan tentang masa depan, tentang keputusan menabung investasi, misalnya.

Saat saya tau bahwa saya hamil, saya sering banget nangis karena merasa nggak siap, dia menguatkan saya. Saya juga sempat berkeinginan untuk lahiran SC karena takut sakit, dia menyerahkan pilihan pada saya, yang pada akhirnya saya mampu melahirkan normal karena setiap malam ditemani hypnobirthing. Dari Bapak, saya juga tau bahwa saat melahirkan, suami saya nangis-nangis sesenggukan karena mikirin keadaan saya. Saat saya memutuskan untuk memberi ASI, dia adalah garda terdepan saya setiap kali saya merasa lelah.

Yang terbaru, saat saya merasa risau tentang pilihan bekerja atau kembali kerumah, dia menyerahkan pilihan pada saya. Yang pada akhirnya, dia menguatkan saya kembali untuk bertahan, karena dia tau bekerja membuat saya bahagia, bisa selalu berdiskusi banyak dengan dia. Sekaligus berterima kasih karena sudah membantunya dalam hal ekonomi. Ah love ❤

b. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

Marwa masih berusia 2 tahun, saya masih berusaha mengamati apa-apa yang menjadi potensinya. Karena di usianya ini, menurut saya, saya masih perlu fokus dengan milestone yang harus dilalui supaya tumbuh kembangnya optimal di masa depan nanti. Seperti yang saya lihat di buku KMS, Marwa masih membutuhkan stimulan untuk naik-turun tangga, untuk belajar memakai baju sendiri, makan sendiri dengan sedikit tumpahan, menyapihnya hingga proses toilet training yang saya masih belum punya ilmunya. Huhuhu.

Meskipun begitu, saya juga sempat diskusikan hal ini dengan suami. Saat ini potensi terbesar Marwa adalah kemampuan bicara / bahasa. Di usia 2 tahun ini, bukan hanya 2-4 kata yang mampu diucapkan, tapi kalimat utuh pertanyaan dan ungkapan dia mampu melakukannya. Sehingga kami orang-orang disekelilingnya dimudahkan untuk komunikasi. Oleh karena itu, saya menulis potensi menyanyi. Hahaha. Karena dia sudah hafal banyak lagu, dan mampu mengganti lirik sesuka hatinya.

Untuk urusan bermain, Marwa lebih menyukai benda-benda asli. Seperti jika dia bermain masak-memasak ya dia akan pergi ke tempat rak piring dan mengambil panci. Dia juga sudah mampu bermain pura-puraan, seolah-olah sedang berjualan ice cream, seolah-olah sedang merebus air dan berbagai karangan cerita sesuka hatinya.

Untuk kemampuan komunikatif dan kooperatifnya saya buktikan saat kami traveling untuk pertama kalinya. Saya berterima kasih sekali sama Marwa karena dia telah menjadi anak yang baik sekali saat harus bepergian jarak jauh. Alhamdulillah…

Baca juga : Pertama kali Traveling

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

Well-organized. Saya adalah orang yang menyukai perencanaan. Besok hari apa, mau kemana, pakai baju apa, bagaimana mengatur waktunya, selalu saya pikirkan sebelumnya atau jauh-jauh hari. Semata-mata supaya saya bisa menentukan ritme pekerjaan yang lain. Hal ini berbanding terbalik dengan suami saya, yang easy-going, tanpa banyak mikir. Meskipun begitu, saya tetap memiliki sisi fleksibilitas, selalu ada second-plan. Dari sini, kadang sisi perfeksionis saya muncul, kadang ‘harusnya begini’, atau ‘andai aja begini pasti begini-begini’.

Imaginatif / Kreatif. Percaya atau tidak, saya sudah punya rencana apa yang akan saya lakukan di usia pensiun nanti, yaitu melanjutkan hobi kristik saya, banyak menulis atau membuat kerajinan tangan. Hahaha. Sedangkan suami, dia cenderung mengalir seperti air.

Introvert, pendiam atau apapun itu. Saya tidak mudah untuk bercerita ke orang lain kecuali orang yang saya percaya, bahkan kadang saya terkesan sombong karena saking diemnya, nggak mau tau urusan orang lain dan seperti terlihat tidak butuh orang lain. Huhuhu. Padahal ya sepenuhnya tidak seperti itu, saya memang tidak menyukai pembicaraan yang tidak perlu. Jika saya membutuhkan bantuan, saya tidak segan untuk meminta. Namun, sebelumnya pasti saya sudah uji kemampuan saya sendiri. Nah, keluar sombong nih? Oops!

Yang paling terasa mengapa berada diantara mereka adalah kemampuan well-organized, ini membantu kami bisa datang tepat waktu saat ada acara keluarga. Juga waktu akhir pekan yang tidak sia-sia, karena saya selalu punya rencana, dan step by step untuk melakukannya.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Hidup saya masih nomaden. Hehehe. Pagi bersama orangtua, siang hari bekerja, malam hari bersama mertua. Lingkungan yang sangat berbeda. Rumah orangtua saya saling berdekatan dengan tetangga, saling berbicara di dapur masing-masing adalah hal biasa. Sedangkan, lingkungan mertua saya jauh dengan tetangga, perlu usaha berjalan untuk nonggo dan cenderung sepi. Sangat jarang penjual cilok atau bakso lewat, teriakan penjaja makanan juga jarang terdengar. Saya masih belum bisa menemukan peran di lingkungan karena hidup saya yang berpindah-pindah ini. Walaupun begitu, sebisa mungkin menempatkan diri ditengah-tengah mereka, membawa budaya yang baik, meninggalkan budaya yang buruk.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *