Minim Sampah dari Rumah bersama Marina D. Susanti

Mengikuti matrikulasi Ibu Profesional kemarin, ada banyak hal yang menggugah hati. Salah satunya, saya menyadari bahwa setiap perempuan itu istimewa, mereka punya cerita pengalaman hidup yang layak untuk dibagikan. Sesama perempuan kita bisa saling memberdayakan dengan saling berbagi cerita.

Berawal dari itu semua, saya punya keinginan untuk menghimpun cerita-cerita positif dari perempuan di lingkungan saya berada. Nggak usah jauh-jauh, saya percaya perempuan-perempuan di Tulungagung ini hebat-hebat kok.

Salah satunya, Mbak Marina Dewi Susanti ini. Saya biasa memanggilnya, Mbak Santi. Kami saling kenal karena dulu pernah jadi rekan kerja di kantor lama. Sekarang masing-masing kami sudah berumahtangga, terhubung kembali karena muamalah di lapak buku anak saya. Hahaha.

Dari situ, saya jadi tau keseharian dari Mbak Santi. Selain mengasuh putranya dirumah, ternyata Mbak Santi ini pelan-pelan sedang menjalani hidup minim sampah dari rumah.

Seperti apa ceritanya?

***

Mba Santi, sejak kapan mulai fokus tentang lingkungan minim sampah ini?

Sejak sebelum menikah, Mbak, sudah gelisah tapi belum tahu menyalurkan dan mencari tahunya gimana.

Apa yang bikin Mbak Santi tergerak untuk mulai meminimalisir sampah? Ada peristiwa yang membuat tergerak kah?

Yang bikin tergerak itu karena lihat lingkungan sekitar perubahannya kok drastis terutama area sekitar rumah. Kalo peristiwa banyak, salah satunya video penyu yang ketusuk sedotan plastik itu, trus dirumah ayam saya sakit karena makan karet gelang.

Perubahan drastis apa aja Mbak di lingkungan? Kasian ayamnya, trus nasibnya gimana Mbak?

Saya sering bikin catatan kapan hujan pertama turun, mengamati perubahan suhu lingkungan dan mengamati keanekaragaman tumbuhan yang hidup di halaman belakang rumah. Setiap perubahan saya selalu tahu. Perubahan yang terjadi adalah siang yang terlalu panas, kalo dulu walau panas seperti apa tetap sejuk disini. Kalo kemarau panjang tanah di belakang pecah-pecah dan air kolam tanah kering kerontang padahal saat saya masih SD walau kemarau nggak sampe kering.

Kalo ayam dewasa dan kondisi fit, karet bisa keluar lewat kotoran. Kalo masih anakan ya mati. Tanda ayam makan karet itu, nggak nafsu makan, maunya berak terus tapi nggak bisa keluar. Saya pecinta ayam soalnya 😀

Setelah tau perubahan lingkungan yang drastis, hal apa yang pertama kali melintas di pikiran Mbak Santi? Kok bisa sampe komitmen minim sampah?

Pertama kali saya evaluasi, Mbak, apa yang bikin tempat sampah gampang penuh. Sebenarnya, sejak kerja di tempat lama dulu sudah pilah sampah, tapi belum minim sampah.

Akhirnya ketemu, kalo yang bikin tempat sampah gampang penuh adalah kresek (kantong plastik). Tiap belanja, beli jajan, semuanya dikresekin.

Hal apa yang pertama kali dilakukan sama Mbak Santi terkait niat meminimalisir sampah?

Mulai diet kantong kresek, Mbak. Jarik gendong bekas kado lahiran saya permak jadi tas belanja. Saya diketawain sama penjualnya pas belanja, tapi lama-lama saya ajak becanda balik. Haha 😀

Iya nih, kantong kresek ya, Mbak. Aku sama suami juga belajar dikit-dikit menolak kresek, Mbak. Menolak kresek jadi semacam kebanggaan dan prestasi. Haha 😀

Gimana komentar suami, keluarga atau tetangga tentang upaya Mbak Santi untuk minim sampah dari rumah ini?

Suami, pertama kali bilang ah..ribet kemana-mana bawa wadah, tapi lama-lama terbiasa. Tiap hari saya kuliahi soalnya. Haha 😀

Kalo Ibuku, masih gampang lupa. Jadi saya yang siapin tas belanja. Bapak pun belum bisa move on dari plastik.

Kalo tetangga, kadang heran soalnya kalo anter makanan nggak pake kantong kresek.

Memangnya pake apa Mbak pas anter makanan ke tetangga?

Pake piring langsung atau pake tas pakai ulang, tasnya dibawa pulang lagi 😀

Selain belajar menolak kantong kresek, belanja bawa tas, apalagi yang bisa kita lakukan?

Bikin kompos, Mbak, dari sisa makanan. Asyik tapi rada jijik :D. Bisa juga eco-brick itu, tapi belum mampu, soalnya plastik kemasan jajan anak masih lolos terbakar.

Ada tips apa Mbak untuk memulai minim sampah dari rumah ini?

Tipsnya niat, sungguh-sungguh dan tlaten. Tlaten bawa kantong belanja, biar nggak bawa pulang kantong plastik dan tlaten menolak kantong kresek dari pedagang.

***

Dari cerita Mbak Santi, saya belajar bahwa memulai minim sampah dari rumah ini gampang-gampang susah. Gampang karena sebenarnya bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana yaitu menolak kantong plastik. Susah karena minim sampah ini tentang gaya hidup, harus dilakukan secara terus-menerus, bukan yang sekedar karena sedang hype aja.

Rasanya nggak sepadan dengan sampah plastik yang sudah kita hasilkan, sedangkan kita melakukan gerakan minim sampah hanya dalam hitungan bulan, misalnya.

Mbak Santi ini juga keren banget soal pengamatan dia dengan lingkungan. Mencatat hujan turun, mengamati keringnya tanah, merasakan panasnya lingkungan, secinta itu dia dengan bumi dan lingkungan sehingga benar-benar peka terhadap perubahan.

Ada yang sudah mulai tergugah hatinya seperti Mbak Santi? Yuk, pertahankan, sama-sama saling support supaya benar-benar tercipta bumi yang sehat buat anak-cucu kita nanti.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *