3 Harapan untuk Tanah Kelahiran, Tulungagung

Dua puluh lima tahun yang lalu, seorang bayi perempuan lahir dari seorang Ibu Rumah Tangga dan Bapak pekerja biasa. Layaknya orang tua lainnya, bayi perempuan itu mendapat pendidikan dan pengasuhan dengan baik. Prinsipnya, tak perlu jauh-jauh, cukup di Tulungagung saja. Lahir di Tulungagung, sekolah di Tulungagung, bahkan menikah di Tulungagung dan dapat suami orang Tulungagung juga.

Bayi perempuan itu saya.

Semua benar. Bapak tak ingin jauh dari anak perempuan pertamanya. Meski dalam kenyataannya ada penyimpangan. Hahaha. Saya mengenyam S1 di luar kota, namun setiap hari saya pulang ke Tulungagung. Saya tidak mengenal apa itu kost, pun saya tidak tau seperti apa rasanya bingung cari makan. Tulungagung adalah kota dimana saya akan selalu kembali, Tulungagung adalah rumah.

Tiba pada jodoh, Tulungagung juga. Begitu besarnya kecintaan saya pada Tulungagung. Meskipun tak punya mall, jalanan berlubang disana-sini, tak punya bandara, tapi Tulungagung jarang macet, Tulungagung kulinernya enak dan murah, wisata alamnya ngga kalah sama Maldives. Kebutuhan sosialita pun terpenuhi dengan banyaknya cafe dan angkringan.

Namun sebagai warganya saya selalu menaruh harapan semoga Tulungagung selalu berbenah.

– Ruang Laktasi

Ini poin pertama. Karena saya sekarang adalah seorang Ibu Menyusui. Dimana Ruang Laktasi merupakan bentuk dukungan yang bisa diberikan dari masyarakat. Ruang Laktasi ini juga merupakan komponen penting dalam Kampanye Pro ASI. Tak perlu dijelaskan panjang lebar mengenai kehebatan dan keajaiban ASI ini, silahkan googling sendiri.

Sebenarnya keberadaan Ruang Laktasi ini sudah menjadi standar di beberapa perusahaan, namun sayangnya hanya sedikit yang mewujudkannya. Berawal ketika bayi saya, Marwa berusia 4 bulan, saya membawanya ke sebuah babyshop. Tiba saatnya dia merasa ingin menyusu, saya tidak mendapat kenyamanan dalam menyusui. Ketika saya bilang ke pramuniaga-nya bahwa saya mau menyusui bayi saya, mereka hanya meminjami sebuah kursi pendek. Saya mlipir sendiri untuk mencari tempat. Untuk kelas babyshop sebesar itu, sedih rasanya kalo tidak ada bilik menyusui. Ruang Laktasi ini kalo di kota besar bisa kita temui di mall-mall. Untuk saat ini, hanya Bank BCA Tulungagung yang memiliki Ruang Menyusui.

– Ruang Komunitas

Agak susah sih ngejelasin ini harapan seperti apa. Hehehe. Saya pernah ngebayangin Tulungagung punya suatu tempat dimana itu adalah ruang untuk berekspresi. Dimana setiap hari ada jadwal-jadwal untuk komunitas-komunitas berbagi dan berkumpul.

Misal ya, Senin ada pentas seni dari komunitas A, Selasa ada pertunjukan dari komunitas B, Rabu ada pameran dari komunitas C, Kamis ada sharing session dari komunitas D, begitu seterusnya. Jadwal-jadwal ini bisa terus ter-update jika ada komunitas baru. Jika komunitas terlalu besar, bisa dilakukan di tingkat cluster. Atau mungkin sederhananya ada semacam Pusat Informasi Terpadu. Jadi kalo ada orang mau tanya ada event apa nih, ya tinggal aja cus ke tempat itu buat liat jadwal.

Bayangan kayak gini muncul saat saya pernah ngerasa bingung mau jalan-jalan kemana tapi ngga mau ngabisin uang. Hahaha. Berhubung Tulungagung ngga punya mall, jadi pengen nontonin sesuatu.

– Aplikasi tentang Tulungagung

Harapan ini saya taruh buat teman-teman Developer di Tulungagung. Hehehe. Entah ini harapan atau khayalan ya. Saya pernah cerita-cerita sama suami, andai ada aplikasi Tulungagung di Google Play, dimana aplikasi itu semacam maps. Jadi kalo kita search “Rujak” maka bakal muncul dimana aja warung rujak. Pun kalo kita search “Kedung Tumpang” maka bakal muncul rute perjalanan kesana beserta detailnya tentang contact komunitas yang bisa dihubungi untuk mendampingi, misalnya.

Bayangan kayak gini muncul saat saya sama suami pengen makan rujak tapi ngga tau warung rujak ada dimana. Soalnya langganan waktu itu sedang tutup.

Secara keseluruhan, saya harap Tulungagung bisa jadi kota yang ramah anak. Anak disini ngga harus seusia bayi atau anak sekolah. Setidaknya, hingga sebelum mereka menikah dan berkeluarga, mereka mendapat fasilitas ruang-ruang untuk berekspresi. Mulai dari anak, remaja, dan muda-mudi mereka berhak untuk mengembangkan kapasitasnya semaksimal mungkin. Dan ini tugas semua warga Tulungagung untuk mempersiapkan fasilitasnya.

Well, kalo terlalu ngomongin kurangnya, kadang bikin kita lupa soal lebihnya. Padahal setiap kota mau sebaik dan seburuk apapun, punya keistimewaan sendiri-sendiri dan meninggalkan kesan yang berbeda-beda. Jadi, daripada sibuk membandingkan dengan kota-kota lain, lebih baik fokus dengan lebihnya dan maksimalkan potensinya.

Tulungagung adalah rumah, kemanapun pergi Tulungagung-lah tempat akan kembali.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *