Materi #4 : Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Disclaimer : Materi adalah milik Institut Ibu Profesional. Seluruh catatan disini untuk dokumen pribadi sebagai bahan pembelajaran.

Wah, sudah pekan 4 yaa, tanpa terasa hampir sebulan setiap minggu selalu dapat ilmu baru, berjibaku dengan NHW, memanajemen waktu dengan baik agar semua mendapat porsinya. Aku merasa hidupku lebih ‘berisi’, nggak badan doang. Hahaha.

Sewaktu dijadwalkan untuk mendapat materi ini, beberapa jam sebelumnya, saya mendapat kabar tidak baik. Kabar yang harusnya menggugah empati bagi sebagian orang, namun tidak terjadi pada saya. Seketika, saya merasa jahat banget jadi orang, karena kok aku nggak merasa kasihan ataupun sedih ya? Hahaha.

Begini ya, masing-masing dari kita pasti punya penilaian sendiri-sendiri di mata orang lain. Semua orang baik, pasti. Tapi apakah semua orang akan berkesan bagi kita, kan belum tentu. Itulah yang sedang terjadi padaku. Karena belum pernah ketemu, si subyek sudah menorehkan kesan yang buruk dan menyakitkan. Dan, boom! Saya nggak punya respect sama sekali untuknya bahkan saat kita bertemu dan terlibat dalam kegiatan bersama. Saat banyak orang berkomentar ‘duh, kasian ya’, justru dalam hati saya bilang ‘rasain’. Seketika saya sadar kalo saya jahat, makanya langsung istighfar. Hahaha.

Sekian dulu intermezzo sebelum memulai materi pekan 4. Saya nggak benci ato dendam, tapi pelajaran juga bagi saya, apa yang kita tanam, akan kita tuai. Berhati-hati juga dalam bersikap, apalagi jika sudah berumah tangga, kita nggak tau apakah sikap kita melukai orang lain diluar sana atau tidak. Semoga kamu lekas pulih!

***

Materi pekan ini adalah Mendidik dengan Kekuatan Fitrah, sebuah materi yang nampaknya akan ramai oleh Ibu-Ibu yang haus ilmu parenting. Hahaha. Apa refleksi pertama kali saat membaca materi ini?

Ya, saya tahu bahwa semua anak dilahirkan hebat, unik dan nggak sepenuhnya kosong. Dia lahir sesuai fitrahnya. Makanya kenapa saat hamil, kemudian menuju galau-galau melahirkan, menunggu siang malam, banyak banget kita dengar ungkapan ‘sabar aja, bayi tau kapan siap ketemu orangtuanya, mau lewat mana, bayi tau yang terbaik’. Yap, sejak dia masih janin, Tuhan sudah mendesain sedemikian rupa akan fitrahnya melewati proses kelahiran dari alam kandungan ke alam dunia. Itu menurutku ya…

Berikutnya, tugas kita setelah dia ada di dunia ini. Semua pasti setuju, ada banyak sekali teori parenting, bahkan prinsip parenting turun-temurun dari kakek-nenek. Prinsip, begini begitu, harus diajari begini biar nggak begitu, dan blablabla. Apa salah? Ya, tidak. Namun, sudah selayaknya kita kembali ke fitrah anak, bahwa dia akan berkembang sesuai kemampuannya yang sudah digariskan Tuhan. Tugas kita, membangkitkan, menyadarkan, menggosoknya supaya semakin cemerlang. Bukan mendidiknya sesuai kemauan kita, keinginan kita, namun membantunya menemukan misi hidupnya.

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu

“PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH”

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:
a. Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.

b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll.

d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik.

e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.

g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda very limited special edition

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.
Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.

***

Beberapa pertanyaan untuk menambah pemahaman,

Nurulita_Pacitan raya

Pertanyaan :
Bagaimana membuat anak tergila-gila belajar/menuntut ilmu?

Jawaban :

Sesuai dengan tema materi keempat kita adalah mendidik dengan fitrah. Maka kita fokus pada fitrah.

Apa itu fitrah?
Fitrah adalah apa yang menjadi kejadian atau bawaan manusia sejak lahir.
Pengertian fitrah terkait sistem dengan hal-hal yang disetujui (bawaan) Ada empat fitrah utama yang dibahas dalam penerapan FBE, yaitu fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah seksualitas.

Artinya sebelum kita menuju pada keinginan supaya anak tergila-gila belajar atau mencintai belajar dan menuntut ilmu. Kita perlu paham dulu fase perkembangan anak-anak. Selain itu peka terhadap apa yang anak butuhkan.

Karena sejatinya setiap anak adalah pembelajar sejati, yang tangguh dan hebat. Maka yang perlu kita lakukan adalah memberikan stimulus dan dorongan supaya anak tuntas pada fase perkembangannya.

Anak usia 6 tahun, mereka berada pada masa puncak imajinasi dan abstraksi. Alam bawah sadarnya masih terbuka lebar. Sehingga pada masa ini imaji tentang Allah, Rasulullah, kebajikan dan ciptaan-Nya akan mudah dibangkitkan.

Anak-anak bertindak sebagai pemain dan orang tua sebagai fasilitator. Kenali kebutuhan pemain, apa yang mereka butuhkan dari prosesnya. Dan ingat, di masa ini anak tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Maka, jangan sesekali memaksanya untuk merasa takut karena telah melakukan “kesalahan”, menurut kita. Hanya karena supaya anak tahu sopan santun.

Kemudian, apa yang bisa kita lakukan? Stimulasi imajinasinya dengan membacakan kisah yang berkesan mendalam. Seperti kisah indahnya akhlaq Rasulullah. Atau mengajaknya sholat dengan wajah berseri. Sehingga tumbuhlah rasa cintanya pada Allah. Akan tetapi tidak memaksa mereka unt

uk tertib gerakan, bacaan dan waktu. Tetapi tumbuhkan dulu gairah cintanya kepada Allah.

Andien Amalia_Pacitan
Pertanyaan :

1. Masih bingung soal ” apa yang harus dipelajari anak-anak” dan “untuk apa anak2 mempelajari hal tsb” dalam pengaplikasiannya bagaimana?

2. Bagaimana jika anak kita sekolah di lembaga.. bukan homescholling. Sehingga ukuran kemampuan anak ikut perysaratan target sekolah teresebut sedangkan misal jika kita melihat anak2 kita belom memahami materi tsb bagaiamana? Apa yang harus dilakukan. Jika kita memaksa anak artinya tidak ikut fitrahnya kan? Sedangkan kita juga butuh masuk ke lembaga sekolah tsb karena utk homeschooling belom merasa mampu.

3. Kalo fitrah menghafal surat sebenernya dimulai usia berapa? Apakah begitu penting menghafal sbrp banuak surat di al Quran dg dimulai usia dini, sedangkan anak hanya sekedar menghafal tanpa memahami makna dari apa yang ia hafal?

Maafkan pertanyaan saya banyak sekali😅

Jawaban :

1. Ini mengarah pada apa yang akan kita berikan kepada anak? Apa yang mau kita ajarkan kepada mereka? Apakah hal tersebut mereka perlukan? Atau mereka melakukan itu hanya karena keinginan kita? Misalnya saja anak belajar menata sepatu di raknya. Apakah itu bermanfaat untuk mereka?

Kemudian, anak usia 1 tahun belajar menghafal nama artis. Apakah itu bermanfaat untuknya?

Aplikasinya bagaimana? Lihat dulu kebutuhan mereka. Anak usia 7 tahun, sudah mulai memasuki wilayah sosial. Maka ia akan belajar tentang sopan santun. Dan latihan itu berguna untuknya ketika harus bergaul dengan orang lain.

2. Benar sekali. Memaksakan sesuatu kepada anak sama halnya dengan menyalahi fitrah. Akan tetapi perlu kita pahami bahwa antara lembaga pendidikan di luar rumah (sekolah) dan rumah, bisa menjadi satu keaatuan. Kolaborasi atau sinergi yang baik. Caranya bagaimana?

Di sekolah, anak hanya mendapatkan skill/kemampuan, knowledge/pengetahuan. Tapi di rumah, orang tua bisa menumbuhkan gairah, kemauan, dan semangat.

Jadi, bukan homeschoolingnya yang kita soroti. Akan tetapi home education-nya. Pendidikan dari dalam rumah. Tentu kita tahu bahwa rumah adalah tempat belajar pertama dan utama. Jadi, tumbuhkan semangat belajar itu di dalam rumah. Bukan kemudian memaksa anak untuk memahami apa yang dipelajarinya.

Ingat, bahwa ketika anak sudah senang, dia akan mencari tahu sendiri. Karena sejatinya anak adalah pembelajar sejati.

3. Bukankah semua berawal bukan dari paham? Bukan target hafalannya yang kita tuju. Tapi kecintaan anak pada kalamullah.
💦

Pesan Ibu Fasilitator :

Just do it. Karena fitrah parenting itu tumbuh bersama dengan hadirnya anak. Jadi, buibu jangan terlalu percaya pada si “khawatir”. Biar saja dia sendirian. Jangan hiraukan. Buibu tetap harus percaya diri. Bahwa kalian bisa. Sebab Allah amanahkan putra putri panjenengan itu juga sebagai media belajar. Dan berproses untuk menjadi pantas membersamai mereka. Maka, selain usaha membersamai tumbuh kembang anak. Juga dibarengi ikhtiar batin, memohon hidayah kepada Allah.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *