Materi #2 : Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga

Disclaimer : Materi adalah milik Institut Ibu Profesional. Seluruh catatan disini untuk dokumen pribadi sebagai bahan pembelajaran.

Wah, sudah masuk pekan kedua di Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional ini. Kelas yang semakin menarik untuk saya pribadi, bisa bertemu dengan teman-teman yang memiliki semangat belajar tinggi sekali. Sehingga, walaupun setiap hari ditagih ‘NHW gimana kaka?’ kami masih bisa saling bercanda, menggoda, tapi bermutu. Hahaha.

Kelas Matrikulasi ini juga menjadi topik obrolan setiap hari sama suami. Apalagi materi kedua ini, aduh rasanya benar-benar merasuk ke hati, relate banget sama kondisi keluarga muda seperti kami. Rasanya ingin saya catet semua, masuk jurnal dan bisa dibaca-baca ulang suatu hari nanti. Tapi, disini nanti saya nggak akan tulis semua. Biar kalian penasaran dan gabung ke Institut Ibu Profesional :p

***

APA ITU IBU PROFESIONAL?
Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna;
1. perempuan yang telah melahirkan seseorang;
2. sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
3. panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum;
4. bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari;
5. yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna;
1. bersangkutan dengan profesi;
2. memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak –;

Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang :

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?
Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi “change agent” (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?
Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :
a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya
b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?
“_Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA_”
Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena customer kita adalah anak-anak dan suami. Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

***

Itu adalah materi kedua kali ini, mengenal lebih dalam Institut Ibu Profesional, tahapan belajarnya dan tujuan yang ingin dicapai. Bergizi? Banget!

Nama : Ainun
Pertanyaan :
Jika indikator Ibu Profesional adl menjadi kebanggan keluarga, bagaimana kita tahu bahwa keluarga bangga thd kita?

Jawaban :

Iya Mbak Ai…
Indikator Ibu Profesional adalah menjadi kebanggaan keluarga.

Lalu, bagaimana kita mengetahuinya?

Kira-kira, apakah bisa dengan cara komunikasi? Bertanya mungkin. Kepada anak pun suami. Ibu dan istri seperti apa yang mereka harapkan?

Indikator ini bisa beragam menurut individu juga kekhasan keluarga. Dan kemarin kita sudah membahas terkait indikator penilaian, apakah perlu dibuat atau tidak?

Iya, itu pertanyaan saya sendiri, pertanyaan yang sering banget terbesit di kepala saya. Benar nggak sih, suami bangga punya aku? Benar nggak sih, Marwa bangga punya aku? Bagaimana aku di mata mereka? Apa mereka bahagia punya aku?

Benar-benar pertanyaan yang memicu saya untuk ber-quality time. Pengen tau jawaban mereka, jawaban suami lebih tepatnya. Karena Marwa masih 2 tahun, bahasa verbal tentang beginian masih sulit.

Pertanyaan 2

Nama: Retno Puji Astuti
Pertanyaan:
1. Di materi tadi disebutkan bahwa untuk menjadi ibu profesional ada beberapa tahapan kelas lagi. Apakah semuanya wajib?
2. Didalam misi ibu profesional tadi di sebutkan bahwa meningkatkan kwalitas ibu dalam mendidik anak2nya. Saya sdh membaca beberapa buku parenting. Memang prakteknya tidak semudah membaca. Apalagi masalah sibling rivalry yg terjadi pada anak2 sya. Padahal saya sdh berusaha untuk adil. Sikap2 apa saja yg harus saya ambil agar hal tersebut segera dapat di minimalisir atau bahkan di hilangkan. Terimakasih

Jawaban :

1. Tidak Mbak Retno…
Kelas di tahapan Ibu Profesional bersifat kondisional. Akan tetapi mengikat. Artinya, jika Mbak Retno belum siap mengikuti Kelas Bunda Sayang selepas lulus Matrikulasi, maka Mbak Retno boleh mendaftar di batch berikutnya.

Untuk informasi lebih lengkap teman-teman bisa sering-sering berkunjung ke rumah virtual Ibu Profesional yang beralamat di www.ibuprofesional.com

2. Kita ingat bersama ya teman-teman… Bahwa anak bukanlah robot. Yang ketika kita menghendaki A, mereka akan mengikuti. Adil menurut kita belum tentu baginya. Maka, karena anak juga dibekali fitrah oleh Allah. Perlu kita croscek lagi, apakah yang kita lakukan sudah “pas” menurut mereka?

Saya sendiri selalu menekankan pada diri sendiri, untuk berbicara kepada anak sesuai usia tumbangnya. Jadi, bukan mereka yang kita paksa untuk memahami apa maksud kita. Tetapi, kitalah yang harus mengolah bahasa sesuai dengan kemampuan mereka memahami.

“Banyakin main bareng, ngobrol bareng.”
Ini mantra lagi dari Pak Dodik. Yang bagi saya adalah afirmasi untuk bisa mendekatkan diri dengan keluarga.

Kalau masih ingat, di awal perkenalan, saya mengatakan apa yang berubah dalam diri saya setelah mengikuti kelas IIP maupun komunitas IP.

Saya sudah bold jawaban dari Mba Nana, fasil kami, yang mengutip mantra dari Pak Dodik, Founder IIP ini. Tentang banyakin main bareng, ngobrol bareng. Dan erat banget sama manajemen gadget. Apa kita sudah benar-benar menerapkan manajemen gadget yang sesuai keluarga kita inginkan?

Dan, menurut saya, mantra ini nggak berlaku hanya untuk anak, untuk suami juga. Setelah dapet materi ini, saya langsung ngobrol banyak sama suami, karena terkait dengan NHW berikutnya. Jujur ya, materi kali ini daleeem banget buat saya, banyak merenung dan refleksi ke diri dan keluarga. Suami saya aja jadi pengen ikut kelas beginian. Hahaha.

Sebenarnya ada banyak yang ingin saya tuliskan dan juga pertanyaan dari teman-teman sekelas saya yang mantap-mantap, tapi saya kutip 2 aja ya. Biar postingan ini tidak terlalu panjang. Nanti yang baca, bosen. Lagipula, saya mau kerjain NHW dulu. Bye bye…

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *