Hari Sarjana Nasional (29 September)

image
Source : news.okezone.com

Selamat Hari Sarjana Nasional, teman-teman. Masih ingat bagaimana proses menuju satu hari mengenakan baju toga? Pusingnya skripsi, kecewa di-PHP dosen pembimbing, tegangnya sidang, teman-teman yang sedianya support. Tentu hal-hal kayak gitu meski pahit awalnya, ngeselin, tapi sekarang jadi masa-masa yang dirindukan. Saya sendiri kangen banget saat beli gorengan bareng, modal iuran seribu-duaribu tapi dimakan bareng-bareng, unforgetable moment.

Dan sekarang lepas 2 tahun sudah sejak saya resmi menyandang gelar sarjana. Semua tak lepas dari peran kedua orang tua yang amat besar, juga peran teman-teman sejawat. Skripsi menjadi karya pertama, yang telah dipertanggungjawabkan keabsahannya. Masih inget dong gimana kita harus bikin pernyataan plagiarisme? Bukan hanya sekedar hitam diatas putih, melainkan tanggung jawab moral spiritualnya. Namun ternyata beberapa waktu lalu, ijazah sarjana menjadi polemik karena banyaknya ijazah palsu. Kemudian banyak Perguruan Tinggi yang bermasalah mengakibatkan dicabutnya perizinan mereka. Sebagai sarjana, saya sedih, mikirnya apa iya bangga tuh dapet gelar kalo prosesnya aja ngaco? Percaya atau tidak, ada temen yang nyari gelar sarjana cuma biar di undangan nikah ada embel-embelnya. Apa cuma di Indonesia aja yang undangan nikah pake embel-embel sarjana A, B, atau C?

Selepas sarjana tentu ada beberapa yang memilih mencari pekerjaan. Namun apalah daya mencari pekerjaan itu tidak semudah proses skripsi–meski proses skripsi ternyata tidak mudah–. Harus berapa kali bikin dan buang CV ke perusahaan, ikut bursa kerja sana sini, dapat panggilan, masih test psikotes, kemudian wawancara. Isinya harap-harap cemas, korban PHP. Jangan salahin perusahaannya, kadang kita aja yang terlalu berharap dan potensi kita belum sesuai dengan kriteria mereka. Rejeki memang sudah ada yang mengatur, tapi berusaha itu tiada batasnya.

Selain mencari pekerjaan, kini sangat terbuka kesempatan yang amat luas untuk wirausaha. Yup, entrepreneur. Wirausaha atau bisnis kini menjadi trend anak muda. Ditambah perkembangan tekhnologi yang pesat, dimana membuka online shop bukanlah hal yang sulit. Perbanyak jaringan, buka toko online dan tekun. Tak lupa pelajari benar-benar bidang tokomu, pelajari market-nya, kelola keuangan dengan benar dan tetap bertahan. Terkadang yang menjadi masalah bagi wirausaha muda adalah ketika nanti berhubungan dengan pemerintah, mengenai perijinan, uji laboratorium. Maka ini menjadi tantangan tersendiri bagi wirausaha muda.

Sebenarnya tidak ada alasan bagi sarjana untuk menganggur. Ada berbagai pilihan. Bagi yang ingin pekerjaan profesional, bisa meneruskan jenjang pendidikannya. Menjadi seorang sarjana adalah berarti telah mencapai tingkat intelektual tinggi. Ada banyak harapan yang selalu disemogakan oleh kedua orang tua kita, oleh orang-orang di lingkungan kita, bahkan pemerintah kita. Mau belajar acuh tak acuh pun, kemajuan lingkungan juga bergantung di tangan kita. Mungkin banyak diantara kita yang pandai mengkritik, namun alangkah baiknya juga diimbangi dengan saran dan perbaikan.

Di Hari Sarjana Nasional ini, mari kita evaluasi mengenai peran-peran kita di masyarakat dan lingkungan. Apakah kita cukup menjadi penonton? Atau cukup menjadi penerus keturunan tanpa peduli kualitas keturunan lingkungan kita akan menjadi seperti apa? Apakah dengan gelar sarjana kita sudah cukup membawa perbaikan bagi lingkungan? Atau cuma numpang nafas, makan dan tidur?

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *