Festival Bonorowo Menulis : Pertemuan Pertama

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. -Pramudya Ananta Toer

Bunda Zakyzahra selalu mengatakan bahwa jika jaman dahulu sejarah diungkapkan dengan prasasti, maka jaman sekarang sejarah diungkapkan dari buku. Sejarah bukan melulu tentang penjajahan atau perlawanan, namun akan selalu tentang perjuangan. Tidak ada makhluk hidup di dunia ini yang tidak berjuang, semua berjuang dan semua adalah pejuang. Bahkan semut pun akan selalu berjuang untuk mendapatkan makanan dengan cara gotong royong bersama koloninya. Semua makhluk hidup adalah bagian dari sejarah, itupun jika bersedia mengambil bagiannya. Jadi, ambil bagianmu dan tulis sejarahmu.

Setelah lolos sebagai relawan/volunteer beberapa waktu yang lalu, 5 hari kemudian sesuai kesepakatan kami berkumpul di basecamp Sanggar Kepenulisan Pena Ananda. Saya bertemu dengan orang-orang yang sama-sama lolos sebagai volunteer, sama-sama akan berjuang dalam dunia literasi serta sama-sama akan menulis sejarah. Tidak hanya sejarah untuk diri sendiri, namun juga untuk orang lain. Ada sekitar 15 orang, tua muda, lelaki perempuan, bahkan percaya atau tidak, ada anak-anak. Dan yang lebih membanggakan anak-anak tersebut sudah bisa menulis buku. Believe or not? You should believe.
Kami diminta berkenalan satu per satu, juga menjelaskan apa motivasi menjadi seorang relawan di dunia literasi. Pertanyaan susah-susah gampang, menyenangkan namun membingungkan. Beberapa orang memang berlatarbelakang dunia literasi, ada seorang pustakawan yang buku sudah merupakan makanan sehari-hari, ada pegiat media, ada orang tua yang mencintai dunia menulis dan berbagai profesi lain, termasuk saya, karyawan swasta yang setiap harinya duduk dibelakang meja komputer. Ketika tiba pertanyaan motivasi, beberapa karena dorongan hati untuk membantu, beberapa susah menjelaskan karena motivasi itu datang begitu saja, lillahi ta’ala.

image

Lalu, apa motivasi saya? Awalnya sederhana, karena saya ingin ketemu dengan orang-orang baru, menambah lingkar pertemanan saya, dan saya memilih orang-orang baru itu adalah orang-orang yang memiliki minat yang sama dengan saya, literasi. Disaat pertemuan itu, mendengar sharing dari Bunda serta motivasi teman-teman, motivasi saya nambah. Saya lahir di Tulungagung, besar di Tulungagung, sekolah di Tulungagung, bekerja di Tulungagung, tapi apa yang saya tahu tentang Tulungagung? Nyaris nol. Saya hanya tahu bahwa perkembangan kuliner di Tulungagung ini pesat sekali, dalam beberapa tahun saja sudah berapa cafe, tempat nongkrong, warung makan yang baru dibuka. Semua hanya menunggu kondisi dompet saja, dan pilih mau wisata kuliner kemana. Kemudian booming tempat wisata, tujuan nge-trip-nya anak kekinian sebutlah Banyu Mulok, Gunung Budeg dan kini Kedung Tumpang dan Ranu Gumbolo. Hingga saya menyadari, kota kecil ini menyimpan banyak potensi dan ketika waktu semakin berjalan saya tidak ingin Tulungagung dan segala kekayaannya hanya tinggal sebagai kenangan, namun harus menjadi bagian dari sejarah.

Terlepas dari apapun motivasi kami, semua langkah kecil ini adalah wujud kecintaan kami kepada Tulungagung. Kota kecil dimana kami lahir dan dibesarkan, menyerap begitu banyak sumberdayanya. Sudah sepantasnyalah kami menyusun prasasti untuk Tulungagung. Festival Literasi Bonorowo Menulis ini hanyalah salah satu media ungkapan kami, diantara media-media yang lain. Itulah visi kami.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *