Festival Bonorowo Menulis : Monolog Ibu Inggit (Lely Mei – API Bandung)

Salah satu komunitas yang hadir di Festival Bonorowo Menulis (9-11 Oktober 2015) adalah komunitas API Bandung. Mereka secara khusus datang dari Bandung, Jawa Barat ke bumi Bonorowo untuk turut sumbangsih dalam festival ini. Di hari pertama, ada penampilan konser buku dari Adew Habtsa, sayang sekali dihari pertama saya tidak dapat mengikutinya, karena terhalang ijin kerja. Dihari kedua ada penampilan Monolog Ibu Inggit dari Lely Mei (Cici).

Monolog adalah seni peran dimana hanya dibutuhkan satu orang untuk memerankan. Jujur, awalnya saya tidak mengetahui siapa itu Inggit, saya pikir dia adalah tokoh sastra hehehe *sungkem sama sejarah*. Saya memang belum pernah mendengar nama Inggit Garnasih, bahkan dalam sejarah ketika saya mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Monolog Ibu Inggit diperankan oleh Lely Mei, salah satu anggota dari komunitas dari Api Bandung. Berdandan jawa dengan kebaya kutu baru dan jarit batik, Ia naik keatas panggung, memperkenalkan diri sebagai Inggit Garnasih. Kata orang, jika pemuda-pemuda mendapatkan senyumnya seperti mendapatkan uang seringgit. Kala itu, seringgit adalah uang dengan nominal yang sangat besar.

IMG-20151010-WA0058
Photo by Husniati Salma (Photographer Volunteer)

Inggit Garnasih adalah istri kedua Bapak Ir. Soekarno, beliau adalah wanita yang mendampingi Soekarno dalam perjuangannya sebelum menuju gerbang kemerdekaan. Ibu Inggit adalah perempuan yang ada disisi Soekarno ketika beliau dipenjara dan diasingkan. Selama hampir 20 tahun, Ibu Inggit menjadi istri yang setia, menggantikan peran kepala keluarga ketika Soekarno dipenjara bersama dengan anak angkatnya. Lely Mei memerankan Ibu Inggit dengan sempurna, siapapun yang ketika itu hadir dalam Monolog, merasakan perjuangan Ibu Inggit, bahkan saya sendiri menahan air mata. Begitupula saya perhatikan beberapa teman relawan dibelakang saya, mereka menangis turut merasakan seandainya menjadi Ibu Inggit.

IMG-20151010-WA0059
Photo by Husniati Salma (Photographer Volunteer)

Ibu Inggit tidak mampu memberikan keturunan untuk Soekarno, sementara Soekarno menginginkan keturunan. Soekarno bersikukuh tak ingin menceraikan Ibu Inggit, karena Soekarno paham betul siapa perempuan yang telah menemaninya berjuang. Kawan-kawan Soekarno kala itu, Syahrir, berusaha meyakinkan untuk memikirkan matang-matang keputusannya menceraikan Inggit. Namun, itulah yang diinginkan Inggit. Jika Soekarno menginginkan anak, dan jika anak adalah yang akan memberikan semangat, maka Inggit rela diceraikan, Inggit tak rela jika harus dimadu. Bertempat di Pegangsaan, Soekarno dan Inggit bercerai. Inggit meninggalkan Pegangsaan dengan senyum terbaiknya.

Hanya ada sedikit cerita sejarah tentang Inggit, namun novelnya begitu fenomenal, hingga telah mengalami beberapa kali cetak. Novel tentang Inggit berjudul “Kuantar ke Gerbang” karya Ramadhan K.H. Dalam monolog yang ditampilkan hampir 1 jam itu, sungguh tidak membosankan. Saya sendiri kagum dengan Lely Mei, Ia telah memerankan sosok Inggit selama 3 tahun, sehingga penjiwaannya begitu sempurna dan menyentuh.

Jika ada yang bertanya dimana Inggit Garnasih berada, Inggit tak pernah kemana-mana, namun Ia ada dimana-mana. Inggit Garnasih memang bukan Ibu Negara, namun Ia adalah Ibu Pertiwi. Ia ada diantara tetesan air hujan yang terjatuh dan meresap kedalam tanah. Ia ada diantara hembusan angin-angin yang menggoyangkan dedaunan.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *