Festival Bonorowo Menulis : Donasi dan Berbagi

Dua tahun yang lalu ketika saya memutuskan untuk menjadi relawan di Festival Bonorowo Menulis saya berstatus lajang. Waktu saya sangat banyak. Meski saya bekerja, untuk refreshing saya selalu bersama pacar (sekarang suami). Bukan karena saya tidak punya teman. Saya punya teman, mereka pun ada. Hanya saja seiring waktu berjalan tentu mereka punya kesibukan masing-masing. Dari situlah saya merasa perlu untuk mencari dan membentuk lingkar pertemanan yang baru. Karena teman memang datang silih berganti.

Lagipula, saya juga pernah berfikir mau sampai kapan sih maen-maen terus, cari duit, ngabisin duit, pacaran, gitu terus siklusnya. Pasti pernah kepikiran kan pengen berbuat sesuatu atau berbagi sesuatu. Waktu itu, Festival Bonorowo Menulis memfasilitasinya.

Saya membagi waktu saya dengan menjadi relawan. Meluangkan waktu 2 hari saya, saya ijin kerja. Saya mungkin memang kehilangan bonus kerja, saya memang rugi dari segi rupiah. Tapi sebenarnya saya untung banyak. Saya berkenalan dengan banyak orang baru, saya terlibat dalam bidang aktivitas yang saya cintai. Dan itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan rupiah yang hilang. Ada kepuasan batin yang susah untuk dijelaskan. Ada bahagia yang sukar untuk diungkapkan.

Sekarang, saya tidak lagi gabung sebagai relawan. Karena saya punya medan pengabdian lain, Marwa, bayi saya. Kadang ada perasaan sedih, pengen rasanya gabung lagi. 2015 aja keren, apalagi 2017.

– Hibah dan Donasi Buku

Ini adalah salah satu agenda yang ada di Festival Bonorowo Menulis. Hibah dan Donasi buku ini untuk acara tumpeng buku. Di tahun 2015 lalu, tumpeng buku menjadi puncak acara. Dinanti sama banyak orang, saya lihat sendiri seperti apa antusiasnya. Bahkan hanya dalam hitungan detik, tumpeng buku itu ludes di serang. Hahaha. Seru banget. Itu baru 1 tumpeng lho ya, sedangkan untuk Festival Bonorowo Menulis 2017 ini akan ada 2 tumpeng, untuk anak dan dewasa. Serunya pasti dobel-dobel.

Alhamdulillah waktu itu saya juga ikut hibah. Semoga buku saya bisa memberi manfaat hingga sekarang, entah dimana berada dan siapa yang dapat.

Dulu bagi saya, buku itu harta. Karena ngga jarang saya harus nabung dulu buat beli, atau nahan diri buat ngga beli kebutuhan yang lain hanya biar bisa beli buku. Kalo lagi ada pameran, sudah dipastikan saya berburu. Buat pecinta buku, merelakan buku buat dihibah itu pasti berat dan bingung. Saya juga merasakannya.

Tapi ada keajaiban yang datang pada saya. Tahun 2016, selepas FBM 2015, saya bisa beli buku berlipat-lipat dari yang pernah saya hibah. Entahlah, ada saja pintunya, bisa berupa uang sewaktu ada pameran atau tiba-tiba suami pulang kerja bawa buku. Sekarang, saya perlu tempat lagi untuk pendatang buku baru itu. Semua ini saya sadari di tahun 2017, ketika FBM 2017 digaungkan dan hibah buku dibuka.

Jadi, kalo kamu pengen hibahin buku, bikin lemari buku kamu agak longgar, bisa banget dihibah ke Festival Bonorowo Menulis. Semoga keajaiban yang saya alami juga nular ke teman-teman yang bersedia hibah. Sekalian ingetin ya, kalo sekarang Presiden Joko Widodo punya kebijakan baru bahwa setiap tanggal 17 kita gratis kirim buku untuk Taman Baca Masyarakat. Kebetulan bulan September ini hari kirim buku gratis jatuh pada tanggal 18. So, ayo pergi ke Kantor Pos dan hibahin buku kita tanggal 18 September nanti.

– Donasi Dana

Donasi Dana ini sesuatu hal yang sensitif. Kalo kalian pikir Festival Bonorowo Menulis ini datang dari satu atau dua pemilik dana yang besar, kalian salah. Semua printilan yang ada bersumber dari donasi dan sponsor. Sponsornya darimana aja, semua terbuka dan bisa dilihat berapa nominal yang diberikan. Selain itu, Festival Bonorowo Menulis mengusung ideologi dari rakyat dan untuk rakyat, maka segala kebutuhannya akan datang dari rakyat.

Teringat 2 tahun yang lalu, setiap hari kami, para Relawan, selalu dapat update tentang berapa dana yang sudah terkumpul. Festival sudah tinggal berapa hari lagi, tapi dana kami jauh dari cukup. Sekitar pukul 11 siang, Bunda Zakyzahra kirim voice note bahwa kami dapat donasi dari seseorang dengan nominal yang besar. Dengar voice note dengan suara bergetar, saya merinding. Waktu itu kami tak punya apa-apa selain keyakinan yang besar bahwa pasti bisa.

Bahwa ketika pintu lain tertutup, maka akan terbuka pintu-pintu yang lain. Nah, kamu mau bantu dari segi apa, terserah. Semoga bantuan yang diberikan bisa memberi keajaiban dalam hidup.

Festival Bonorowo Menulis ini memang punya tempat tersendiri di hati dan otak saya. Saya nulis ini sebenarnya karena saya sedih ngga bisa ikut terlibat, jadinya cuma bisa ngubek-ngubek kenangan lama sambil pantengin update-nya.

Info tentang Festival Bonorowo Menulis ini bisa dibaca disini. Follow juga akun sosial medianya, Instagram @pena.ananda , Fanspage Facebook Sanggar Kepenulisan Pena Ananda.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *