Feeling Down

Minggu lalu, saat mengerjakan NHW 5, saya sedikit cerita tentang konsentrasi yang terpecah. Marwa mendadak demam, Ibu saya juga nyusul demam, akibatnya dalam seminggu saya harus bolak balik ijin. Kemudian, disusul kerempongan sepupu saya menikah, sedih-sedih happy. Sedihnya karena Ibu sakit, happy akhirnya sepupu (dari pihak Ibu, btw) sekaligus teman TK menikah. Hahaha.

Akibat dari segala kerempongan dan keriweuhan ini, saya stres. Kepala sakit banget. Tapi harus tetap kerja, karena mendekati End Of Month. Itu artinya, saya harus ngebut ngecek arus keuangan, bikin laporan keuangan dan menyebalkannya lagi, Februari cuma 28 hari cyin! Bener-bener stres, akhirnya saya cuma bisa nangis, di kamar mandi kantor. Huhuhu.

Karena seminggu begitu rempong, dan menguras emosi, sempet di sentil omongan nggak enak dari suami, akhirnya saya nge-gas rem blong, keluar kata-kata kasar ke suami. Dan, boom! bertengkar hebat. Karena bertengkar ini, saya males-les-les ngerjain pekerjaan rumah tangga.

Kemudian, terbersit pikiran kotor ‘aku capek jadi istri dan ibu’. Kamar berantakan, setrikaan numpuk. Aku ingin menghilang sebentar saja, boleh nggak sih? Huhuhu.

Beruntungnya, saya punya grup WA baru kesayangan, isinya orang lama tapi terpercaya. Curhat lah disitu kalo butuh semangat, hujan emoticon nangis, cerita kalo lagi capek ini itu blablabla…

Juga cerita ke salah seorang teman, yang sudah kuanggap saudara sendiri juga, karena dia wise banget, butuh dinasehati sama doi. Hahaha.

***

Well, sebagai Ibu bekerja, saya sadar banget kalo rawan sama kejadian-kejadian begitu. Ketika dilema harus menghinggapi, antara pekerjaan dan anak / keluarga. Nggak cuma sekali, saya kepikiran untuk resign. Tapi banyak pihak yang tidak setuju dengan keinginan saya. Berulang kali saya diminta bertahan. Jika dipikir ulang, sejauh ini saya memang lebih bahagia saat bisa bekerja. Nggak perlu diperdebatkan tentang pilihan bekerja atau dirumah ya. Saya percaya, semua Ibu pasti pernah merasakan dilema, capek dan dilingkupi rasa bersalah.

Kata teman saya :

Capek itu manusiawi, wajar, tapi harus cepet cari obat. Obat e apa? Cuma kamu yang tahu. Asal nggak cuti dari Ibu dan Istri. Nggak usah bikin alasan perjuangan untuk ini itu, inget anak aja.

Apa langsung inget anak? Iya, sedikit :D. Ingetnya ya mungkin dia belum paham soal berkecamuknya pikiran Ibu, tapi dia butuh tubuh kita, Ibunya. Bahkan, ada beberapa orang yang bilang kalo pikiran Ibu bisa juga dirasakan ke anak.

Teman saya lainnya bilang :

Cerita sama Allah, terserah mau pake bahasa apa. Merenung, ceritakan semua. Allah pasti bantu. Kuncinya, kamu yakin.

Allah memang sebaik-baiknya penolong, juga Maha Membolak-balikkan hati manusia.

Terima kasih untuk kalian yang selalu memberi pencerahan. Ternyata, kita sudah dewasa ya? Hahaha

So, what I’ve to do?

Saya berusaha runut ulang kejadian-kejadian beruntun yang menjadi penyebab stres saya. Alhamdulillah, anak membaik, Ibu juga membaik. Berarti saatnya saya kembali ke ranah publik. Hanya saja masih ada rasa capek, jadi kurang bisa fokus. Saya putuskan, kerjakan semampunya. Pada akhirnya, laporan telat, pasti. Tapi ya sudah, ikhlaskan. Memang kesalahan kok, jadi belajarĀ  bertanggungjawab aja dan profesional.

Tulisan ini saya publish sebagai bahan pembelajaran saya tentang manajemen diri, sesuai dengan apa yang saya buat di desain pembelajaran. Setiap orang pasti punya masalah. Sadari saja itu. Terima diri bahwa kita akan selalu terlibat problem-problem. Sadari juga bahwa kita perlu merunut ulang apa yang menjadi sumber masalah, sehingga nggak perlu berlarut-larut atau bahkan merasa tidak ada solusi. Bukankah solusi ada karena kita berusaha menyelesaikannya?

Happy Learning…

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *