Dolanan Jaman Cilik

dolanan jaman cilik

Akhir-akhir ini kita sering banget liat timeline Facebook penuh dengan gambar-gambar permainan masa kecil yang identik dengan generasi 90’an. Iya, saya generasi 90’an lho. Tua? Iyalah. Bangga? Pasti. Kenapa bangga? Karena saya ngerasa spesial lahir ditahun itu dan merasakan gimana lelahnya karena main sama tetangga atau teman sekolah. Sampai harus dijemput karena ga mau pulang dan ga sadar waktu. Muka dekil, baju kotor, pulang hujan-hujanan, tapi bisa ketawa-tawa sama teman. Bahagia banget dan ngerasa bahwa dunia hanya milik kami, anak-anak.

Dolanan jaman cilik (re: Permainan masa kecil) memang banyak banget. Hampir semuanya lucu, seru dan absurd alias ga jelas. Kadang, susah buat berhenti sebelum ada yang tiba-tiba nangis atau ngambek, yang ujung-ujungnya musuh-musuhan, eh besoknya main bareng lagi hahaha kita ngga kenal tuh baper-baperan. Dari sekian banyak permainan masa kecil, ada beberapa yang paling saya kangenin. Apa aja?

  1. Bongkar Pasang. Cewek 90’an pasti ngga ada yang ngga kenal sama permainan ini. Permainan padu padan fashion. Dijual dalam lembaran kertas karton, ada model orang mulai berambut panjang sampai pendek, ada baju mulai baju pesta, baju tidur, baju santai hingga aksesoris tas, sepatu, gelang dan kalung. Jaman dulu dibanderol mulai 1000 rupiah per lembar, tergantung besar kecil. Makin besar makin macem-macem isinya dan makin mahal. Sepulang sekolah nongkrongin penjual mainan, pilih-pilih yang sekiranya belum punya baju model mana, bayarin, pulang dan gunting-gunting rapi. Ngga jarang karena masih kecil guntingnya belum bisa rapi, rambut si model kepotong lah, cantelan buat bajunya kepotong, tapi semua bisa diakalin main tambal-tambal hahaha. Setelah itu disimpen di kardus mainan dari kardus bekas sepatu. Bikin tempat tidur dari bekas bungkus rokok, bikin kursi-kursian dari kardus susu, bikin almari dari bekas kardus korek api. Kita kreatif ya jaman dulu? Bisa lho desain rumah berbahankan daur ulang gitu. Dan mainnya? Drama hahaha. Ngarang nama, siapa jadi Ibu, siapa jadi Anak. Cerita bangun pagi, mandi, berangkat sekolah, dan ngobrol. Bukan drama cinta-cintaan. Duuuh kita pinter dubbing ya jaman dulu… Hahaha

    bp
    ‘Mau pake baju apa ya?’ (sumber gambar)
  2. Engklek / Gedrik. Di daerah saya disebutnya Gedrik. Ada Gedrik rumah dan Gedrik Kitiran (Kincir Angin). Biasanya dimainkan minimal 3 orang dan harus berbekal gaco/gacuk/kreweng. Kenapa kreweng? Kreweng itu pecahan genting, karena bentuknya datar dan mudah dilempar. Gedrik digambar di tanah, kemudian hompimpa untuk menentukan urutan, hingga berakhir 2 orang untuk suit. Dia yang kalah adalah yang jalan paling akhir. Kotak yang ada gaconya tidak boleh diinjak/dilewati. Dia yang pas jalan/engklek (berjalan dengan satu kaki) dan nginjak garis batas salah satu kotak harus mengulangi. Begitu hingga kotak paling atas. Diakhir permainan, setelah semua kotak dijalankan, kita bisa pilih ‘rumah’ lho hahaha. Caranya, membelakangi pola Gedrik, lempar gaco kebelakang tanpa melihat dan taraaa…kotak yang mendapati gaco mu adalah rumahmu. Selamat! 😀 Enak ya bisa pilih rumah cuma engklek gitu doang? hahaha. Dirumah kita ini, kita boleh ngga jalan engklek. Dia yang punya banyak rumah adalah pemenang.

    batu-7
    Gedrik yuk? (sumber gambar)
  3. Pasar-Pasaran. Mungkin di daerah lain disebut Masak-masakan. Permainan pasar-pasaran ini permainan kembali ke alam 😀 dimana kita nyari bahan dari sekitar rumah seperti dedaunan dan biji-bijian. Paling favorit adalah bikin nasi pecel 😀 Nasinya dari tanah, sayuran dari dedaunan yang udah dicincang, lauk pauk dari pelepah pisang, rempeyek dari daun kering dan sambalnya dari tanah bata yang dicampur air. Kemudian dibungkus dengan daun pisang. Ngga heran kalo dulu Ibu-ibu kita suka ngomel gara-gara daun pohon pisangnya abis. Kalo ngga gitu ngomel gara-gara pisaunya kita pake, kita selalu minta pisau yang tajam, ngga jarang mainan berakhir gara-gara ada yang tergores pisau dan nangis :D. Selanjutnya, jualan! Saling jual dan beli hasil pasaran meski menu yang dijual sama. Menu favorit berikutnya adalah soto/gulai. Warna kuningnya diambil dari irisan batang pohon mangga kemudian dicampur air gamping. Bukan gamping yang panas yaa, tapi gamping yang udah terendam lama dan ambil airnya. Aduk-aduk dan jadilah kuah soto/gulai :D. Kita juga pernah jualan minyak-minyakan. Bahannya dari daun pohon kapas (daun randu). Cari sebanyak-banyaknya daun randu, remas-remas sambil dicampur air, peras dan saring. Hasilnya, kental kayak minyak. Mau beli berapa liter? hahaha.
233216_7e6b7140-8aad-11e4-9ee9-dee64908a8c2
Masak-masakan modern (sumber gambar)

Nah, itu dia dolanan yang paling sering saya mainkan, utamanya setiap hari Minggu pagi dalam keadaan belum mandi 😀 mandinya kalo sudah kotor, lanjut makan siang dan tidur. Sekarang, beberapa mainan sudah mulai jarang dimainkan. Seperti Engklek, kayaknya susah dimainkan di era sekarang, banyak lahan berubah jadi aspal atau paving, susah mau digambar apalagi dilempari gaco. Bongkar pasang juga sudah termodifikasi dengan karakter kartun-kartun sekarang. Pasaran apalagi? Kotor sih, tapi itu melatih anak lihai di dapur ketika dewasa nanti. Bagian jualan juga melatih anak untuk berhitung dan wirausaha sejak dini :D. Sekarang pasaran bermodifikasi dengan masak-masakan, ada alat yang dijual lengkap seperti kompor gas, panci hingga ikan dan telor plastik.

Jadi, apa dolanan jaman cilik mu? Dolanan yuk…

********

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa

mama-calvin-&-bunda-salfa-giveaway

 

You may also like

10 Comments

  1. baru inget namanya bongkar pasang. saya dulu ngumpulin mainan ini sampai banyak, dulu kalau ada gambar baru, saya beli, jadinya di rumah numpuk 🙂

  2. Jadi flash back jaman kecil dulu mbak, masa masih imut dan unyu’-unyu’nya. hehe.
    karena saya laki jadi biasanya main engklek dan kelereng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *