Cerita Sedih

Ah jujur nggak tau harus kasih judul apa. Tapi cerita rekan saya kali ini sedih, saya sampe menahan air mata. Rekan saya ini bukan rekan kerja yang setiap hari ketemu atau punya jadwal rutin ketemu saya dikantor. Blio hanya sesekali datang, tak tentu, tiba-tiba muncul tapi kemudian lama tak ada kabar.

Beberapa waktu yang lalu saat berkunjung dan duduk di meja saya, blio bertanya, dimana beli lodho yang enak. Saya jawab sebuah depot masakan lodho yang terkenal karena ayam kampungnya. Blio menyatakan setuju dan bilang kalo nanti mau mampir untuk coba soalnya istrinya lagi hamil, ngidam gitu ceritanya. Sebagai rekan, saya ikut bahagia dan berdoa semoga kehamilannya lancar-lancar saja.

Lama tak bersua, sesekali rekan saya ini datang. Tapi tiap kali mau menanyakan kabar istrinya yang sedang hamil, saya lupa. Dan hari ini inget!

“Mas, gimana kabar istrinya? Sudah lahiran belum, atau jangan-jangan sudah lahir aja anakmu?” Tanyaku.

“Lhoh, nggak dengar kabar ya?” Jawabnya. Saya bilang tidak dan setengah kaget, memangnya ada apa.

“Sudah lahir, tapi nggak mau di mong (asuh)” lanjutnya.

Saya kaget. Bingung antara pengen tau kronologisnya atau nahan diri untuk menjaga perasaannya. Karena rasa penasaran, saya memutuskan bertanya langsung, sekaligus mengutarakan turut berdukacita.

Singkat cerita, bayinya meninggal saat di kandungan usia 8 bulan. Indikasinya adalah tali pusat yang menghubungkan plasenta dan bayi, terputar mlintir, sehingga asupan oksigen dan nutrisinya terhambat.

Indikasi eksternalnya adalah sang Ibu terlalu stres. Karena memang menurut cerita, 2 minggu sebelumnya Ayahnya berpulang, disusul Mbahnya. Si Ibu, istri teman saya ini, down berat, sedihnya mendalam sekali.

Saya benar-benar ikut sedih, sampe suara saya tertahan dan meremas tangan sendiri menahan supaya nggak nangis. Saat tau bahwa bayinya sudah lahir namun sudah tak bernafas, kata teman saya ini, istrinya seolah-olah sudah pasrah, mungkin sudah berada dalam titik ‘yoweslah’ karena orang-orang yang dikasihinya berpulang satu per satu.

Saya mengutarakan dukacita saya karena sama sekali tak tau kabar ini jika saya tak bertanya. Saya hanya bisa berkata bahwa anak perempuannya pasti sudah menyiapkan surga untuk kedua orangtuanya.

“Iya, makasih. Kita nggak tau rencana Tuhan seperti apa. Sudah digariskan.” Ucapnya ikhlas namun tampak semburat sedih.

Saya langsung inget anak saya dirumah, teman-teman saya yang sudah merasakan kehamilan juga anak teman-teman saya. Saya seperti diingatkan hamil dan melahirkan itu benar-benar proses campur tangan Tuhan. Mau secanggih apapun medis, sekuat apapun kita menjaga, kalo Tuhan sudah berkehendak ya manusia bisa apa.

Semoga ada yang dipetik dari cerita ini, mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas sekecil apapun yang kita miliki saat ini, mengingatkan kita bahwa Tuhan Maha Berkehendak dan Maha Segalanya.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *