Cerita Pandemi : Positif (Remang)

Setahun sudah kita menjalani hidup di tengah pandemi. Setahun sudah kemana-mana harus pakai masker, tidak lagi bersalaman, tidak bepergian keluar kota dan menjaga kebersihan super ketat. Sempat ada masa rasanya capek banget, jadi kebiasaan mencuci tangan kadang kendor. Masuk rumah rasanya langsung pengen goleran. Taruh masker sembarangan. Rutinitas baru yang cukup melelahkan.

Sempat sekali merasakan rapid-test ambil darah sebagai persyaratan mengikuti SKB untuk CPNS. Saya sih optimis sehat, ya, tapi rasa dag-dig-dug menunggu hasil tetap ada. Rasanya, plong saat tau bahwa non-reaktif, yang artinya tidak ada sesuatu dalam diri saya yang mengaktifkan antibody. Belum cukup rapid-test darah, karena lolos CPNS dan mulai bekerja di instansi, Walikota meminta kami untuk test Antigen. Iya, Antigen yang ambil sample dari hidung. Masih dengan perasaan yang sama, optimis sehat. Alhamdulillah, hasilnya negatif. Lega. Plong.

Hari-hari berikutnya saya beraktivitas seperti biasa. Menempuh perjalanan pulang pergi total 70 km. Hingga hari itu adalah tanggal merah Imlek. Tentu tidak bisa bepergian karena pandemi. Begitupun, suami ternyata harus lembur. Pulang lembur… Jreng… Jreng… Doi demam!

Mulut saya berkata, nggak apa-apa, mungkin kamu cuma capek. Iya, aku juga tidak merasa sakit, cuma kedinginan, jawabnya. Esok harinya, hari Minggu, demamnya reda. Alhamdulillah. Yakin rasanya kalo cuma capek. Namun, sejak demam itu, saya meminta Marwa, anak kami, untuk tidak terlalu dekat dengan Ayahnya. Suami pun saya minta untuk tidur terpisah. Hanya sebagai langkah awal saja.

Tiga hari kemudian, mendapat kabar bahwa salah seorang temannya harus dilarikan ke Rumah Sakit karena sesak nafas. Esok harinya, terkonfirmasi bahwa temannya positif Covid-19. Jauh sebelumnya, saya berulang kali mengajak suami untuk periksa antigen. Hanya untuk menyakinkan bahwa baik-baik saja dan supaya tidak menjadi kepikiran penyebab demamnya. Beliau keukeuh tidak mau karena takut. Sampai dia terima berita tentang temannya.

Sore harinya, saya minta dia bulatkan tekad untuk periksa antigen. Berulang kali menyakinkan bahwa saya siap dengan apapun yang terjadi. Just in case, salah satu diantara kami positif. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, saya siap, begitu kata saya, menyakinkannya. Pergilah kami ke klinik terdekat untuk ambil sample hidung.

Setelah mendaftarkan diri, sample pun diambil. Dia berkeluh, rasanya panas. Pikiran dia sudah kemana-mana. Suami memang sedikit punya anxiety. 20 menit kemudian, perawat kembali membawa hasil. Sebelum menyodorkan hasil, suami diminta nomor handphone. Ada yang nggak beres nih, batin saya. Benar saja, perawat bilang bahwa hasil antigen suami positif remang. Dia meminta nomor handphone untuk keperluan hasilnya akan dikonsulkan ke Dinas Kesehatan setempat. Deg! Sigap saya minta Mbak Perawat untuk simpan nomor saya dan memintanya untuk menghubungi saya aja. Saya take-over berita yang nanti harus diterima suami supaya suami tidak cemas berlebihan.

Remang

Keluar dari klinik, suami cemas. Tangannya dingin dan mulai gugup. Berbagai pertanyaan bagaimana mulai keluar. Dengan santai, mulut saya bisa berucap, tenang, tenang. Saya boncengin dia selama jalan pulang. Kamu nggak takut sama aku?, tanyanya. Nggak, lah, jawab saya. Mau ketawa sama pertanyaan itu kok rasanya nggak punya empati sama suami. Hahaha.

Sesampai masuk rumah, kami terduduk bingung. Beradu tentang siapa yang harus menyampaikan ke orangtua tentang hasil ini. Kemudian saya mulai kepikiran Marwa. Nggak bisa untuk tenang, ya, ternyata. Air mata saya pecah. Suami bilang, jangan nangis, aku bingung kalo kamu nangis. Waaa… tambah nangis deh. Konfirmasi dari Mbak Perawat masuk ke handphone saya. Suami diminta untuk ambil sample PCR guna meneguhkan hasil antigen positif remang. Saya istighfar. Menenangkan diri. Menangis nggak akan ada gunanya. Harus mulai memikirkan langkah apa yang saya ambil selanjutnya.

Kami masih beradu tentang siapa yang memberitahukan hasil ke orangtua. Saya minta suami yang memberitahu. Sementara saya inisiatif untuk cek diri saya sendiri. Jika memang saya positif, saya punya rujukan untuk minta PCR bareng suami esok hari, pikir saya. Saya minta tolong ke Adik untuk menjaga Marwa.

Saya kembali ke klinik dan ditanya Mbak Perawat minta antigen untuk keperluan apa. Saya sampaikan bahwa saya tadi sudah kesini untuk antar suami, saya juga mau cek mandiri. Dag-dig-dug lagi. Lima belas menit menunggu, Mbak Perawat membawa hasil antigen saya. Alhamdulillah, saya negatif. Saya diminta untuk periksa kembali test-pack antigen untuk dibandingkan hasilnya dengan suami yang remang. Saya pulang dengan perasaan lega dan lebih tenang. Bisa fokus untuk merawat suami dan mengatur ritme untuk Marwa.

Perawatan Isolasi Mandiri di Rumah

Colorful Paint Strokes Jazz Music Poster

Perawatan diatas adalah yang saya lakukan selama mendampingi suami. Kelihatannya sepele, ya? Tapi, serius, deh, ini sangat melelahkan fisik. Makanya, pikiran harus dibikin se-enjoy mungkin supaya nggak ikutan capek yang nanti bisa menurunkan imunitas.

Hamdalah. Setelah kurang lebih 14 hari menjalani ritme perawatan seperti itu, tanpa ada keluhan dan gejala lagi, suami memberikan kabar ke kantor sekaligus konfirmasi apakah Ia diperbolehkan masuk kembali? Atasannya memperbolehkan tanpa tes antigen lagi. Hamdalah.

Oh iya, atas kebijakan kantor saya juga, selama suami menjalani karantina, saya juga minta karantina ke kantor saya dan diijinkan. Suami mulai bekerja lagi, saya juga bekerja lagi. Hari pertama masuk kerja kembali, saya mendapat giliran vaksin. Hamdalah, saya dapat vaksin. Ini sangat menenangkan buat saya pribadi. Meskipun protokol kesehatan tetap dijalankan, setidaknya beban takut dan khawatir agak berkurang. Sehingga perasaan percaya diri dan optimistis bisa terbangun.

Saya berdoa, cukup sekali ini sajalah ada anggota keluarga yang harus karantina karena Covid-19. Kami lebih pilih berkumpul dan bercanda hangat dengan keluarga, bukan begitu?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.