Cerita Lolos CPNS Pemerintah Kota

Sampai aku menulis postingan ini, rasanya seperti mimpi, masih belum percaya diri kayak orang-orang yang bangga update status segala prosesnya. Jadi, aku memutuskan menulis di blog ini sebagai jejak. Bahwa aku pernah seperti orang-orang, mengikuti euforia memakai baju hitam putih. Kejutannya, ini adalah pengalaman pertamaku. Dan, percobaan pertama ini membuahkan hasil yang luar biasa. Speechless!

Inget banget waktu itu alasanku pengen nyoba adalah iseng, pengen tau rasanya. Ngobrol sama suami, yang sudah beberapa kali nyoba. Jawabannya, cobain aja, biar kamu tau rasanya. Ngobrol lagi sama sahabat, yang sudah berkali-kali nyoba. Jawabannya, sama, cobain aja, biar tau euforianya seperti apa. Meskipun iseng, tapi aku sadar diri sama kemampuan. Haha. Aku nggak mau nyobain yang muluk-muluk macam Kementerian ini itu. Dah ah, yang dekat aja. Kota tempat suami kerja. Siapa tau rejeki kita biar bisa bareng-bareng, doi nggak perlu capek-capek menempuh jarak pulang-pergi 70km. Bismillah, baca-baca formasi yang dibutuhkan Pemerintah Kota Blitar.

Seperti yang kita sama-sama tahu, proses pertama yang harus dilalui untuk mengikuti Seleksi CPNS adalah seleksi administrasi. Bikin akun di SSCN, memilih formasi dan siapkan segala berkasnya berupa soft file. Setelah bikin akun, kan diminta foto pegang formulir pendaftaran. Masih inget, foto pegang formulir pendaftaran itu dirumah sahabat yang aku minta pertimbangan, yang fotoin juga dia. Dengan muka agak bengkak mata karena seingatku malamnya aku nangis. Hahaha.

Seleksi Kompetensi Dasar

Percobaan pertama, lolos seleksi administrasi. Dan, dijadwalkan untuk ikut SKD. Widiiih… Ngerjain soal-soal nih. Excited! Karena waktu itu kerjaan lagi monoton, jadi aku semacam butuh tantangan gitu. Di Instagram, Youtube, banyak banget yang bahas soal SKD. Sebagai orang yang nggak punya pengalaman, aku blank soal-soal SKD itu apa. Diskusinya sama suami dan sahabatku itu, perlu belajar nggak? Apa yang dipelajari? Suami belajar dari Youtube, begitupun sahabatku ikut-ikut tryout. Aku? Lempeng aja, iya-iya aja, ntar deh ntar deh. Mikirnya saat itu, alah percobaan pertama, nggak berharap apa-apa. Malam sebelum ujian SKD, aku pinjam bukunya adikku yang kebetulan juga ikut CPNS. Baca-baca seputar deret angka, logika, sama pdf butir-butir pancasila. Sisanya, mengandalkan kemampuan sendiri. Nggak menaruh harapan Passing Grade atau apalah.

Teman-temanku lain yang juga ikut dan sudah duluan SKD, saling share score mereka. Oo…gitu ngitungnya, passing grade itu rata-rata segitu. Baiklah. Kerjain sesuai kemampuan aja. Dan ternyata, score SKD ku 374. Dengan rincian TWK 105, TIU 125, TKP 144. Passing grade dong. Waktu ngobrol sama orang selagi istirahat, ditanya, score berapa, Mbak? Setelah kujawab, beliau komentar, wah tinggi banget itu, Mbak. Ya aku lapor sama suami dan sahabatku score itu. Malah dikata-katain, katanya aku gila. Hahaha.

Dari pengalaman SKD ini bisa kubilang ini tentang kemampuan sehari-hari. Kok bisa ngerjain dengan bekal minim, mungkin karena aku rajin baca dan nulis. Nggak harus baca buku, baca apa aja. Berita, artikel, komentar sosial media dan banyak-banyak kontemplasi dengan menulis. Bahkan, aku akui, ada beberapa soal yang aku jawab ngawur karena waktu sudah mepet. Nggak semua dikerjain dengan serius. TWK adalah tentang wawasan kebangsaan, banyak-banyak baca isu-isu negara dan bangsa. TKP adalah tentang kepribadian, yang ini bisa didukung dari pengalaman-pengalaman hidup. TIU adalah intelegensia, belajar ini bisa dari seringnya mengerjakan soal-soal. Jangan berharap tips dan trik, ya!

Seleksi Kompetensi Bidang

Dari score yang ternyata gila tadi, ternyata aku lolos ke SKB dengan posisi peringkat 3. Apa yang pertama kali ku rasakan? Bingung dan shock. Banyak loh loh loh apa-apaan ini yaa Gusti Allah? Apa nih yang sedang Engkau siapkan, Engkau tau bahwa isi hatiku tidak berharap kan yaa Gusti? Banyak pertanyaan mengapa mengapa mengapa? Sampe nangis-nangis. Kupikir, aku sudah cukup di SKD dengan score 374. Mengingat, pesaing segitu banyaknya. Aku cukup dengan euforianya. Balik kerja lagi aja dengan jurnal debit kredit.

Setelah mendapat pengumuman berhak ke SKB, aku memutuskan untuk rajin berdoa dan belajar. Kemudian, pandemi boom! Jadwal untuk kapan SKB tidak kunjung keluar untuk berbulan-bulan. Selama itu, aku nggak putus berdoa, doa dan doa. Mikirku saat itu, Tuhan nggak main-main nih sampe kasih kesempatan aku untuk SKB. Mengingat, banyak orang berharap bisa sampai ke tahap ini. Ditambah, ini percobaan pertamaku, tapi Tuhan kasih jalan semulus ini. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

Bener-bener setelah itu aku mengetuk pintu rahmat Tuhan dengan keyakinan penuh. Menggedor pintu deh, tepatnya. Aku doa dengan sangat spesifik dan berulang-ulang. Kenapa aku memilih kota ini, kenapa aku pilih formasi ini, kenapa aku pilih penempatan ini. Semua punya alasan yang aku ceritakan ke Tuhan. Meskipun tidak menaruh harapan apa-apa, tapi aku memilih formasi dengan teliti. Ya, kalau jalanku, jangan sampai jalan yang salah pilih. Jika bukan jalanku, ya berarti rejekiku bukan disitu.

Sejujurnya, aku memang tidak memiliki cita-cita untuk jadi ASN. Sejak awal, niatku adalah merasakan euforia seperti teman-temanku. Tapi, aku memilih Kota Blitar bukan tanpa alasan. Alasannya, suami kerja disana, aku berharap kita bisa sama-sama bertiga. Karena diijinkan lolos ke SKB, aku berdoa, berharap dapat kesempatan bisa mengabdi di kota yang sama dengan suami, tidak hanya sebagai individu tapi juga sebagai keluarga. Untuk formasi, karena ijazah aku memang Ekonomi, yang alhamdulillah sejauh ini aku makin klik dengan dunia Ekonomi, jadi formasinya ya seputar keahlian Ekonomi. Bagaimana dengan penempatan? Ini yang bikin aku semangat dan menaruh harapan seperti Kota Blitar. Aku memilih Instansi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Semoga bisa menimba ilmu dan berkontribusi di Dinas ini.

Kalo kalian sering baca blog ini, pasti aku sering banget cerita tentang perempuan, kan?

Hampir 7 bulan menunggu jadwal SKB keluar. Sebelum jadwal keluar, aku cuma mengandalkan doa, doa dan doa. Setelah jadwal keluar, aku mulai niat belajar. Ya Tuhan, tinggal satu step menentukan, apa benar aku layak jadi abdi negara? Sempat buka-buka buku kuliah, tapi jaman digital ini sangat memudahkan. BKN mengeluarkan kisi-kisi untuk beberapa formasi. Pinter-pinter pilih rumpun. Banyak juga yang share field report.

Gimana cara belajarku? Aku siapin buku tulis khusus untuk mencatat. Aku meringkas kisi-kisi dari BKN. Soal dari field report aku kerjakan di buku tulis itu. Aku ngerjain di tengah-tengah kerja karena sambil browsing. Sebelum tidur, sempetin baca ulang dikit-dikit. Begitu terus, setiap ada update field report, aku juga update catatanku.

The day is coming! Suami tanya, gimana perasaanku? Lumayan dag dig dug tapi 80% biasa. Biasa, kalopun belum rejeki ya balik jadi accounting. Hahaha. Bahkan, aku siapin beberapa project-project dengan tujuan kalo aku nggak lolos, aku tau apa yang harus aku lakukan. Berharap, tapi tidak menggebu, gimana sih namanya. Pokoknya, bikin pikiran ini sedang dan seimbang.

Dengan protokol kesehatan yang ketat, siang dengan gerimis aku pergi untuk SKB. Daaan… Pengen misuh aku sama soal-soalnya. Hahaha. Ini soal apaan sih?! Iya, sama kok dengan field report. Tapi, pilihan jawabannya itu lhooo~ Berasa dikerjain aku! Hahaha. Pilihan jawabannya itu mirip-mirip, guys, bahkan rasanya semua benar. Menurut aku, SKB bukan ujian kompetensi, tapi ujian keberuntungan. Wkakaka~ Sampai sekarang, aku penasaran sama kunci jawaban soal SKB, apakah ada?

Hasilnyaaa… Tau kan, ya, kalo SKB itu score-nya ditayangin live di Youtube. Saat itu score-ku dipantau sama sahabatku. Sebelumnya, aku udah kirim nama dan score pesaingku. Biar begitu selesai, bisa dibantu hitung. Tepat ketika aku ambil tas di penitipan, aku sudah di WA. Sahabatku bilang, Proud of you! Semoga itunganku nggak salah. Suwun wes gae aku ndredeg. Congrats! Badanku langsung lemes dan dingin. Apaan nih?! Ditelepon lah sama suami. Gimana rasanya ngerjain soal? Aku bilang, laper. Yaudah cepet pulang, cepet makan, katanya.

Jadi, score SKB ku adalah 265, tertinggi dibanding dua pesaingku. Berapa score pesaingku? 260 dan 255. Tipis bangetngetnget, kan? Kami bertiga cuma selisih salah di satu soal. Bahkan, dengan pemilik score 260 itu selama live kita atas bawah. Sahabatku yang mantengin score ikut deg-deg an. Hahaha.

Bagaimana kemudian? Aku menenangkan diri dengan berdoa. Aku masih diselimuti shock dan hilang nafsu makan. Suamiku ternyata nggak paham, kalo SKB ini aku peringkat satu. Doi nawarin beliin laptop buat menghibur diri. Yha, aku bingung. Menghibur diri gimana maksudnya?! Aku peringkat satu lhoh! Kata suami, lhoh, bukannya koma kamu paling kecil? Yha, desimal depannya tertinggi. Masa’ sih? Yaudah, tunggu pengumuman resmi aja kalo belum percaya. Akupun belum sepenuhnya percaya.

Tidak ada tips dan trik di postingan ini, murni curhat dan meninggalkan jejak aja tentang kejutan Gusti Allah ini. Kalopun ditanya tentang tips dan trik, banyak berdoa aja, mendekatkan diri sama Maha Berkehendak. Percaya aja bahwa rencana-Nya adalah yang terbaik.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.